Banyak Pembangunan, Jumlah Warga Kulonprogo yang Merantau Menurun

Pembangunan terminal Bandara Internasional Yogyakarta di Kulonprogo, Sabtu (6/4/2019). - Harian Jogja/Budi Cahyana
18 Juni 2019 23:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Jumlah warga Kulonprogo yang bekerja di luar daerah menurun. Salah satu penyebabnya Kulonprogo memasuki fase pembangunan besar-besaran, terlebih dengan beroperasinya Yogyakarta Internasional Airport (YIA).

 “Memang trennya sekarang berubah sejak ada bandara. Warga lebih memilih kerja di tempat asal tetapi ya masih ada yang tetap ke luar daerah karena itu hak mereka [warga],” kata Kepala Bidang Pengembangan Dan Penempatan Tenaga Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kulonprogo, Susilo, Selasa (18/6/2019).

Klaim ini berdasarkan data pencari kerja Disnakertrans Kulonprogo. Pada 2017, saat YIA mulai dibangun, jumlah Angkatan Kerja Antar Daerah (AKAD) sebanyak 761 orang dan Angkatan Kerja Antar Negara (AKAN), 670 orang. Setahun kemudian, AKAD turun menjadi 570 orang dan AKAN, sebanyak 529.

Data sementara sampai Mei 2019, warga Kulonprogo yang mencari kerja luar daerah sebanyak 70 orang dan AKAN 133 orang. Namun, data ini kemungkinan bisa berbeda dengan fakta di lapangan sebab tak semua pencari kerja mengurus pendataan di Disnakertrans.

Selain karena bandara dan masifnya pembangunan, perubahan pola pikir masyarakat Kulonprogo turut mempengaruhi penurunan tersebut. Kini, masyarakat mulai beralih dari bermimpi menjadi karyawan ke membuka usaha mandiri.

Susilo memaparkan hal ini dibuktikan dengan menjamurnya usaha mikro kecil menengah (UMKM). Tren ini juga menjangkiti kalangan muda produktif yang kini tak segan-segan menjadi wirausaha dibandingkan pegawai.

Warga Desa Bendungan, Kecamatan Wates, Agus, 26, mengaku kini memilih mengadu nasib di Kulonprogo setelah pernah bekerja di sejumlah perusahaan di area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi serta Sumatra.

Menurut dia, gaji di tempat rantau lebih tinggi dibandingkan upah minimum regional (UMR) sehingga ia mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sisa gajinya juga cukup untuk membantu orang tua di rumah.

Dipalak Preman

Namun, hal itu nyatanya tak membuat ia bertahan lama. Di Sumatra, Agus bekerja di salah satu perusahaan konstruksi kurang dari setahun. Di pulau itu, beban kerja cukup tinggi bahkan memaksanya memiliki dobel tanggung jawab.

“Saya yang basisnya ke teknis juga disuruh mengerjakan administrasi. Jadinya cukup berat,” kata pria yang kini bekerja di proyek YIA itu. Tekanan kerja yang tinggi bukan satu-satunya alasan. Faktor budaya juga diakui cukup mempengaruhi betah tidaknya ia kerja di sana.

Itulah yang melatarbelakangi dirinya untuk pulang ke kampungnya di Kulonprogo. Di tempat kelahirannya, meski penghasilan tak seberapa tetapi lebih nyaman. Di samping itu juga jadi dekat dengan keluarga dan masyarakat sekitar.

Triyono, 25, juga mengungkapkan hal senada. Ia yang pernah bekerja di kawasan Jabodetabek hingga Kalimantan mengamini pernyataan Agus. Di Jakarta, ia yang bekerja di sektor konstruksi bangunan bahkan beberapa kali harus berurusan dengan para preman.

Beberapa kali, nyawanya sempat terancam saat dirinya berusaha mempertahankan harta bendanya. “Sempat dipalak dan diancam pakai pisau sama preman saat pulang kerja. Ya saya berusaha melawan. Alhamdulillah selamat,” katanya.

Kini Triyono sudah berada di kampung halaman dan mengandalkan pertanian keluarganya untuk memenuhi kebutuhan. “Saya juga jadi nelayan di pesisir, mencari undur-undur, hasilnya lumayan. Sehari bisa bawa pulang uang Rp100.000,” ucap pria asal Kecamatan Wates tersebut.