Standar untuk Turis Asing Harus Diperhatikan

Puluhan perahu nelayan yang berjajar di pinggir Pantai Baron, Rabu (16/1/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
27 Februari 2019 22:15 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Upaya untuk memenuhi standar bagi wisatawan mancanegara (wisman) harus diperhatikan. Pasalnya, belum semua fasilitas yang ada di objek wisata di Gunungkidul sesuai dengan standar wisman.

Untuk diketahui, jumlah turis asing yang melancong ke Gunungkidul pada 2016 berjumlah 560 orang, pada 2017 berjumlah 1.883 orang, dan pada 2018 naik menjadi 2.071 orang. Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menetapkan target jumlah kunjungan wisman ke Indonesia sebanyak 20 juta wisman untuk menaikkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Jumlah wisman yang ditargetkan Pemkab Gunungkidul pada tahun ini sekitar 10% dari jumlah kunjungan wisman tahun sebelumnya.

Sekretaris Dinas Pariwisata (Dinpar) Gunungkidul, Harry Sukmono, mengatakan setiap wisman mempunyai cara pelayanan yang berbeda. Menurutnya, kebutuhan aksesbilitas dan amenitas setiap spot wisata yang ada di Gunungkidul harus disesuaikan. "Kami harus update sesuai dengan kebutuhan mereka," ujarnya, Rabu (27/2/2019).

Harry mengungkapkan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisman ke Gunungkidul Dinpar mengupayakan kerja sama dengan biro perjalanan luar negeri. Namun demikian, peningkatan kebutuhan sarana dan prasarana lainnya harus mendukung kedatangan wisman. "Misalnya dari jenis toilet bisa disiapkan yang modelnya duduk," ucap dia.

Ada karakter yang bisa dipenuhi, mulai dari akomodasi serta hotel yang menjadi preferensi setiap wisman. Target wisman tidak hanya yang middle low tetapi harus menyasar wisman kelas menengah ke atas atau middle up.

Disinggung soal kemampuan sumber daya manusia (SDM) khususnya kelompok sadar wisata dalam mempelajari bahasa Inggris, Harry menyatakan pengelola beberapa tempat wisata seperti Nglanggeran dan Gua Pindul sudah bisa memandu wisman dengan bahasa Inggris. Dinpar berharap agar wisman yang berwisata ke DIY dapat membelanjakan uangnya di Gunungkidul, tidak hanya di Kota Jogja seperti yang terjadi selama ini.

Kepala Bidang (Kabid) Pembangunan Bappeda Gunungkidul, Bambang Riyanto, menuturkan berbagai objek wisata yang ditawarkan di Bumi Handayani tidak kalah dengan objek wisata di Bali. Menurut dia ada yang menghambat dalam pengembangan pariwisata di Gunungkidul.

"Coba kalau dilihat pantai yang ada di sini tidak kalah bagus, kenapa Bali lebih terkenal karena kebetulan budaya mereka cocok dengan budaya wisman," kata dia, Rabu.

Namun bukan berarti pengelola objek wisata di Gunungkidul harus meniru pengembangan wisata seperti di Bali. Pemkab tetap ingin mengenalkan potensi wisata Bumi Handayani dengan kearifan lokal. "Tentunya dalam promosi wisata tidak bolek kehilangan akar budaya Jawa," kata dia.