Advertisement
Manuskrip Kuna Kraton Jogja Terus Diburu
Sri Sultan HB X dalam International Symposium on Javanese Studies and Manuscripts of Kraton Yogyakarta. - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Upaya mengembalikan khazanah literatur (manuskrip) kuna yang dilakukan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tidak semudah membalikkan telapak tangan. Waktu, energi, lobi hingga kesabaran dihabiskan banyak untuk menunggu kembali kekayaan budaya milik kraton tersebut.
Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Kraton Ngayogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara sekaligus Ketua Panitia Mangayubagya 30 Tahun Masehi Sri Sultan HB X ini mengatakan jumlah pasti naskah kuno Keraton yang kini tengah diburu agar bisa kembali itu masih belum jelas. Pasalnya, dari sekitar tujuh kapal Inggris yang membawa ribuan manuskrip milik Keraton, salah satu kapal tenggelam.
Advertisement
Hanya saja, saat ini total ada 600 naskah kuno yang tersimpan di Kraton. Sebanyak 400 naskah berisi tentang pemerintahan berada di Perpustakaan Widyo Budoyo dan 200 naskah tentang kesenian di Perpustakaan Krido Mardowo Kraton. Manuskrip itu dikumpulkan dan disimpan di sebuah perpustakaan digital khusus manuskrip agar lebih mudah diakses masyarakat.
Meski begitu, katanya, tidak semua manuskrip dapat diakses masyarakat karena ada beberapa yang memang sifatnya rahasia dan hanya bisa diakses kalangan kraton. "Dari manusrkip kuno yang telah didigitalisasi itu, sebanyak kurang lebih 10 persennya akan dipamerkan dalam peringatan 30 tahun bertahtanya Sri Sultan HB X,” ujarnya, saat jumpa pers Internasional Symposium on Javanese Studies and Manuscripts of Keraton Yogyakarta di Hotel Royal Ambarukmo, Selasa (5/3/2019).
BACA JUGA
Ketua Pelaksana Simposium Internasional GKR Hayu mengatakan simposium tersebut juga membahas beberapa manuskrip yang digitalisasi. Misalnya manuskrip tentang Teaching of Hamengku Buwono (HB) I yang berisi tentang cara memimpin dan pelajaran-pelajaran yang diajarkan raja pertama Kraton Mataram tersebut. Naskah kuno tersebut selama ini hilang dan baru ditemukan di British Library di Inggris.
Dia berharap seluruh naskah keraton buang ada di Inggris bisa kembali semua. Dengan begitu, maka seluruh kekayaan dan khazanah keilmuan yang ditulis bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. "Yang dibahas dalam simposium tidak hanya babad, tetapi juga ada yang seni tari, gamelan, dan lainnya. Ada juga babad Ngayogyakarta. Dalam bentuk digitalnya nanti akan dipamerkan pada 7 Maret nanti," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Sindikat Oplos LPG Subsidi Terbongkar, Keuntungan Rp1,3 Miliar Perhari
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement






