Malioboro Bebas Kendaraan Bikin Pengusaha Khawatir

Suasana di sekitar kawasan pertokoan Malioboro, Sabtu (7/7 - 2018). Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
15 Juni 2019 17:07 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Para pelaku usaha di kawasan Malioboro masih khawatir dengan penurunan omzet saat uji coba Malioboro bebas kendaraan bermotor diterapkan pada Selasa (18/6/2019) mendatang. Meskipun demikian, mereka akan ikut memantau pelaksanaan uji coba untuk memberikan masukan saat evaluasi.

Ketua PPMAY Sadana Mulyono mengatakan selain kekhawatiran terkait penurunan omzet uji coba yang dilakukan dari pagi hingga malam juga masih menyisakan sejumlah pertanyaan. Mulai soal akses warga yang tinggal di Malioboro.

Dia juga menilai, pelaksanaan uji coba nantinya akan membuat masyarakat yang akan melakukan aktivitas di kawasan Malioboro bingung. Hal itu dikarenakan, belum memadainya sarana dan prasarana parkir.

"Saya rasa akan muncul banyak kekagetan di masyarakat. Mereka pasti juga akan kebingungan," katanya saat dihubungi Harian Jogja, Jumat (14/6/2019).

Menurutnya, rencana uji coba dengan tetap memberikan ruang akses untuk melintasi kawasan Malioboro cukup aneh. Jika memang Pemerintah ingin menjadikan Malioboro sebagai kawasan pedestarian harusnya dilakukan penutupan secara full. Dia beralasan, selama ini sirip-sirip jalan di Malioboro sudah dipenuhi oleh parkir kendaraan dan PKL. Kondisi yang crowded itu bisa dijadikan sebagai bahan untuk evaluasi secara menyeluruh terkait penataan Malioboro.

"Aneh juga kalau hanya dilakukan secara parsial. Tapi apapun itu kami akan ikut memantau," katanya.

Awalnya, Sadana mendapatkan sosialisasi pelaksanaan uji coba dilakukan selama tiga hari. PPMAY pun gusar karena banyak persoalan yang bisa muncul. Selain akses penghuni kawasan Malioboro terganggu, kegiatan loading barang-barang yang masuk ke toko juga akan ikut terganggu. Namun setelah mengetahui jika pelaksanaan uji coba hanya dilakukan satu hari, dia berharap hal itu tidak berdampak buruk bagi aktivitas ekonomi di kawasan Malioboro.

"Kalau kemudian uji coba nanti untuk mengetahui masalah-masalah yang akan ditimbulkan, terutama bagi warga yang tinggal di Malioboro, silahkan. Kami akan ikut memantau dan mengevaluasi," katanya.

Yulianto pemilik toko sepatu di Malioboro juga mengaku masih khawatir dengan dampak negatif dari uji coba tersebut. Alasannya, banyak potensi masalah yang belum diselesaikan oleh pemerintah.

"Kami PPMAY hanya bisa bersuara demikian, kasihan seperti Ibu nya Bu Ana, toko Istana Batik, Selatan Ramai Mall, yang usianya 86 tahun, untuk mobilitas nya bagaimana?" tanya dia.

Berbeda dengannya, Ketua Paguyuban Pengusaha Malioboro (PPM) Budhi Susilo mengaku mendukung kebijakan pemerintah. Menurutnya, Malioboro sebagai kawasan pedestarian susah ada sejak dahulu kala.

"Malioboro nama aslinya Mulyo in Bowo. Dulunya begitu. Sudah ada sejak dulu. Makanya kami mendukung kebijakan pemerintah," katanya.

Yang penting, katanya, Pemerintah juga harus menyelesaikan penataan PKL. Karena penataan PKL di Malioboro menjadi hal yang krusial.

"Tidak ada PKL di depan toko. PKL jelas melanggar. Dodolan kok di lahan orang. Ini tentu pelanggaran hukum yang harus diselesaikan Pemerintah," katanya.