Gali Tanah Buat Kolam, Warga Temukan Batuan Diduga Candi

Batuan lepas yang diduga dari bangunan candi ditemukan berserakan di kolam warga di Dusun Duwet, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan. - Harian Jogja/Yogi Anugrah.
02 April 2019 17:27 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Puluhan batuan lepas yang diduga dari bangunan candi kembali ditemukan berserakan di kolam warga di Dusun Duwet, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan.

Sartono, 62, warga Dusun Duwet, mengatakan menemukan batuan yang diduga dari bangunan candi tersebut saat sedang menggali tanah untuk membuat kolam ikan.

“Sebenarnya sudah sejak dahulu beberapa kali ditemukan, karena setiap kali saya menggali, pasti menemukan batu-batu besar seperti itu,” kata dia, Selasa (2/4/2019).

Ia menduga, masih banyak batuan disekitar area kolam yang ia gali, untuk saat ini, kata dia, batuan-batuan yang ditemukan tersebut hanya dibiarkan di dasar dan pinggir kolam.

“Dulu mau saya jadikan pondasi kolam, namun karena peninggalan sejarah dan tidak boleh, maka hanya dibiarkan disitu saja,” ujar dia.

Disinggung mengenai kemungkinan untuk dilakukan ekskavasi, ia merasa keberatan, karena hampir seluruh areal tersebut telah menjadi kolam ikan. “Biaya pembuatannya juga sudah terlanjur banyak, lagian belum tentu ada candi dibawahnya,” ujar dia.

Kepala Unit Penyelamatan, Pengembangan dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY Muhammad Taufik menduga ada candi di lokasi penemuan batuan di Dusun Duwet tersebut.

“Kemungkinan ada candi. Biasanya candi-candi itu dibangun di dekat sumber air, Jadi kan kami indikasi bahwa di situ ada mata air, dekat sumber air lah. Kalau tidak dekat dengan sungai ya mata air," lanjut Taufik.

Sebelumnya, kata dia, BPCB juga pernah mengamankan sebuah Yoni dari sekitar lokasi tersebut. Dan informasi dari warga setempat, juga sering menemukan bebatuan serupa ketika menggali tanah.

"Ditemukan batu-batu lepasnya. Kami juga pernah melakukan penyelamatan di situ, dulu Yoni-nya. Jika betul di lokasi itu pernah berdiri candi, ukurannya tak jauh beda dengan Candi Kalasan atau Candi Kedulan. Dengan perkiraan pembangunan pada abad 7-8 Masehi, kemungkinan [candi] Hindu," jelasnya.

Meski ada indikasi awal di lokasi itu ada candi, namun BPCB belum berencana melakukan penggalian. "Pelestarian itu ada merekam data atau dipugar. Lihat di situ sudah dibikin kolam warga, kami sudah mendokumentasi semua temuannya, terus sudah merekam titik koordinatnya. Kemarin kami suruh timbun saja," kata Taufik.

Ia menjelaskan, salah satu upaya pelestarian itu memang ditimbun kembali. “Karena kalau dibawa ke tempat penampungan [benda cagar budaya, itu keluar dari konteksnya. Kalau keluar nanti tidak bisa diceritakan, tidak ada runtutannya,” ujar dia.