Supersemarch Tawarkan Ide Arsitektur Tak Biasa

Pengunjung sedang memperhatikan karya yang dipamerkan dalam Supersemarch: Impossible Architecture di TBY, Minggu (26/5/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
26 Mei 2019 17:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Mahasiswa Arsitektur ditantang untuk mengeksplorasi karya arsitektur di luar pakem arsitektural. Melalui pameran bertajuk Supersemarch: Impossible Architecture yang digelar mahasiswa Fakultas Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Sabtu-Minggu (25-26/5/2019) tersebut, karya-karya arsitektural yang tidak biasa ditampilkan.

Ketua Panitia, Syarif Nahwan, mengatakan pameran tersebut menampilkan karya-karya hasil sayembara bertajuk Impossible Architecture yang digelar oleh panitia. Dalam sayembara itu, peserta diajak untuk lebih kreatif dalam mengeksplorasi desain arsitektur yang tidak biasa dan bahkan hampir mustahil untuk dibuat. Salah satu peserta ada yang membuat desain arsitektur untuk lunar space elevator yang dirancang untuk dibangun di ruang angkasa.

Desain yang disayembarakan juga memuat keterangan desain seperti latar belakang, konsep, lokasi, material dan sebagainya. “Karya-karya di sini tidak untuk dibuat dalam waktu dekat, nunggu teknologi lebih maju dulu,” kata Syarif saat ditemui, Minggu.

Pameran itu juga diramaikan dengan gelar wicara di Gedung Societet, kompleks TBY, yang membahas seputar Impossible Architecture dan fotografi arsitektur. Dalam talk show itu, panitia menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan dosen dan fotografer arsitektur.

Syarif menambahkan Supersemarch merupakan kegiatan rutin mahasiswa Fakultas Arsitektur UII setiap tahun. Kegiatan ini menjadi wadah bagi setiap angkatan bar untuk unjuk gigi di masyarakat luas. “Supersemarch merupakan singkatan dari Suatu Persembahan Mahasiswa Arsitektur,” kata Syarif.

Fotografer arsitektur, Jiwangga Putra Adiksa, dalam gelar wicara itu mengatakan fungsi fotografi bagi seorang arsitek adalah untuk menjual karyanya. Sebab karya arsitektur dalam bentuk foto lebih bernilai di mata konsumen ketimbang hanya desain tiga dimensi.

Karena itu, seorang arsitek juga harus menguasai skill fotografi. Dalam fotografi arsitektur, kata dia, seorang fotografer dituntut mampu mengeksplorasi sebuah karya arsitektur dengan berbagai gaya, sudut pandang, dan komposisi. “Semisal memberi foreground dalam komposisi foto. Ini membantu memperkuat objek foto, khususnya untuk objek yang statis. Kalau objek bentuknya gitu-gitu aja, kita butuh foreground,” kata dia.