Makna Podhang Ngisep Sari, Ikon Gunungkidul yang Berkibar saat HUT RI
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Harsito, petani asal Dusun Gebang, Kalitekuk, berusaha mendirikan tanaman padi yang roboh akibat terjangan banjir di Kali Oya, Kamis (7/3/2019). Banjir terjadi pada Rabu (6/3/2019) malam./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, NGAWEN—Hujan deras yang mengakibatkan banjir di Kali Oya mengancam pertanian milik warga. Para petani di sepanjang bantaran sungai cemas padi mereka akan puso karena sempat terendam air.
Salah seorang petani di Dusun Gebang, Kalitekuk, Semin, Harsito mengatakan hujan deras sepanjang Rabu (6/3/2019) mengakibatkan banjir di Kali Oya. Tanaman padi di pinggir kali pun terendam. “Hujannya deras. Jembatan Kalitetuk juga sempat terendam air dari luapan Kali Oya,” kata Harsito kepada wartawan, Kamis (7/3/2019).
Dia pun khawatir padi yang dia tanam tak bisa dipanen. Terlebih lagi, padi tersebut masih berusia dua bulan. “Semua rubuh [padi yang ditanam] dan terendam air dari banjir Oya.”
Harsito masih berharap lahan pertanian yang sempat terendam air bisa diselamatkan. Setelah banjir surut, dia mencoba mengeringkan lahan dengan cara membuang air di lahan. Selain itu, ia mencoba mendirikan batang-batang padi yang telah ambruk. “Kalau dipanen jelas tidak bisa karena belum berisi. Mudah-mudahan dengan mengeringkan air lahan, tanaman padi bisa tetap tumbuh dan tidak membusuk,” kata dia.
Kecemasan serupa dirasakan Tiyono, petani lain di bantaran Kali Oya di Desa Watusigar, Ngawen. Menurut dia, banjir merendam banyak lahan pertanian warga di sepanjang bantaran sungai. “Tadi saya hubungi teman di Nglipar, katanya padi juga terkena dampak dari banjir,” ujar dia
Meski demikian, Tiyono mengaku masih beruntung. Padi yang dia tanam sudah memasuki masa panen sehingga kerugian akibat banjir tidak terlalu banyak.
“Seharusnya pekan akan dipanen, tetapi berhubung banjir, panen bisa lebih cepat,” ucap dia.
Tiyono masih berusaha menunggu panen sesuai dengan jadwal. “Lahan yang terendam sudah mulai dikeringkan. Akan saya lihat dalam beberapa hari, kalau ada tanda-tanda pembusukan maka segera dipanen,” ujar dia.
Panen lebih cepat akibat banjir di Kali Oya sudah dilakukan oleh petani di Desa Katongan, Kecamatan Nglipar. Salah seorang petani, Suyono mengatakan banjir bandang membuat padi yang ditanam warga menjadi rusak. Selain terendam air dari luapan sungai, lahan pertanian juga terendam lumpur. “Agar petani tidak rugi, petani memanen padi lebih awal dari biasanya.”
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan jawatannya masih mendata dampak banjir yang merendam area pertanian warga di sepanjang bantaran Kali Oya. Menurut dia, padi memasuki masa panen bisa segera dipanen agar petani tidak menderita kerugian yang lebih banyak. “Kami masih lakukan pendataan sehingga belum mengetahui pasti berapa luas lahan yang terkena dampak dari banjir di Kali Oya,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Podhang Ngisep Sari ikut berkibar di berbagai ruas jalan Gunungkidul menjelang HUT RI ke-81. Simak sejarah dan makna ikon resmi daerah ini.
Pengalaman tumbuh dalam keluarga ekonomi terbatas dapat membentuk kebiasaan finansial hingga dewasa. Simak 8 kebiasaan yang sering terbawa.
KOTAK resmi menjadi band independen setelah 18 tahun bersama label rekaman. Single YOLO menjadi simbol kebebasan kreatif dan era baru mereka.
AC mobil kurang dingin atau bau? Simak 7 cara merawat AC mobil agar tetap sejuk, awet, dan nyaman digunakan setiap har
Helicopter parenting atau pola asuh terlalu protektif bisa hambat perkembangan anak. Dari sulit ambil keputusan hingga risiko depresi, ini dampaknya. Simak penj
Perempuan usia 40-an lebih rentan mengalami depresi akibat perubahan hormon, keluarga, pekerjaan, hingga hubungan pernikahan. Ini 8 pemicunya.