Lubang di Kali Kuning Kalasan Diketahui Penyebabnya, Ini Penjelasan BNPB

Lubang di Kali Kuning, Kalasan, Sleman. - Harian Jogja/Yogi Anugrah
12 Februari 2019 12:40 WIB Saeno & Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Lubang di tengah Kali Kuning di Kalasan, Sleman dipastikan bukan sinkhole. Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwonugroho mengatakan lubang tersebut menganga karena kebocoran cekdam.

"Sudah tertangani. Air yang masuk ke dalam tanah di saluran irigasi atau sungai disebabkan adanya kebocoran di cekdam tua di Sleman. Bukan karena sinkhole karena bukan daerah karts. Adanya lubang bocor di sisi cekdam menyebabkan aliran lewat lubang tersebut," tulis Sutopo di alun twitternya.

Sinkhole adalah lubang runtuhan akibat depresi alami atau lubang dalam topografi permukaan yang muncul akibat hilangnya lapisan tanah atau bantalan batuan, atau keduanya yang umumnya terjadi akibat aliran air di bawah tanah.

Lubang runtuhan akibat sinkhole memiliki ukuran yang bervariasi dari kurang dari satu meter sampai ratusan meter dalam diameter dan kedalamannya, dan juga tidak bergantung dari jenis lapisan tanah dan bantalan batuan di atasnya. Pembentukan lubang runtuhan ini dapat terjadi berangsur-angsur atau secara mendadak, berbeda-beda, ditemukan di berbagai tempat di dunia.

Penjelasan BNPB melalului Sutopo membuat informasi menjadi lebih terang dan warga tidak perlu waswas.

Beberapa hari belakangan ini, sebuah video yang merekam peristiwa air sungai Kali Kuning di wilayah Selomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman tersedot ke sebuah lubang cukup besar yang berada di tengah aliran sungai, viral di media sosial dan whatsapp grup. Kejadian tersebut menghebohkan warga sekitar.

Kepala Dusun Sambirejo, Giyanto, mengatakan aliran Kali Kuning tersedot lubang pada Jumat (8/2/2019) sekitar pukul 11.00 WIB. Menurutnya hal tersebut dikarenakan derasnya debit air yang terjadi beberapa hari ini akibat musim hujan.

"Itu sebenarnya memang ada lubang kecil awalnya, kejadian ini juga sudah pernah terjadi sekali beberapa waktu lalu. Warga kemudian menangkal dengan bambu, karung, pasir untuk menutupnya, namun yang ini debit airnya terlalu banyak dan jebol lagi," kata dia, Minggu (10/2/2019).

Kejadian tersebut, kata dia, sempat menghebohkan warga dan membuat beberapa warga saling menyalahkan.

"Jadi tidak perlu saling menyalahkan, ini kan sebenarnya memang bangunan lama," ucap dia.

Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman, Akhmad Subhan saat ditemui di lokasi mengatakan peristiwa itu dipicu faktor alam. Derasnya aliran air disertai material pasir dari wilayah hulu menggerus dasar sungai menjadi sebuah lubang yang tepat berada di sisi utara bendungan air.

"Diduga kuat karena faktor cuaca ekstrem, saat hujan, aliran air deras dan membawa pasir. Air itu lalu menggerus dasar sungai karena bendungan tertutup, air mencari jalan sendiri untuk mengalir ke bawah dan membuat lubang berukuran diameter sekitar 4x3 meter dengan kedalaman sekitar 2 meter," kata dia.