Kuota Transmigrasi Belum Jelas, Gunungkidul Masih Menunggu Pusat
Pemkab Gunungkidul masih menunggu kepastian kuota transmigrasi 2026 dari pemerintah pusat untuk 15 keluarga calon transmigran.
Ilustrasi kondisi proyek pembangunan Taman Budaya Gunungkidul di Desa Logandeng, Kecamatan Playen, seperti terlihat beberapa waktu lalu. Tahap satu pembangunan fondasi untuk bangunan utama telah selesai dilakukan pada 2018./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, WONOSARI – Pemkab Gunungkidul memastikan bantuan keuangan khusus (BKK) sebesar Rp24,1 miliar tetap akan dicairkan di tahun 2019 ini. Namun demikian, proses pencairan masih menunggu pembahasan APBD 2019.
Sekretaris Daerah Gunungkidul, Drajad Ruswandono mengakui adanya desakan untuk mencairkan BKK di triwulan pertama 2019. Namun demikian, hal tersebut sulit direalisasikan karena plot anggaran yang dimiliki karena pelaksanaan bersamaan dengan program rutin milik OPD.
“Masalah ini sudah kami konsultasikan dengan provinsi dan disarankan agar pencairan dilakukan setelah pembahasan APBD Perubahan 2019,” katanya kepada wartawan, Jumat (15/2/2019).
Drajad menuturkan, pihaknya akan mengikuti saran dari provinsi. Terlebih lagi jika ngotot tetap dicairkan di triwulan pertama, maka sulit karena sesuai proyeksi pencairan akan menggunakan dana sisa lebih perhitungan anggaran (silpa) di 2018.
Ia menjelaskan, jika menggunakan silpa 2018, maka tidak mungkin dicairkan di triwulan pertama karena syarat penggunaan harus melalui proses audit BPK. “Jelas tidak bisa [kalau di triwulan pertama] karena hasil audit belum turun sehingga kami tidak berani menggunakannya,” tutur mantan Sekretaris DPRD DIY ini.
Menurut Drajad, pencairan BKK paling pas dicairkan setelah pembahasan APBD 2019. Hal ini juga memastikan bahwa BKK tetap dicairkan di tahun ini. “Progam BKK akan kami masukan dalam KUA PPAS Perubahan dan nanti dibahas dalam pembahasan APBD Perubahan. Setelah pembahasan selesai, maka dana bisa dicairkan,” ungkapnya.
Sebelumnya, Sekretaris Badan Keuangan dan Aset Daerah Gunungkidul, Putro Sapto Wahyono mengatakan, untuk tahun ini pemkab mengalokasikan dana BKK sebesar Rp24,1 miliar. Rencananya dana ini akan diberikan ke 144 desa di Gunungkidul. Adapun penggunaan, dana akan dimanfaatkan untuk bantuan dusun serta kegiatan infrastruktur di desa.
“Rincian alokasi sudah ada dan nominal yang diberikan di setiap desa berbeda karena disesuaikan dengan pengajuan yang dilakukan,” kata Putro.
Kepala Desa Pacarejo, Semanu, Suhadi mengatakan, untuk BKK desanya di tahun ini mendapatkan alokasi anggaran sebesar Rp855 juta. Rencananya anggaran ini digunakan beberapa kegiatan seperti bantuan ke dusun sebesar Rp7,5 juta, pembangunan jalan lingkungan hingga pembuatan jogging trek di kawasan Telaga Jonge. “Proses kegiatan yang didanai BKK kami masukan dalam program dalam APBDes 2019,” kata Suhadi.
Dia menambahkan, keberadaan dana BKK sangat membantu bagi desanya. Meski sudah ada dana desa dari pemerintah pusat dan alokasi dana desa dari kabupaten, namun keberadaannya belum bisa menyasar ke seluruh dusun di Pacarejo. “Wilayah kami sangat luas karena ada 28 dusun. Jadi dengan adanya BKK bisa membantu dalam proses pemerataan pembangunan di desa,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul masih menunggu kepastian kuota transmigrasi 2026 dari pemerintah pusat untuk 15 keluarga calon transmigran.
Pascal Wehrlein menang di Formula E Shanghai 2026. Kemenangan ke-10 musim ini, kukuhkan dominasi dan peluang juara dunia.
Dua bayi ditemukan di Solo dalam sehari, satu selamat di kereta, satu meninggal di selokan. Polisi lakukan penyelidikan.
Pemerintah susun Perpres perlindungan nakes usai kasus dr Icha, soroti intimidasi dan lemahnya sistem keamanan.
Usaha pigura di Sleman tertekan kenaikan harga kaca dan kayu, sementara penjualan turun hingga 50 persen akibat melemahnya daya beli.
Jadwal 16 besar Piala Dunia 2026: Kanada vs Maroko dan Paraguay vs Prancis, Minggu dini hari WIB. Simak jam tayang & siaran langsung.