Menjelajah Dunia Mistik Dayak lewat Karya Apolaagan

Penampilan Ongki dan kawan-kawan dalam tugas akhirnya yang berjudul Apolagaan, di Concert Hall TBY, Jumat (31/5/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
02 Juni 2019 00:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Notasi musik nuansa Dayak yang dimainkan sekitar 40 player dengan mengenakan kostum khas Dayak, lengkap dengan topi bulu burung Ruai dan tato etnik di sekujur tubuh, menggema di Concert Hall taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jumat (31/5/2019).

Konser ini merupakan tugas akhir mahasiswa Jurusan Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Jogja, bernama Alexander Ongki Anas Pralindo. Dalam pementasan tugas akhir ini ia memilih penciptaan musik dengan idiom sesuai tempat kelahirannya, Kalimantan Barat.

Karya itu berdurasi sekitar 20 menit, berjudul Apolaagan. Pria dengan nama panggung Ongki Matazai ini menjelaskan, dalam kebudayaan Dayak, apolaagan merupakan tempat transisi bagi arwah manusia setelah meninggal, sebelum pergi ke surga. “kalau ada hantu-hantu gentayangan, itu karena mereka tidak menemukan cahaya di apolagaan,” katanya.

Dalam kebudayaan Dayak, tato juga menjadi salah satu tradisi leluhur. Tato ini lah yang akan menjadi cahaya penunjuk bagi arwah di apolaagan. Maka dalam visualisasi karya Ongki, ia juga menampilkan beragam tato khas Dayak yang terpacak di tubuh para pemain.

Sesuai judul karya ini, suasana mistik begitu kental tertuang dalam pertunjukan malam itu. Ongki sukses mengombinasikan berbagai instrument musik mulai dari instrument etnik nusantara, perkusi, bahkan barat seperti biola dan akorden, membentuk alam mistisisme Dayak.

Pimpinan Produksi Tugas Akhir Apolagaan, Bangkit Yudha Prastya, menjelaskan dalam studi etnomusikologi, mahasiswa dituntut untuk mempelajari berbagai instrument musik dari seluruh Nusantara. Sebab itu Ongki memasukkan berbagai instrument di luar etnik Dayak, seperti Gambang dan kromong dari Jakarta, gong dan rebab dari Jawa, dan lainnya.

Meski demikian, setiap komposisi memiliki idiom yang membuat suasana musik tersebut harmoni. Alat music gitar jika dimainkan dengan idiom Jawa, maka suasana musiknya pun akan menjadi Jawa. “nah kalau Ongki ini menggunakan idiom Kalimantan Barat,” kata dia.

Selain komposisi musik, dalam pertunjukan ini Ongki juga melibatkan mahasiswa lintas disiplin ilmu, khususnya dari Fakultas Seni Pertunjukan, seperti mahasiswa tari, teater dan musik. Bangkit mengatakan dalam tugas akhir penciptaan, biasanya memang melibatkan banyak mahasiswa dari jurusan lain.

Di jurusan Etnomusikologi, mahasiswa diberi dua pilihan untuk menyelesaikan studinya, yakni penelitian dan penciptaan. Jika penelitian maka ia hanya akan meneliti karya orang lain. Sementara di penciptaan, mahasiswa harus menciptakan karya dan meneliti sendiri karyanya.

Pilihan kedua itu lah yang diambil Ongki. Kata Bangkit, tugas akhir penciptaan meski kerjaannya dobel dan jauh lebih berat dari segi tenaga dan dana, tapi mahasiswa bisa mendapatkan eksistensi dari sana. “Jadi ajang eksistensi mahasiswa,” kata dia.