Tim Ngalong, Cara Driver Ojol Bantu Sesama

Timbul Raharjo, salah satu driver ojol, yang menginisiasi grup Whatsapp khusus para driver ngalong. - Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah
30 Maret 2019 15:37 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Driver ojek online tidak memiliki jam kerja khusus. Bahkan dini hari mereka tetap bekerja. Risiko pun bisa mengancam mereka. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Kusnul Isti Qomah.

Bersepeda motor dan berjaket warna hijau sehari-hari melekat pada diri Timbul Raharjo. Sebagai salah satu driver ojek online (ojol), kedua perangkat itu tak bisa lepas dari kesehariannya.

Yang berbeda dengan driver ojol lainnya, Timbul memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Dia menginisiasi adanya grup Whatsapp khusus para driver ngalong alias yang beroperasi malam hari. Grup ini dibuat pada November 2018 dengan anggota lebih dari 130 driver. Ia menganggap grup ini sangat penting karena risiko beroperasi di malam hari cukup banyak. Mulai dari kehabisan bahan bakar, ban meletus, hingga ancaman pelaku kejahatan.

Ketika sudah menginjak pukul 00.00 WIB, obrolan di grup tidak diperkenankan ada candaan dan benar-benar koordinasi serius. Setiap driver yang menerima orderan di atas pukul 00.00 WIB disarankan untuk mengirim tangkapan layar pesanan dan live location. Tujuannya agar setiap anggota di dalam grup bisa ikut memantau.

"Kalau misalnya driver dihubungi tidak bisa dan dipantau kok berhenti lama, pasti akan kami cek. Kalau butuh bantuan, pasti akan langsung kami bantu misal ganti ban, isi bahan bakar. Inilah gunanya grup," kata dia.

Tangki bahan bakarnya pun tak boleh kosong. Selain untuk menunjang pekerjaan, tangki bahan bakar yang penuh juga bisa ia gunakan menolong pengendara motor yang kehabisan bahan bakar di jalan. "Kalau ada selang, pasti akan saya kasih bahan bakar dari tangki saya. Saya biasanya pakai pertalite, tetapi kalau ingin motor lebih kencang dan mesin lebih bersih ya kadang pakai pertamax juga," jelas dia.

Ia berharap para driver lain yang juga beroperasi malam bisa bergabung. Hal ini demi keamanan para driver. "Saya suka guyubnya di kami. Kalau ada orang yang butuh bantuan, entah dekat tau jauh pasti didatangi untuk dibantu," jelas dia.

Sekjen Paguyuban Gojek Driver Jogjakarta (Pagodja) Widi Asmara Timbul adalah Ketua Tim Ngalong Pagodja. Dia yang mengoordinasikan driver-driver yang aktif pada malam hari. "Aktif di malam hari itu berisiko. Jadi, sebagai ketua harus sigap mengatasi permasalahan kerja di malam hari," kata dia.

Sukarelawan

Di sela-sela kesibukannya sebagai driver ojol, Timbul juga menjadi seorang sukarelawan. Tak mengherankan sehari-hari dia menenteng handie talkie alias HT. Timbul aktif di bidang sosial itu berawal dari kegemarannya ngebrik.

"Orang yang ngebrik itu kan biasanya jiwa sosialnya tinggi. Karena kami mantau ada kejadian apa. Ini HT selalu saya bawa untuk memantau kondisi. Saya suka saling menolong," ujar dia kepada Harian Jogja di Jalan Pasar Kembang, Jogja, Rabu (27/3/2019) sore.

Ketika Gempa Bumi melanda DIY pada 2006, ia juga aktif sebagai sukarelawan. Termasuk ketika erupsi Merapi 2010. Ia pun tergabung menjadi sukarelawan 907 Merapi Balerante. Aktivitas menjadi sukarelawan itu masih ia lakoni ketika menjadi driver Gojek sejak penyedia aplikasi itu masuk ke DIY.

Timbul juga tak segan mematikan aplikasi ketika ada bencana alam di DIY seperti banjir di Bantul, atau ketika Merapi erupsi. Baginya, rezeki sudah ada yang mengatur dan menolong sesama adalah hal mulia. Ia yakin, ketika berbuat baik, akan menuai kebaikan.

Tak hanya di DIY, Timbul juga aktif menginisiasi gerakan penggalangan dana untuk membantu korban bencana alam di luar DIY. Ketika satuannya membutuhkan personel untuk dikirim ke daerah bencana baik di dalam DIY maupun luar, ia selalu siap. Namun, ia tetap mengikuti prosedur.

"Semua itu enak kalau ikut aturan dan prosedur. Kalau dikirim ya saya siap. Kalau tidak, kami adakan penggalangan dana untuk membantu korban," jelas dia.

Jiwa sukarelawan itu sudah terpupuk. Pernah ketika ia mengantar penumpang, terpantau ada asap kebakaran di sebuah hotel di Jalan Adisutjipto, Sleman. Ia pun langsung tergerak untuk mendatangi lokasi larena ia yakin kejadian itu belum ada yang mengetahui. Namun, tentu saja ia meminta izin penumpang terlebih dahulu.

"Ternyata penumpangnya tidak buru-buru dan malah ikut bingung mau ikut bantu. Saya komunikasikan kejadian itu kepada ORARI [Organisasi Radio Amatri Republik Indensia, RAPI [Radio Antar Penduduk Indonesia] melalui HT. Saya kemudian menuju lokasi. Saya kasih tahu satpamnya dan ia belum tahu kejadian itu. Setelah bantuan datang, saya tinggal untuk mengantar penumpang," kata dia.

Ia juga pernah mengantar korban kecelakaan hingga ke rumah sakit. Saat itu ia juga sedang membawa penumpang. Beruntung penumpang tersebut pengertian dan malah ikut menolong. Timbul segera menghubungi rekan Gojeknya untuk membonceng korban hingga ke rumah sakit. Ia dan penumpangnya ikut mengawal hingga rumah sakit baru kemudian mengantar penumpang.

Meski demikian, kadang ada juga konsumen yang menguji kesabaran. Namun, ia terus berupaya menanggapinya dengan santai dan tidak terbawa emosi.

Timbul juga punya prinsip pantang cancel order baik dekat maupun jauh. Menurutnya, ketika driver sudah menghidupkan aplikasi, ia sudah siap bekerja sehingga orderan yang masuk adalah rezeki.

Timbul juga dikenal sebagai driver polosan alias enggak neka-neka memakai aplikasi-aplikasi tertentu untuk mengakali seperti fake GPS. Justru dengan polosan ia malah bisa selalu mencapai poin, bahkan melebihi target. Ia juga bisa mengumpulkan uang hingga Rp500.000 per hari.

"Kalau lurus-lurus saja dan ikut aturan, justru lebih mudah dan lancar. Akun kami juga jadi jarang bermasalah. Orderan juga banyak," kata dia.

Namun, ia tak semata-mata komersial. Ketika ada pemesan yang ternyata uangnya kurang karena benar-benar tidak memiliki uang, ia tak segan untuk menggratiskan. Ia juga kerap mengantarkan nenek-nenek yang kesusahan mencari kendaraan untuk pulang ke rumah. Itu dilakukan dengan cuma-cuma.

"Kalau ada nenek-nenek yang butuh diantar juga saya antar walau enggak pakai aplikasi. Pas itu pasti saya nonaktifkan aplikasi saya," jelas dia.

Sebagai driver, ia ingin selalu memberikan pengalaman terbaik bagi para pelanggan. Timbul rutin merawat kendaraan yang ditunggangi setiap hari. Kendaraan itu pula yang menemaninya mencari rezeki dan menjadi sukarelawan.

Jiwa sosial itu berusaha ia tularkan ke keluarga dan rekan-rekannya. Namun, ia tak ingin memaksakan hal itu karena menjadi sukarelawan adalah panggilan hati dan perlu keikhlasan.