Peternak di Banaran Terus Menjaga Kualitas Madu Hitam

Ketua Peternak Lebah Sumber Rejeki Madu Manunggal, Desa Banaran, Purwanto (kanan), menunjukkan sarang lebah kepada Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi (kedua dari kiri), Selasa (9/4/2019). - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
10 April 2019 05:17 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Peternak lebah madu hitam di Desa Banaran, Kecamatan Playen, terus berupaya menjaga kualitas madu yang dihasilkan. Para peternak kewalahan dengan banyaknya permintaan. Madu hitam khas Playen yang dibudidayakan di sekitar kawasan hutan Banaran, Playen, dirintis sejak 2017.

Satu sarang madu mampu menghasilkan kurang lebih tiga sampai empat kilogram madu hitam dalam waktu satu tahun. Harga madu hitam per kilogram mencapai sekitar Rp250.000 sampai Rp300.000 tergantung kualitas.

Ketua Peternak Lebah Sumber Rejeki Madu Manunggal, Desa Banaran, Purwanto, mengaku saat ini peternak kewalahan dalam pemenuhan permintaan madu hitam. Dia menegaskan jika stok yang dimiliki habis, para peternak tidak mau mencari madu ke daerah lain karena khawatir dengan kualitasnya. "Kami tidak mencari madu dari daerah lain demi menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen," ucap Purwanto, Selasa (9/4/2019).

Dia menyatakan, selama ini konsumen madu hitam masih sebatas perorangan. Diakui Purwanto, dia tidak melayani penjualan madu kepada para tengkulak maupun ke perusahaan-perusahaan besar. "Alasannya karena kami belum mampu menghasilkan madu dalam jumlah besar," katanya lagi. Menurutnya, ada bulan-bulan tertentu di mana lebah tidak menghasilkan madu, yaitu Februari, Maret, dan April. Para peternak di Banaran memanfaatkan luas hutan Banaran yang mencapai 600 hektare sebagai lahan budi daya.

Wakil Bupati Gunungkidul, Immawan Wahyudi, mengatakan Pemkab siap membantu memasarkan madu hitam khas Kecamatan Playen. "Sebagai bentuk dukungan, secara pribadi saya pesan dua kilogram madu hitam," ucapnya saat mengunjungi peternakan madu hitam di Banaran, Playen, Selasa.