Pengadaan Seragam Dinas Senilai Rp3,7 Miliar di Gunungkidul Dibatalkan
Pemkab Gunungkidul batalkan pengadaan seragam Rp3,7 miliar karena efisiensi dan dialihkan ke program prioritas daerah.
Harsito, petani asal Dusun Gebang, Kalitekuk, berusaha mendirikan tanaman padi yang roboh akibat terjangan banjir di Kali Oya, Kamis (7/3/2019). Banjir terjadi pada Rabu (6/3/2019) malam./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, NGAWEN—Hujan deras yang mengakibatkan banjir di Kali Oya mengancam pertanian milik warga. Para petani di sepanjang bantaran sungai cemas padi mereka akan puso karena sempat terendam air.
Salah seorang petani di Dusun Gebang, Kalitekuk, Semin, Harsito mengatakan hujan deras sepanjang Rabu (6/3/2019) mengakibatkan banjir di Kali Oya. Tanaman padi di pinggir kali pun terendam. “Hujannya deras. Jembatan Kalitetuk juga sempat terendam air dari luapan Kali Oya,” kata Harsito kepada wartawan, Kamis (7/3/2019).
Dia pun khawatir padi yang dia tanam tak bisa dipanen. Terlebih lagi, padi tersebut masih berusia dua bulan. “Semua rubuh [padi yang ditanam] dan terendam air dari banjir Oya.”
Harsito masih berharap lahan pertanian yang sempat terendam air bisa diselamatkan. Setelah banjir surut, dia mencoba mengeringkan lahan dengan cara membuang air di lahan. Selain itu, ia mencoba mendirikan batang-batang padi yang telah ambruk. “Kalau dipanen jelas tidak bisa karena belum berisi. Mudah-mudahan dengan mengeringkan air lahan, tanaman padi bisa tetap tumbuh dan tidak membusuk,” kata dia.
Kecemasan serupa dirasakan Tiyono, petani lain di bantaran Kali Oya di Desa Watusigar, Ngawen. Menurut dia, banjir merendam banyak lahan pertanian warga di sepanjang bantaran sungai. “Tadi saya hubungi teman di Nglipar, katanya padi juga terkena dampak dari banjir,” ujar dia
Meski demikian, Tiyono mengaku masih beruntung. Padi yang dia tanam sudah memasuki masa panen sehingga kerugian akibat banjir tidak terlalu banyak.
“Seharusnya pekan akan dipanen, tetapi berhubung banjir, panen bisa lebih cepat,” ucap dia.
Tiyono masih berusaha menunggu panen sesuai dengan jadwal. “Lahan yang terendam sudah mulai dikeringkan. Akan saya lihat dalam beberapa hari, kalau ada tanda-tanda pembusukan maka segera dipanen,” ujar dia.
Panen lebih cepat akibat banjir di Kali Oya sudah dilakukan oleh petani di Desa Katongan, Kecamatan Nglipar. Salah seorang petani, Suyono mengatakan banjir bandang membuat padi yang ditanam warga menjadi rusak. Selain terendam air dari luapan sungai, lahan pertanian juga terendam lumpur. “Agar petani tidak rugi, petani memanen padi lebih awal dari biasanya.”
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono mengatakan jawatannya masih mendata dampak banjir yang merendam area pertanian warga di sepanjang bantaran Kali Oya. Menurut dia, padi memasuki masa panen bisa segera dipanen agar petani tidak menderita kerugian yang lebih banyak. “Kami masih lakukan pendataan sehingga belum mengetahui pasti berapa luas lahan yang terkena dampak dari banjir di Kali Oya,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul batalkan pengadaan seragam Rp3,7 miliar karena efisiensi dan dialihkan ke program prioritas daerah.
Seorang petani di Kulonprogo mengantar anak disabilitas ke job fair Disnaker, berharap sang anak mendapat pekerjaan yang layak dan mandiri.
Oracle memangkas 21.000 karyawan akibat restrukturisasi dan adopsi AI, sebagai bagian efisiensi bisnis cloud dan infrastruktur digital.
Dinkes Sleman rencanakan Raperda KTR masuk Prolegda 2027, atur ruang publik dan keseimbangan hak perokok serta nonperokok.
Pemerintah bebaskan PPN tiket pesawat ekonomi domestik selama libur sekolah 2026 untuk dorong daya beli dan pertumbuhan ekonomi.
Pemkab Gunungkidul perbaiki 256 RTLH dengan anggaran Rp5,12 miliar. Target rampung akhir September melalui program APBD 2026.