Soal Renovasi Gedung Dewan, Forpi Sleman: Jangan Bongkar Ruang Paripurna!

Gedung DPRD Sleman. - JIBI/Harian Jogja
11 Mei 2019 08:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Upaya pembongkaran yang dilakukan terhadap Gedung DPRD Kabupaten Sleman diimbau tak justru menghilangkan nilai sejarah dari bangunan tersebut. Seperti diketahui, pembangunan Gedung DPRD Sleman diperkirakan butuh waktu sekitar dua tahun.

Anggota Forum Pemantau Independen (Forpi) Sleman, Hempri Suyatna mengatakan upaya renovasi atau pembongkaran gedung DPRD kabupaten Sleman jangan sampai menghancurkan atau menghilangkan nilai sejarah yang ada. "Saya kira bangunan itu [terutama gedung paripurna] kan unik, apalagi tidak ada tiang penyangga di tengahnya. Saya rasa konsep ini harus dipertahankan," ujarnya kepada Harianjogja.com, Jumat (10/5)/2019.

Karena itulah dalam merenovasi kompleks Gedung DPRD Sleman, Pemkab hendaknya lebih cermat dalam merekonstruksi sejumlah bangunan. Menurut dia keunikan Ruang Paripurna di kompleks Gedung DPRD Sleman bisa menjadi ikon bangunan pemerintah di Bumi Sembada.

Senada, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sleman, Sofyan Setyo Darmawan, mengatakan Ruang Paripurna DPRD Sleman seharusnya tak perlu dibongkar. Pasalnya ia menilai ruangan itu sejauh ini masih layak untuk digunakan.

"Menurut saya memang masih layak. Sejak awal saya sudah sampaikan yang perlu dibangun adalah Ruang Fraksi dan Ruang Komisi karena luasannya tidak memadai untuk rapat jika peserta rapat lebih dari 12 orang," ujar pria yang merupakan anggota dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) DPRD Sleman tersebut.

Begitu pula dengan anggota DPRD Sleman dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (F-PPP), Untung Basuki Rahmad. Dia meminta agar renovasi gedung DPRD Kabupaten Sleman, terutama yang menyentuj Ruang Paripurna untuk ditinjau ulang.

Menurut dia, nilai sejarah Ruang Paripurna tersebut memiliki nilai sejarah panjang. “[Ruangan paripurna] itu dibangun bersamaan dengan Masjid Agung Sleman. Selain itu, Ruang Paripurna menjadi bangunan tanpa tiang pancang pertama. Kalau bisa saya minta ditinjau dan jangan dirobohkan untuk menjaga nilai sejarah,” kata Untung.