Bantul Jadi Prioritas Penanganan Stunting Secara Nasional

Petugas dari Persatuan Ahli Gizi Bantul (kiri) sedang memeriksa kondisi kesehatan anak dalam acara Semarak Hari Gizi Nasional di Balai Desa Sumberagung, Jetis, Bantul, Senin (28/1/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin.
29 Januari 2019 13:37 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Bantul tahun ini menjadi salah satu dari 160 kabupaten dan kota se-Indonesia yang menjadi perioritas penanggulangan stunting tahap dua dari Kementerian Kesehatan. Sebab angka stunting di Bantul masih di atas angka 20% atau tepatnya 22,89%.

Angka stunting di Bantul ini juga urutan kedua terbanyak di DIY setelah Gunungkidul sebanyak 31%. Sementara urutan ketiga sampai lima secara berurutan, yakni Kulonprogo 22,65%, Kota Jogja 16,93% dan Sleman 14,7%.

Stunting merupakan kondisi anak yang tidak tumbuh secara optimal dan biasanya ditandai dengan tinggi badan yang tidak sebanding dengan usia."Penyebabnya kekurangan asupan izi kronis, biasanya pola maka ibu hamil kurang bagus, dan anemia yan berpotensi anak berat lahir rendah," kata Kepala Seski Kesehatan Keluarga dan Gizi, Dinas Kesehatan Bantul, Anugrah Wiendyasari, seusai menghadiri Peringatan Hari Gizi Nasional di Balai Desa Sumberagun, Jetis, Senin (28/1/2019).

Acara semarak Hari Gizi Nasional membanun gizi menuju bangsa berprestasi yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Cabang Persatuan Ahli Gizi (Persagi) Bantul itu juga dihadiri oleh Bupati Bantul Suharsono, Kepala Dinas Kesehatan Bantul Maya Sintowati Supandji, Camat Jetis Saryadi, dan sejumlah direktur rumah sakit di Bantul.

Anugrah Wiendyasari mengatakan angka prevalensi stunting 22,89% itu merupakan angka Riset Kesehatan Dasar (Rieskesda) Kementerian Kesehatan yang dilakukan secara sampel. Total ada 164 sampel di Bantul dari 731 sampel se-DIY. Sampel melibatkan bayi dan anak. Riset dilakukan oleh para ahli gizi.

Sementara Persagi Bantul dan Dinas Kesehatan Bantul juga memiliki data stunting sendiri berdasarkan laporan dari kader di tiap desa yang dilakukan pada Februari-Agustus 2018. Angkanya mencapai sekitar 9,7% dari total 57.606 bayi dan anak atau sekitar 4.733 orang.

Namun demikian data tersebut diakui Anugran belum bisa dikatakan data pasti karena bisa saja saat pengukuran atau penimbangan bayi dan anak belum sesuai, "Bisa jadi saat pengukuran anak rewel [anka penukuran berubah] jadi data ini bukan data stunting absolut," ucap Anurah.

Ketua Panitia Semarak Hari Gizi Nasional Bantul ke-59, Nanik Tejowati mengatakan fokus penanganan stunting secara nasional di Bantul tahun ini menyasar 10 desa. Tiga desa di antaranya di wilayah Keamatan Jetis, yakni Desa Patalan, Canden, dan Srimulyo.

DPC Persagi Bantul mengelar bakti sosial di tiga desa di Kecamatan Jetis berupa konseling, senam, dan pelatihan penanganan stunting dengan menghadirkan doktor ahli gizi dan spesialis anak. Sasarannya adalah balita pendek, ibu hamil, remaja, dan kader dari 10 desa yang menjadi sasaran penananan stunting.

Penceahan stuntin difokuskan pada pendampingan 1000 hari pertama kehidupan anak sejak dalam kandungan hinga usia dua tahun. Masa-masa tersebut merupakan masa emas pertumbuhan anak sehingga perlu dipantau perkembanannya. "Ibu hamil harus dipenuhi gizinya, dipantau perkembanannya, karena kekurangan gizi beresiko bayi lahir stunting," kata Nanik.

Bupati Bantul Suharsono mengatakan permasalahan stunting tidak bisa hanya diselesaikan melalui program gizi, namun perlu terintegrasi dengan program lainnya, terkait lingkungan, akses air bersih, kesejahteraan keluarga, dan juga tingkat pendidikan. Upaya bersama berbagai pemangku kepentingan perlu terus dilakukan.

"Stunting dan masalah gizi merupakan ancaman besar negara karena dapat berdampak pada menurunnya kualitas sumber daya manusia ke depannya," kata Suharsono.