Obrolan Harian Jogja Bersama Pengelola @merapi_news: Sempat Tergoda Jual Akun Rp100 Juta

Totok Haryanto, pengelola akun Twitter merapi_news. - Harian Jogja/Yogi Anugrah
12 Februari 2019 12:25 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Banyak akun di media sosial yang rutin memberikan informasi mengenai Merapi, salah satunya adalah akun media sosial @merapi_news yang mengemas kabar dengan santai dan diselingi guyonan. Berikut Laporan wartawan harianjogja.com Yogi Anugrah

Luncuran awan panas di Merapi meskipun jaraknya tidak terlalu jauh tetapi berpotensi hujan abu. Sudah tau kan, seandainya hujan abu apa yang harus kita lakukan? Hujan abu berbeda dengan hujan kenangan lho dik.

Kalimat di atas adalah satu kicauan akun Twitter @merapi_news. Beberapa hari lalu Gunung Merapi mengeluarkan awan panas atau wedhus gembel. Linimasa Twitter @merapi_news tidak hanya berisi seputar informasi Merapi, atau bencana lainnya. Acap kali, akun dengan pengikut 61.200 ini juga membuat kicauan-kicauan yang bernuansa lucu, galau, hingga romantis.

Hampir sembilan tahun akun @merapi_news memberikan informasi seputar Merapi. Selama itu pula tidak banyak orang yang mengetahui sosok admin di balik akun tersebut.

“Bahkan pernah, ayah saya mengirim pesan mengajak bertemu. Dia tidak tahu kalau yang mengelola akun adalah saya,” kata Totok Haryanto, Kepala Dusun Srodokan Gungan, Wukirsari, Cangkringan, pengelola @merapi_news, saat berbincang dengan harianjogja.com, Jumat (8/2/2019).

Baru satu tahun belakangan pria yang karib disapa Sondong ini membuka jati dirinya sebagai orang di balik akun pemberi kabar Merapi itu.

“Banyak yang kaget, tetapi juga mendukung karena akun @merapi_news juga sering mengangkat tentang potensi desa di sekitar Merapi,” ujar dia.

Sondong punya alasan memilih untuk menjadi anonim selama bertahun-tahun. Akun @merapi_news tak hanya dibuat sebagai pemberi kabar, tetapi salah satu media yang mengkritik akun-akun pelat merah.

“Misalnya akun BPBD, untuk di Twitter mereka jarang aktif mengunggah seputar aktivitas Merapi terkini, lebih aktif di Whatsapp. Padahal masyarakat luar juga butuh informasi. Beruntung BPPTKG masih sering update.”

Sondong sengaja menyelipkan kata-kata guyonan agar pesan yang dia kirimkan gampang ditangkap.

“Itu strategi saya, agar dibaca orang-orang dan terjadi interaksi, linimasa Twitter juga harus dihiasi dengan yang santai-santai.”

Awal Kelahiran

Sembilan tahun silam, setelah Merapi meletup, rumah Sondong luluh lantak dimakan wedhus gembel. Itu adalah bencana memilukan. Sedikitnya 300 orang meninggal dunia. Permukiman kaki Merapi di empat kabupaten: Magelang, Boyolali, Klaten, dan Sleman, berantakan.

Erupsi juga sangat mencemaskan. Informasi masih terbatas. Ketika Merapi aktif-aktifnya, banyak teman, kerabat, dan handai taulan selalu bertanya kepada Sodong tentang keadaan dan situasi di sekitar gunung.

“Tahun segitu, kalau saya japri satu-satu sulit, apalagi waktu itu tarif SMS masih mahal,” kata Sondong.

Berbekal akun komunitas bernama Pasak Merapi, pada 2011, Sondong mulai aktif di Facebook untuk memberi kabar mengenai masyarakat dan situasi terkini di sekitar Merapi. Sayangnya, Akun Facebook tersebut dibajak orang.

Sondong hijrah ke Twitter dan memakai nama akun @merapi_news. Saat itu, media sosial berlambang burung dengan maksimal 140 karakter itu belumlah familier seperti saat ini.  Sondong merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan informasi kepada masyarakat seputar kondisi Merapi.

“Saat Instagram sudah mulai familier, saya juga membuat akun Instagram, untuk mewadahi para kawula muda,” ujar dia.

Ancaman & Godaan

Mengelola akun Twitter dengan pengikut 62.000 dan Instagram dengan 140.000 pengikut tentu tidak mudah. Ia pernah mendapat perundungan saat @merapi_news mengunggah kecelakaan jip Merapi. Saat itu, kotak pesannya dibanjiri protes dari anhgota komunitas jip yang memintanya menghapus postingan tersebut.

“Tujuan saya mem-posting hal tersebut adalah agar mereka berbenah meningkatkan standar keamanan, tetapi malah dikiran memperburuk citra mereka,” ucap Sondong.

Perundungan tersebut membuatnya tidak bisa tidur.

“Saya takut tiba-tiba dicegat di tengah jalan.”

Namun, Sondong tetap memegang prinsip. Informasi yang benar harus disampaikan. Kegigihan itu terbayar. Belum lama ini, ia mendapat tantangan yang juga membuatnya susah tidur, tetapi kali ini karena kegirangan, bukan ketakutan.

Akun @merapi-news ditawar seseorang yang ingin membelinya Rp100 juta. Sondong sempat tergiur.

“Kapan lagi dapat uang Rp100 juta?”

Sodong bergeming. Tawaran tersebut dia tampik.

“Saya takut takut disalahgunakan, apalagi di musim pemilu seperti ini,” kata pria berusia 36 tahun itu.

Sondong menerima beberapa paid promote untuk memberinya biaya operasional mengelola @merapi_news. Namun, ia selektif dalam memilih, sebab tujuan utamanya akun tersebut adalah untuk memberikan informasi.

Sumber Informasi

Sebelum menjadi admin Twitter dan Instagram @merapi_news, Sondong adalah sukarelawan pengurangan risiko bencana. Dia sudah mempunyai simpul-simpul informasi di sekeliling Merapi yang membekalinya pengetahuan tentang situasi Merapi paling gres.

Tidak hanya itu, Sondong juga menjalin relasi dengan orang-orang di instansi pemerintah, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hingga Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan dan Geologi (BPPTKG).

Meski memiliki modal lebih untuk menyebarluaskan informasi seputar Merapi, Sondong tidak mau grusa-grusu. Dia selalu menunggu BPPTKG membuat keterangan resmi terlebih dahulu.

“Prinsip saya tidak  hanya cepat, tetapi juga akurat,” ujar dia.

Sondong membagi waktu dengan mem-posting di Instagram setiap lima jam sekali. Di Twitter, ia menggunakan schedule tweet, yaitu, membuat konten sebanyak-banyaknya dan yang akan otomatis terunggah di waktu tertentu. “Namun jika terjadi sesuatu yang mendesak, saya akan aktif 24 jam.”