Rutan Wates Akan Direlokasi di Dekat NYIA

Ilustrasi Petugas Rutan Kelas II B Wates saat memeriksa kamar dan barang-barang milik warga binaan, Senin (23/7/2018) malam. - Harian Jogja/Beny Prasetya
29 Maret 2019 15:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Rencana relokasi Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Wates, Kulonprogo yang terdampak penataan kawasan Alun-alun Wates, harus memperhatikan beragam aspek mulai dari luas lahan, lokasi strategis, serta ketersediaan sumber air bersih. Pemkab Kulonprogo mengusulkan relokasi tak jauh dari lokasi New Yogyakarta International Airport (NYIA) karena rutan tersebut direncanakan terintegrasi dengan Kantor Imigrasi.

Kepala Rutan Kelas IIB Wates, Deny Fajariyanto mengatakan saat ini Rutan Wates memiliki luas 3.200 meter persegi dengan jumlah penghuni per 15 Maret 2019 sebanyak 85 orang. Jumlah tersebut sejatinya melebihi kapasitas isi hunian yang hanya diperuntukkan bagi 55 warga binaan.

Dengan kondisi tersebut, Deny menilai luas rutan belum ideal dan perlu ditambah. Menurutnya minimal luas sebuah rutan 40.000 meter persegi. Maka dari itu dia berharap saat relokasi nanti, pihak berwenang bisa mempertimbangkan penambahan luas lahan. "Afdolnya 40.000 meter persegi, jadi kalau nanti direlokasi kami harapkan bisa sesuai itu," ujarnya, Kamis (28/3/2019).

Selain itu, Deny mengharap, lahan relokasi berada di tempat yang strategis. Tidak terlalu jauh dengan pusat kota, karena rutan harusnya dekat dengan kantor instansi penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan. Hal Ini guna menjamin keamanan. 

Lokasi rutan baru juga diharapkan memiliki ketersediaan sumber air yang cukup. Ini diperlukan untuk menunjang keperluan mandi, cuci, dan kakus (MCK) bagi warga binaan. Dikhawatirkan jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, bakal menimbulkan ketidaknyamanan.

Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo mengatakan dalam penentuan lokasi baru untuk Rutan Kelas IIB Wates, pihaknya telah bekerjasama dengan Kementerian Hukum dan HAM. Nantinya lahan yang akan digunakan akan terintegrasi dengan pelayanan Imigrasi penunjang NYIA.

"Ini sekaligus terintegrasi dengan tanah imigrasi. Saya harapkan tidak jauh dari airport. Paling jauh ya 10 kilometer, paling tidak di  perbatasan antara Wates dan Temon," kata Hasto.

Hasto menambahkan, untuk luasan lahan kemungkinan akan mencapai dua hektar sesuai permintaan KemenkumHam. Dari luasan tersebut, kantor imigrasi akan memakai jatah 2.000 meter persegi. "Ini nanti diusulkan bersama usulan embarkasi haji kepada pak gubernur," ucapnya.