Kejar Ketertinggalan, Bupati Gunungkidul Targetkan Peningkatan IPM

Bupati Gunungkidul saat menerima berkas pengesahan raperda dari Ketua DPRD Gunungkidul, Demas Kursiswanto, beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/istimewa
27 Mei 2019 17:12 WIB Rahmat Jiwandono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDULKabupaten Gunungkidul genap berusia 188 tahun, Senin (27/5). Agar semakin maju dan tak tertinggal dengan wilayah lain di DIY, Bupati Gunungkidul, Badingah, menargetkan indeks pembangunan manusia (IPM) di Bumi Handayani meningkat.

Badingah mengatakan saat ini IPM Gunungkidul berada di posisi buncit se-DIY. Masih rendahnya tingkat pendidikan masyarakat menjadi salah satu penyebab rendahnya IPM. "Taraf pendidikan harus ditingkatkan lagi supaya IPM naik," kata Badingah seusai acara resepsi peringatan Hari Jadi ke-188 Kabupaten Gunungkidul yang digelar di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Senin (27/5/2019).

Untuk meningkatkan pendidikan masyarakat, Pemkab Gunungkidul pada Selasa (21/5/2019) menandatangani kesepakatan kerja sama dalam penyelenggaraan pendidikan di luar domisili. Dalam waktu dekat, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) segera membangun kampus di Gunungkidul. "Untuk meningkatkan IPM masyarakat kami harus fokus di bidang pendidikan," kata dia.

Dengan adanya kerja sama antara pemerintah dengan UNY, ia berharap angka IPM di Gunungkidul tidak lagi berada di posisi paling rendah. Ia optimistis jika pembangunan kampus UNY selesai, peningkatan pelayanan di bidang pendidikan akan terpenuhi. "Semoga masyarakat Gunungkidul nantinya semakin berkualitas, tambah cerdas, tingkat pendidikannya tinggi dan bagus. Momentum hari jadi ini menjadi langkah awal kami untuk fokus meningkatkan IPM," kata Badingah.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Gunungkidul, IPM di Gunungkidul pada 2016 sebesar 67,82, sedangkan pada 2017 sebesar 68,73 atau masuk kategori sedang. Artinya, ada peningkatan IPM sebesar 1,34.

Terdapat empat indikator yang memengaruhi IPM yaitu angka harapan hidup (AHH); harapan lama sekolah (HLS); rata-rata lama sekolah (RLS) dan pengeluaran per kapita. Seharusnya lama HLS adalah 12 tahun, tapi faktanya RLS baru sekitar tujuh tahun bagi penduduk usia 25 tahun, atau sebagian besar warga baru tamat SD bahkan kelas 1 SMP dan tidak tamat.

Masih rendahnya tingkat pendidikan juga tercermin dalam tingkat pendidikan yang ditamatkan oleh penduduk berusia 15 tahun ke atas. Sebanyak 58,99% penduduk baru menamatkan sekolah sampai tingkat SD dan SMP, di mana persentase yang tamat SD atau MI sebesar 33,20% dan tamat SMP atau MTs sebesar 25,79%. Tidak hanya itu, ada sebesar 11,51% penduduk Gunungkidul yang berusia 15 tahun ke atas tidak mempunyai ijazah.