Ini Lika-Liku Penceramah di Musala Sarkem Selama Ramadan

Gang di kawasan Sarkem yang telihat sepi, Selasa (7/5/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
13 Mei 2019 03:07 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bulan Ramadan, lazimnya musala dan masjid dipenuhi jamaah yang beribadah terutama waktu salat tarawih. Namun suasana berbeda terjadi di Mushola Al-Hikmah Sosrowijayan Kulon, . Tempatnya yang berada di tengah-tengah kompleks prostitusi Sarkem menjadikannya sepi, bahkan di Bulan Suci. Berikut laporan wartawan Harian Jogja Lugas Subarkah.  

Pukul 19.10, gerbang sebelah selatan Gang 3 RW 3 Sosrowijayan Kulon, Sosromenduran, Gedongtengen, Jogja terbuka separuh. Sekitar 50 meter dari gerbang, terlihat ada aktivitas keagamaan di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Hagios Sosrowijayan. Di luar gereja, gang-gang RW 3 Sosrowijayan, kawasan prostitusi yang lebih dikenal dengan Pasar Kembang (Sarkem) terlihat sepi. Hanya terlihat satu-dua warga berjalan melintas di kegelapan gang.

Hujan baru saja reda, menyisakan jalan konblok basah dan udara dingin. Beberapa tikus terlihat keluar dari sarangnya, melesat cepat melintas lorong-lorong di antara rumah-rumah yang telah ditutup rapat oleh penghuninya.

Malam itu adalah hari kedua bulan Ramadan 1440 Hijriah, Selasa (7/5/2019). Untuk menghormati Bulan Suci umat Islam ini, Sarkem tidak beroperasi selama seminggu. Tidak ada aktivitas dan transaksi para pekerja seks komersial (PSK) di sana.

Gerbang selatan dan timur yang biasanya ditutup, malam itu terbuka. Gerbang utara yang biasanya dijaga beberapa petugas, malam itu tak ada yang menjaga. Ketua RW 3 Sosrowijayan Kulon, Sarjono menyebut praktik prostitusi Sarkem biasanya tutup tiga hari sebelum puasa dan empat hari memasuki Ramadan. Hari seterusnya, aktivitas tetap berjalan meski lebih sepi.

Di dalam kampung, satu-dua warga duduk di kanan-kiri gang. Di hari biasa, gang itu gemerlap oleh lampu dari teras-teras rumah yang disulap menjadi etalase bagi para “mami” (sebutan untuk muncikari) untuk menjajakan “anak-anaknya”, para PSK. Alunan dangdut yang biasa dari rumah-rumah karaoke, juga tak ada. Suasana hening tidak terdengar satu suara musik pun. Lampu-lampu teras juga kebanyakan padam.

Di arah timur gang sempit itu, sayup-sayup terdengar orang berceramah. Terlihat papan nama berwarna hijau dengan tulisan Mushola Al-Hikmah Sosrowijayan Kulon. Musala itu berukuran tidak besar, hanya sekitar 4X4 meter. Temboknya bercat hijau muda, dengan satu pintu saja di sebelah utara, tanpa jendela.

Hanya ada sekitar 10 orang jemaah, laki-laki dan perempuan. Mereka kebanyakan telah berusia lanjut. Satu lagi ada seorang anak kecil dan sang penceramah. Duduk sejajar dengan jemaah, si penceramah menyampaikan materinya menggunakan bahasa Jawa.

Dalam ceramah sebelum salat tarawih itu, ia menyampaikan sejumlah petuah, di antaranya tentang niat dan keikhlasan. Ia mencontohkan musala itu sendiri. Meski hanya segelintir orang yang mendirikan salat tarawih, tapi jika mereka menjalaninya dengan ikhlas, maka Allah akan meridai.

Kontras dengan suasana di gang-gang sekitar yang remang-remang dan dingin, di dalam musala itu terang dan hangat. Penceramah terlihat dekat dan akrab dengan para jemaah. Ia memang kenalan beberapa warga dan telah sering mengisi ceramah di sana.

Penceramah itu bernama Nur Wahid, warga Jogonegaran, Jogja. Ia bercerita, memiliki tanggung jawab moral mengisi ceramah saat tarawih selama Ramadan di musala itu. Salah satu pewaris bangunan musala meminta tolong padanya. Ia tak sendirian, ada enam orang lain yang masuk jadwal bercerama di Mushola Al-Hikmah.

“Tidak semua ustaz [yang ditawari] mau mengisi ceramah di musala ini,” kata Nur Wahid. Salah satu penyebabnya adalah karena musala ini berada di tengah kompleks prostitusi. Tak cuma itu, untuk menuju ke sana, harus masuk melalui gang-gang sempit, parkir pun sulit dan terlebih lagi jumlah jemaahnya yang sangat sedikit. “Beberapa orang belum mau kemarin pas saya tawari,” kata lelaki yang kini menjabat sebagai Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kecamatan Gedongtengen, Jogja, Periode 2015-2020 ini.

Sedangkan Nur Wahid, memang telah kenal dekat dan sejak lama biasa mengisi ceramah di Mushola Al-Hikmah selama Ramadan. Menurut dia, justru musala semacam ini yang harus diprioritaskan. “Justru di tempat-tempat seperti itu [kawasan prostitusi] kekuatan iman seseorang diisi. Makannya sampai sekarang saya masih mau memberi tausiyah kepada jemaah yang tak banyak itu,” katanya.

Selama Ramadan ini, jadwal ceramah Nur Wahid padat. Lima di antaranya adalah di Mushola Al-Hikmah. Ia tidak membeda-bedakan siapa jemaahnya. “Semua orang memiliki derajat yang sama. Bahkan dirinya sendiri juga tidak lebih suci dari orang lain,” ujar lelaki yang pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota  Jogja ini.

 RW Sebelah

Selain Mushola Al-Hikmah, di kompleks Sosrowijayan ada satu masjid lagi, yakni Nurul Huda. Masjid ini terletak di RW 2, tidak jauh di sebelah timur Mushola Al-Hikmah. Berbeda dengan Mushola Al-Hikmah, masjid ini jauh lebih makmur oleh jemaah.

Salah satu remaja masjid Nurul Huda, Arya Maulana mengatakan masjid ini memiliki banyak kegiatan di bulan puasa. Mulai dari tarawih, buka bersama jemaah, tadarus Alquran, lomba-lomba untuk anak-anak dan buka bersama anak yatim. Jemaah tarawih malam itu diperkirakan 50 orang.

Selepas tarawih, beberapa remaja dan anak-anak tetap tinggal di masjid untuk tadarus. Kegiatan ini dilakukan rutin setiap hari setelah salat tarawih. Arya mengatakan target mereka adalah satu juz satu malam. “Dibacanya bergantian, nanti Ramadan selesai bisa khatam,” katanya.

Sebelum Nurul Huda dibangun, dulu hanya ada satu tempat ibadah di kompleks Sosrowijayan, yakni Mushola Al-Hikmah.

Nur Wahid bercerita, waktu itu, jemaah Al-Hikmah juga banyak karena berasal dari RW 2 dan RW 3. Nur Wahid sudah mengisi ceramah saat itu, merasakan ramainya Al-Hikmah oleh pemuda. “Dulu sering dikerjain sama anak muda sini, katanya ‘tadi muter ke mana dulu Pak? Digodain mbaknya ya?’” katanya.

Beberapa tahun belakangan, Al-Hikmah sempat tidak difungsikan, karena warga RW 3 menunaikan tarawih di Balai RW. Kata Nur Wahid, di sana cukup ramai, karena Ketua RW mengimbau seluruh PSK untuk berjamaah di sana.

Nur wahid mengatakan meski jemaah sepi, ia tidak masalah.  Ia sangat mengapresiasi niat warga untuk memakmurkan musala. Rencananya, ia akan mengajukan proses wakaf musala tersebut ke PD Muhammadiyah Kota Jogja. “Tapi belum bisa dalam waktu dekat karena pewarisnya banyak.”