Petani Cengkih Ingin Kemarau Panjang

Wakinem menunjukan pohon cengkih di halam rumahnya di Dusun Prangkokan, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Sabtu (26/1).-Harian Jogja - Fahmi Ahmad Burhan
28 Januari 2019 19:00 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Petani cengkih di kaki Pegunungan Menoreh berharap tahun ini ada kemarau panjang agar tanaman cengkih mereka bisa menghasilkan panen yang menggembirakan.

Petani di Dusun Prangkokan, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Wakinem, mengatakan sudah enam tahun lalu dia tidak memanen cengkih. Dirinya memperkirakan tahun ini akan ada panen karena siklus panen cengkih memiliki rentang waktu sekitar lima tahun sekali.

Biasanya cengkih dipanen pada Agustus, pada saat musim kemarau. Di saat musim hujan, tanaman cengkih berbuah kemudian buah-buah itu akan rontok pada saat kemarau. “Cuma memang butuh kemarau panjang agar hasil panen menggembirakan. Harga cengkih Menoreh cukup tinggi,” ungkapnya kepada Harian Jogja, Sabtu (26/1/2019).

Wakinem mengaku mempunyai pohon cengkih sekitar 100 pohon. Dalam satu pohonnya bisa menghasilkan 10 kilogram cengkih. Lalu, satu kilogramnya, harga paling tinggi cengkih bisa sampai Rp100.000 dalam kondisi kering.

Dia biasanya menjual cengkih tersebut ke pasar di Kecamatan Girimulyo. Selain itu, ada juga beberapa pembeli yang langsung mendatanginya ketika panen tiba. Mengingat jangka waktu panen cengkih cukup lama, maka ia menyelingi dengan tumbuhan lain seperti pohon sengon yang bisa panen cukup singkat.

Petani lain di Dusun Prangkokan, Sujirah, mengatakan rata-rata pohon-pohon cengkih di kaki pegunungan Menoreh sudah lama ditanam. Di antara pohon-pohon itu, bahkan sudah ada yang ditanam sejak 20 tahun lalu.

Dia memperkirakan musim tanam cengkih akan masuk pada tahun ini. Biasanya panen cengkih akan secara bersama-sama di satu wilayah tertentu seperti di Desa Purwosari tersebut.