Peminat Bahasa Tionghoa di Jogja Terus Bertumbuh

Sejumlah guru mengikuti diklat bahasa Tionghoa yang diselenggarakan di Kantor Paguyuban Bhakti Putera Jogja belum lama ini. - Ist./BKPBT DIY
28 Februari 2019 09:45 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Peminat bahasa Tionghoa dinilai meningkat. Antusiasme masyarakat untuk belajar bahasa tersebut semakin tinggi.

 Ketua Badan Koordinasi Pendidikan Bahasa Tionghoa DIY Jimmy Sutanto mengakui saat ini peminat bahasa Tionghoa semakin banyak. Untuk mempelajarinya, ada dua jalur melalui yakni Pendidikan Bahasa Tionghoa yang pelajarannya masuk kurikulum sekolah nasional. Ada juga jalur swasta.

 "Ada dua manfaat belajar bahasa Tionghoa yakni untuk memperluas cakrawala. Misalnya menjadi bisa mengakses peramban asal Tiongkok yang di dalamnya trsedia banyak informasi," kata dia ketika dihubungi Harian Jogja, Rabu (27/2).

 Manfaat kedua yakni di bidang pekerjaan. Jimmy mengatakan hubungan dagang Indonesia dengan Tiongkok makin luas. "Mereka sering butuh penerjemah ataupun karyawan tetap untuk perusahaan Tiongkok di Indonesia yang jumlahnya mencapai ratusan. Ini kesempatan kerja," kata dia.

 Jimmy berharap peminat Bahasa Tionghoa semakin banyak. Menurutnya, siapapun bisa belajar Bahasa Tionghoa baik dari kalangan muda maupun tua. Ia juga menyarankan agar pelajaran Bahasa Tionghoa dalam satu pekan baiknya ada empat jam pelajaran. "Kalau kurang, hasilnya akan kurang baik karena kalau jedanya lama bisa lupa. Kalau empat jam seminggu, kesinambungan akan kentara dan hasinya akan baik," ujar dia.

 Banyak Manfaat

Ketua Asosiasi Pendidik dan Pengembang Bahasa Mandarin DIY Lina Indahwati mengungkapkan saat ini semakin banyak sekolah yang mengajarkan bahasa Tionghoa sebagai salah satu mata pelajaran. Bahasa Tionghoa diajarkan mulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga SMA. Bahkan beberapa Bahasa Tionghoa juga diajarkan di tingkat universitas. "Peminatnya, semakin banyak yang ingin belajar Bahasa Tionghoa. Ini jadi suatu pilihan," kata dia ketika dihubungi Harian Jogja.

 Lina menyebutkan belajar bahasa Tionghoa membawa keuntungan sendiri. Misalnya saja memudahkan untuk mencari beasiswa ke Tiongkok. Di dunia kerja pun, keterampilan Bahasa Tionghoa semakin dibutuhkan. Banyaknya perusahaan yang bekerja sama dengan Tiongkok menuntut perusahaan memiliki karyawan yang andal berbahasa Tionghoa baik sebagai penerjemah ataupun staf yang langsung berhubungan dengan Tiongkok.

 Kepopuleran Bahasa Tionghoa dimulai sekitar 2002. Namun, animo masyarakat terpantau meningkat pada tiga hingga empat tahun ke belakang. Menurutnya, peningkatan minat itu sangat terasa. Masyarakat semakin mudah menemukan tempat-tempat untuk belajar dan semakin banyak sekolah yang mengajarkan Bahasa Tionghoa. "Pemicunya, salah satunya karena tenaga pendidik mulai banyak. Tempat bimbingan belajar juga banyak yang membuka kelas Bahasa Tionghoa," kata dia.

 Pihak asosiasi pun ikut aktif mengembangkan bahasa Tionghoa di DIY. Hal itu dilakukan melalui penyuluhan kepada guru sehingga kemampuan guru dalam mengajar Bahasa Tionghoa semakin baik.

"Melalui guru, kami masuk ke sekolah. Ada penawaran ke sekolah misalnya winter camp, summer camp di Tiongkok. Kami juga kerja sama dengan sekolah untuk pelatihan atau workshop. Ada juga lomba bahasa Tionghoa. Tiap tahun kami adakan lomba itu mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, dan universitas," ujar dia.