Advertisement
Oo .. Begini Aturan Orang Tionghoa Memberikan Nama
Rebecca Kanthor (kiri) dan Liu Jian (kanan) tersenyum saat menggelar upacara pernikahan tradisional Tionghoa di Dong'an, Henan Pusat, Tiongkok, beberapa waktu lalu. JIBI/Reuters - Carlos Barria
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Bagi masyarakat Tionghoa, pemberian nama kepada keturunan tidak boleh dilakukan dengan asal-asalan. Ada aturan yang harus diikuti dan harus memilik arti yang baik karena nama merupakan doa.
Ketua I Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC) Jimmy Sutanto mengungkapkan biasanya ada dua hingga tiga kata dalam nama seseorang. Hal itu tergantung dari keluarga masing-masing. Nama yang paling depan biasanya merupakan marga. Ia menyebutkan ada sekitar 300 marga orang Tionghoa.
Advertisement
"Kedua biasanya nama generasi berdasarkan silsilah. Misalnya satu keluarga pakai nama sesuai silsilah tersebut," jelas dia, Rabu (12/6).
Ia menjelaskan satu nama silsilah digunakan untuk satu generasi. Dan untuk generasi berikutnya ada nama silsilah yang berbeda. Ia menyebutkan ada delapan hingga 12 putaran generasi. "Nanti kalau sudah sampai ke generasi setelah 12 akan kembali ke silsilah pertama," papar dia.
BACA JUGA
Nama generasi ini bisa diletakkan di tengah atau belakang. Untuk nama dengan tiga kata, kata ketiga biasanya memiliki arti yang baik misalnya nama yang berarti makmur, sehat, pandai, dan nama lain dengan arti yang baik. Pasalnya, nama merupakan doa sehingga diharapkan keturunan memiliki nasib yang baik dalam kehidupannya.
Nama Indonesia
Jimmy mengatakan di Indonesia ada keunikan pemberian nama untuk keturunan Tionghoa. Selain memiliki nama Tionghoa, biasanya keturunan Tionghoa juga memiliki nama Indonesia. Hal ini dimulai setelah 1967. Pada pemerintahan saat itu, keturunan Tionghoa diwajibkan untuk menggunakan nama Indonesia, meskipun tetap ada tokoh yang berani menolak aturan tersebut.
"Kondisi ini hanya ada di Indonesia. Di luar negeri, keturunan Tionghoa bisa menggunakan nama Tionghoa tanpa harus mengubahnya," jelas dia.
Biasanya, kedua nama diusahakan memiliki arti yang sama. Untuk nama marga, biasanya diselipkan di nama Indonesia. Jimmy mencontohkan ia memiliki nama marga Tan. Nama marga itu diselipkan di nama Indonesia miliknya yakni Sutanto. "Sekarang rata-pakai nama Indonesia, tetapi ada juga yang menolak," jelas dia.
Dilansir dari Tionghoa.info, Ada sebuah pepatah kuno Konfusius yang cukup terkenal di kalangan warga Tiongkok yakni Ming bu zheng ze yan bu shun, Yan bu shun ze shi bu cheng. Artinya kira-kira, "Ketika nama seseorang tidak tepat, kata-kata seseorang tidak akan diterima. Jika kata-kata seseorang tidak diterima, seseorang tidak dapat mencapai apa pun”.
Pepatah tersebut menjelaskan betapa pentingnya nama seseorang, yang menggambarkan identitas dan kepribadian dari orang tersebut. Pemberian nama pun diberikan dengan memperhatikan fengsui.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Musim Semi Tiba, Keindahan Bunga Sakura di Taman Yuyuantan Beijing
Advertisement
Berita Populer
- Nelayan Bantul Hilang di Muara Opak, Motor Terparkir di Hutan Mangrove
- Angin Kencang di Prambanan: Belasan Rumah Rusak dan Joglo Roboh
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja 29 Maret, Cek Waktu Berangkat
- Volume Surat Menyurat Turun 40 Persen, Ini Strategi Kantor Pos Jogja
- HUT ke-22 Tagana Sleman: Danang Maharsa Puji Dedikasi Relawan
Advertisement
Advertisement








