DLH Bantul Ajak BUMDes Mengolah Sampah Jadi Emas

Ilustrasi pengelolaan sampah melalui bank sampah - JIBI
01 Mei 2019 12:27 WIB Kiki Luqmanul Hakim (ST16) Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) gelar acara Sosialisasi Peluang Unit Usaha Persampahan Di BUMDes dan Sosialisasi Progam Memilah Sampah Menabung Emas. Melalui program ini seluruh Badan Usaha Membangun Desa (BUMDes) yang ada di Bantul diharapakan mampu mengolah sampah menjadi nilai ekonomis.

Acara tersebut berlangsung pada Selasa (30/4/2019) pukul 09.00 di Aula Perpustakaan Daerah Bantul. Dalam acara ini turut dihadiri Oleh Wakil Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, Kepala Dinas DLH, Ari Budi Nugroho dan juga seluruh Lurah Desa serta Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

“Sebetulnya kegiatan hari ini adalah untuk memperkuat kepada Desa dan juga BUMDes-nya melalui pemilahan sampah, kegiatan hari ini juga guna untuk melancarkan berjalannya progam Bantul Bersih Sampah 2019,” kata Kepala DLH Ari Budi Nugroho, Selasa (30/4/2019).

Ari menambahkan bahwa sejauh ini BUMDes yang ada di Bantul selalu kurang tertarik dengan pengolahan sampah yang sebetulnya mampu menghasilkan pemasukan dana cukup tinggi untuk para BUMDes yang ada di Bantul.

“Hari ini mereka [Para wakil BUMDes] kita undang itu untuk mensosialisasikan bagaimana mengolah sampah untuk berkah dan juga menjadi emas, karena semua warga kan menghasilkan sampah, maka dari itu kita ajak mereka untuk menghasilkan rupiah melalui sampah,” lanjut Ari.

Lurah Desa Panggungharjo, Wahyudi Anggoro yang BUMDesnya sudah melalukan pengolahan sampah menjadi emas mengatakan bahwa BUMDes desanya telah bekerja sama dengan pihak pegadaian dan menghasilkan Rp26.000 hingga Rp30.000 per bulan.

“Jadi kami mengolah sampah itu menjadi tiga yaitu, sampah residu, organik, dan sampah bernilai jual. Lalu untuk yang sampah bernilai jual itu kita melakukan kerja sama dengan progam pegadaian tabungan emas, jadi ketika kita menyetor sampah kemudian dikonversi setara dengan emas. Per bulannya kami bisa menghasilkan 26.000 hingga 30.000,” kata Wahyudi.

Menurutnya tabungan tersebut telah dimulai sejak tahun awal tahun 2019 lalu serta jumlah rupiah yang terkumpul tidak bisa dicairkan setiap tahunnya. Dirinya dan warga desa sepakat tabungan yang setara dengan emas itu hanya dapat digunakan untuk pendidikan dan jaminan hari tua para warga desa.

“Minimal setornya 0,01 gram jadi kalau harga emas itu sekarang enamratus ribu pergramnya maka kita hasilkan enamribu rupiah setiap 0,01 gram sampah yang kita setor. Tabungan itu tidak bisa diambil setiap tahunnya, dan kami sepakat tabungan itu akan kami buka 12 hingga 15 tahun kedepan yang diperkirakan setara dengan nilai emas mencapai 180 hingga 200 juta, dan uang itu akan kami gunakan hanya untuk kebutuhan pendidikan dan jaminan hari tua warga desa,” kata wahyudi.

Dengan total nasabah 1200 warga, Wahyudi mengatakan bahwa untuk sampah jenis residu dan organik, pihaknya telah bekerja sama dengan salah satu universitas di Yogyakarta untuk diolah menjadi cairan energi  seperti bio solar dan lainnya.