DPAD DIY Sosialisasikan Cara Bertani Hidroponik

Staf seksi pengembangan minat dan budaya baca DPAD DIY, Mintardi (berdiri) saat memaparkan materinya dalam acara bedah buku di Balai Desa Sumberrahayu, Kecamatan Moyudan, Sleman, Rabu (10/4/2019). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
10 April 2019 22:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY menggandeng Komisi D DPRD DIY menggelar bedah buku berjudul Pertanian Modern Hidroponik Sistem NFT Skala Rumah Tangga di Balai Desa Sumberrahayu, Kecamatan Moyudan, Sleman, Rabu (10/4/2019).

Penulis buku, Norbertus Kaleka, mengatakan jika hidroponik merupakan sebuah paradigma baru dalam bertani menurutnya. "Orang selama ini tahunya bertani itu dengan tanah, justru ini tanpa adanya kehadiran tanah," katanya kepada Harian Jogja, Rabu.

Dia mengatakan jika hari hari ini masyarakat yang menerapkan konsep hidroponik baru sebatas hobi. Namun ada skala komersial yang coba dikembangkan terutama untuk masuk dalam pemenuhan kebutuhan sayuran yang berkualitas agar bisa masuk ke supermarket. "Pasar-pasar swalayan sekarang sudah menerima tanaman yang dibudidayakan dari hidroponik, dan sekarang makin berkembang," katanya.

Namun yang ia tekankan adalah setiap keluarga bisa menghasilkan sayur sehat di pekarangan mereka. "Masih banyak yang terbentur dengan mindset yang kalau bertani itu harus berkeringat, kotor, namun dengan hidroponik harusnya tidak menjadi hambatan, karena dari hidroponik kualitas sayuran yang dihasilkan bisa lebih baik, dan kita tidak harus berkotor kotor," ujar dia.

Jika hidroponik bisa dikembangkan di pekarangan keluarga, kata Norbertus, hal tersebut tentunya mampu memberikan pasokan sayuran hijau yang lebih berkualitas ke rumah tangga. "Hal tersebut bisa memasok kebutuhan gizi vitamin mineral terutama yang bersumber dari sayuran kepada keluarga, khususnya anak-anak," ujar dia.

Masyarakat dihadapkan dengan masalah gizi, kata Norbertus, yaitu gizi mikro dan ini yang disebut dengan hidden hunger, karena hal itu tidak kelihatan. "Karena yang bermasalah adalah gizi mikro yaitu vitamin dan mineral, kalau gizi makro protein karbohidrat kan itu langsung kelihatan jika misalnya anak itu kurus, anak anak yang kurang memakan sayur akan terancam dengan masalah gizi mikro," ujar dia.

Dengan hidroponik, kata Norbertus, keluarga juga bisa menjamin dari sisi higienitas sayuran yang mereka makan sehari-hari. Kembali bicara peluang, Norbertus mengatakan jika hidroponik merupakan peluang emas bagi keluarga karena tidak sulit dalam melakukannya.

Hidroponik, kata Norbertus, juga menjadi paradigma baru bagi kalangan masyarakat menengah ke atas yang memang semakin melek akan isu kesehatan.

Staf seksi pengembangan minat dan budaya baca DPAD DIY, Mintardi, mengatakan tujuan bedah buku kali ini sebagai sarana untuk memahami sebuah buku secara lebih detail, tepat dan kritis.

Selain itu bedah buku yang dilakukan di Balai Desa Sumberrahayu tersebut juga digelar dalam rangka mengembangkan cara berpikir sistematis serta lebih memahami sudut pandang penulis dalam menuangkan ide-ide kreatifnya. "Mendekatkan buku yang dibedah kepada masyarakat, dan Mempromosikan karya kreatif penulis kepada masyarakat," ucap dia.