Ribuan Bangkai Ikan di Laguna Pantai Trisik Ditimbun Pasir

Anggota Kelompok Budi Daya Bandeng Jaya dan sebuah ekskavator sedang menimbun bangkai ikan di Laguna Pantai Trisik, Kecamatan Galur, Rabu (12/6/2019). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
13 Juni 2019 08:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Ribuan ikan yang mati di Laguna Pantai Trisik, Kecamatan Galur, akhirnya dikubur pada Rabu (12/6/2019) pagi. Langkah ini dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit yang berasal dari bangkai ikan.

Kepala Bidang Pemberdayaan Nelayan Kecil Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo, Sugiharto mengatakan keberadaan bangkai ikan dikhawatirkan memunculkan lalat pembawa penyakit. Jika dibiarkan lalat-lalat ini bisa sampai ke permukiman warga yang tak jauh dari laguna.
"Dikhawatirkan bisa mengganggu kesehatan masyarakat. Langkah ini juga untuk mengurangi bau yang ditimbulkan bangkai ikan," kata Sugiharto, di sela-sela proses penguburan bangkai ikan di Laguna Pantai Trisik, Kecamatan Galur, Rabu pagi.

Proses penguburan bangkai yang telah membusuk ini dibantu sebuah ekskavator dan sejumlah anggota Kelompok Budi Daya Bandeng Jaya. Alat berat itu menggali beberapa lubang di tepi barat laguna. Sementara para anggota kelompok menyisir bangkai ikan dari tengah laguna ke dekat ekskavator. Kemudian ikan dimasukkan ke dalam lubang dan ditimbun material pasir. Karena menggunakan bantuan alat, proses itu diperkirakan dapat selesai satu hari.

Sugiharto mengatakan setelah proses ini rampung, pihaknya akan berkomunikasi dengan para petambak untuk mencari solusi ihwal pengelolaan limbah tambak yang diduga mencemari laguna. Kemungkinan aktivitas pembuangan limbah bakal diberhentikan sementara waktu hingga air di laguna kembali bersih.

"Nanti akan kami komunikasikan, apakah pembuangan limbah akan dihentikan sementara atau tidak. Sebab petani juga perlu membersihkan kolam dengan cara membuang limbah demi kesehatan udang," katanya.

Sejauh ini DKP masih sebatas mengimbau kepada para petambak agar tidak membuang limbah ke laguna. Petambak juga diminta membuat bak khusus penampung limbah. "Sebelum dibuang harus diolah dulu di dalam bak. Biar airnya netral dan tidak mencemari laguna," ujarnya.

Ketua Kelompok Bandeng Jaya, Supoyo mengatakan kerugian materi yang diderita akibat kematian ribuan ikan ini mencapai Rp20 juta lebih. Total berat ikan yang mati berkisar dua ton. Meski begitu ia tidak menyalahkan aktivitas tambak yang membuang limbah ke laguna hingga mengakibatkan ribuan ikan milik kelompoknya mati.

Menurut dia, kematian ikan ini lebih dikarenakan faktor alam. Saat musim kemarau, volume air di laguna seluas dua hektare itu menyusut. Ditambah, suhu air menjadi panas, sehingga ikan dipastikan mati.

"Jadi saya luruskan, masalah ikan mati bukan karena tambak. Kemudian tidak ada konflik antara tambak udang dan kelompok bandeng. Warga Trisik juga tidak ada yang dirugikan. Apalagi tiap tahun peristiwa ini memang selalu terjadi," kata dia.

Dibandingkan tahun ini, lanjut dia, jumlah kematian ikan jauh lebih banyak pada 2018 lalu. Total berat ikan yang mati pada tahun itu mencapai tiga ton.

Dia juga memastikan jika tidak seluruh ikan mati. Kematian hanya terjadi pada ikan dewasa. Sementara untuk anak-anak ikan masih hidup dan dalam jangka waktu beberapa bulan ke depan akan tumbuh besar untuk kemudian dipanen.

Terkait penghentian aktivitas pembuangan limbah tambak, bakal tetap dibuang ke laguna, setidaknya hingga ada solusi konkret dari pemerintah.
"Hingga sekarang, pengolahan limbah ini belum ada solusi yang jelas. Memang ada penyuluhan, hanya penyuluhan itu mengarahkan limbah dibuang ke muara, bukan di laguna. Sementara ini kami tetap buang limbah ke laguna," katanya.

Menurut dia, limbah tambak udang justru bermanfaat bagi ikan di laguna. Sebab sisa pakan udang yang ikut terbuang akan menjadi santapan ikan. "Ikan jadi cepet besar dan Itu tidak dipermasalahkan masyarakat," ucap Supoyo. (Jalu Rahman Dewantara)