Bos Summarecon Diduga Beri Rp1,5 Miliar untuk Urus SHGB
KPK mengungkap dugaan pemberian Rp1,5 miliar dari Bos Summarecon untuk pembukaan blokir dan pemecahan SHGB di Kabupaten Bogor.
Lubang di Kali Kuning, Kalasan, Sleman./Harian Jogja-Yogi Anugrah
Harianjogja.com, JOGJA - Lubang di tengah Kali Kuning di Kalasan, Sleman dipastikan bukan sinkhole. Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwonugroho mengatakan lubang tersebut menganga karena kebocoran cekdam.
"Sudah tertangani. Air yang masuk ke dalam tanah di saluran irigasi atau sungai disebabkan adanya kebocoran di cekdam tua di Sleman. Bukan karena sinkhole karena bukan daerah karts. Adanya lubang bocor di sisi cekdam menyebabkan aliran lewat lubang tersebut," tulis Sutopo di alun twitternya.
Sinkhole adalah lubang runtuhan akibat depresi alami atau lubang dalam topografi permukaan yang muncul akibat hilangnya lapisan tanah atau bantalan batuan, atau keduanya yang umumnya terjadi akibat aliran air di bawah tanah.
Lubang runtuhan akibat sinkhole memiliki ukuran yang bervariasi dari kurang dari satu meter sampai ratusan meter dalam diameter dan kedalamannya, dan juga tidak bergantung dari jenis lapisan tanah dan bantalan batuan di atasnya. Pembentukan lubang runtuhan ini dapat terjadi berangsur-angsur atau secara mendadak, berbeda-beda, ditemukan di berbagai tempat di dunia.
Sudah tertangani. Air yang masuk ke dalam tanah di saluran irigasi/sungai disebabkan adanya kebocoran di cekdam tua di Sleman. Bukan karena sinkhole karena bukan daerah karts. Adanya lubang bocor di sisi cekdam menyebabkan aliran lewat lubang tersebut. pic.twitter.com/dGHhGIyO0G
— Sutopo Purwo Nugroho (@Sutopo_PN) February 11, 2019
Penjelasan BNPB melalului Sutopo membuat informasi menjadi lebih terang dan warga tidak perlu waswas.
Beberapa hari belakangan ini, sebuah video yang merekam peristiwa air sungai Kali Kuning di wilayah Selomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman tersedot ke sebuah lubang cukup besar yang berada di tengah aliran sungai, viral di media sosial dan whatsapp grup. Kejadian tersebut menghebohkan warga sekitar.
Kepala Dusun Sambirejo, Giyanto, mengatakan aliran Kali Kuning tersedot lubang pada Jumat (8/2/2019) sekitar pukul 11.00 WIB. Menurutnya hal tersebut dikarenakan derasnya debit air yang terjadi beberapa hari ini akibat musim hujan.
"Itu sebenarnya memang ada lubang kecil awalnya, kejadian ini juga sudah pernah terjadi sekali beberapa waktu lalu. Warga kemudian menangkal dengan bambu, karung, pasir untuk menutupnya, namun yang ini debit airnya terlalu banyak dan jebol lagi," kata dia, Minggu (10/2/2019).
Kejadian tersebut, kata dia, sempat menghebohkan warga dan membuat beberapa warga saling menyalahkan.
"Jadi tidak perlu saling menyalahkan, ini kan sebenarnya memang bangunan lama," ucap dia.
Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman, Akhmad Subhan saat ditemui di lokasi mengatakan peristiwa itu dipicu faktor alam. Derasnya aliran air disertai material pasir dari wilayah hulu menggerus dasar sungai menjadi sebuah lubang yang tepat berada di sisi utara bendungan air.
"Diduga kuat karena faktor cuaca ekstrem, saat hujan, aliran air deras dan membawa pasir. Air itu lalu menggerus dasar sungai karena bendungan tertutup, air mencari jalan sendiri untuk mengalir ke bawah dan membuat lubang berukuran diameter sekitar 4x3 meter dengan kedalaman sekitar 2 meter," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPK mengungkap dugaan pemberian Rp1,5 miliar dari Bos Summarecon untuk pembukaan blokir dan pemecahan SHGB di Kabupaten Bogor.
Danantara dinilai bisa menjadi alternatif pembiayaan LRT Jakarta sekaligus membantu menjaga ruang fiskal DKI Jakarta.
Anggaran MBG terserap Rp139,77 triliun hingga 16 September 2026. BGN masih memiliki sekitar Rp79 triliun untuk penyaluran hingga akhir tahun.
Veda Ega Pratama melesat dari P19 ke P4 di Moto3 Austria 2026 sebelum terkena double Long Lap Penalty dan finis P13.
NTP nasional mencapai rekor 129,19 pada Agustus 2026, naik 1,05% dari Juli. Pemerintah juga menekan biaya pupuk dan menjamin harga gabah.
PLN mendapat penugasan mengembangkan WKP Ungaran hingga 55 MW. Proyek masih dalam tahap studi dengan kajian lingkungan dan sosial.