Ini Harapan Pemilik Usaha Kerajinan Serat Alam di Kulonprogo Akan Beroperasinya NYIA

Owner Dian Handycraft, Dionisius Damar menunjukan produk kerajinan serat alam di rumah produksinya Dusun Mentobayan, Desa Salamjero, Sentolo, Kulonprogo pada Jumat (15/3/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan.
17 Maret 2019 11:37 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Desa Salamrejo, Sentolo, Kulonprogo merupakan sentra kerajinan serat alam di Kulonprogo yang sudah terkenal. Kerajinan yang sudah bertahan lama itu tetap menjadi andalan dalam menghadapi adanya Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA).

Owner rumah produksi kerajinan serat alam, Dian Handycraft, Dionisius Damar mengatakan permintaan kerajinan serat alam di Desa Salamrejo semakin ke sini semakin tinggi. "Saat ini dalam sebulan, permintaan bisa sampai 1.000 item," ujar Dion pada Harian Jogja, Jumat (15/3/2019).

Namun, produksi kerajinan di Desa Salamrejo hanya bisa memenuhi kebutuhan permintaan perusahaan-perusahaan pengekspor saja dan belum bisa mengekspor langsung. "Ada permintaan dari Jakarta, Bali, mereka kadang finishing sendiri, kadang juga hanya sebagai pengekspornya saja," ujar Dion.

Menurutnya, apabila bandara sudah jadi, ia berharap akses untuk ia dapat mengekspor langsung bisa terbuka. Ia mengatakan, nantinya buyer diharap bisa langsung datang ke lokasi rumah produksi, untuk melihat-lihat kerajinan serat alam.

Ia mengatakan, pangsa pasar ekspor dari kerajinan serat alam tersebut antara lain Amerika, Belanda, Jepang, juga Cina. Saat ini, 70% produk kerajinan di Desa Salamrejo disalurkan ke perusahaan ekspor, sisanya penjualan langsung.

Beberapa produk yang ia garap antara lain boks, tas, dompet, dan lampion. Serat alam yang menjadi bahan kerajinan tersebut antara lain agel, eceng gondok, pandan, dan nilon. Harga produk bervariasi tergantung jenis kerajinan, rentang harga tersebut berkisar dari Rp50.000 sampai Rp500.000.

Menurutnya, sekarang, bahan baku yang ia gunakan untuk membuat kerajinan susah didapatkan di DIY. Ia lebih sering mendapatkan bahan baku tersebut di Jawa Timur.

Saat ini permintaan kerajinan serat alam sedang tinggi-tingginya. Menurutnya, kerajinan tersebut sudah ada sejak tahun 90an. Ia meneruskan usaha kerajinan serat alam dari orang tuanya.

"Saat ini kami tetap mengandalkan kerajinan dari serat alam. Apalagi menghadapi adanya bandara, harapannya itu menjadi peluang kami bisa lebih luas lagi dalam memasarkan produk," katanya.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kulonprogo, Sri Harmintarti mengatakan, untuk menyambut Bandara, pihaknya lebih menekankan pada UMKM agar dilakukan perbaikan kualitas produk terlebih dahulu. Ia mengatakan, pembinaan juga dilakukan pada UMKM agar UMKM Kulonprogo bisa bersaing dengan produk lainnya.