Penjenamaan Badan Keswadayaan Masyarakat Harus Ditingkatkan

Peserta dari BKM se-DIY mengikuti Pelatihan Media Warga, Sabtu (22/6/2019). - Harian Jogja/Lugas Subarkah
23 Juni 2019 23:57 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Banyak potensi Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang bisa dijual, sayangnya banyak tidak terekspos. OSP 2 DIY dalam program Kotaku, menggelar Pelatihan Media Warga yang melibatkan BKM Desa dan Keluraha se-DIY, Sabtu (22/6/2019).

Ketua panitia, Hana Anggraeni, mengatakan pelatihan ini diikuti 46 peserta dari 23 BKM. Dengan pelatihan ini diharapkan setiap BKM mampu memaksimalkan fungsi media, baik media massa maupun media swadaya, sebagai penyalur informasi kegiatan BKM.

Dalam pelatihan ini, OSP 2 DIY bekerja sama dengan Harian Jogja sebagai narasumber untuk materi dasar kepenulisan. Beberapa poin yang diberikan di antaranya dasar-dasar teknik menulis, menentukan tema yang menarik, membuat lead menarik dan menentukan apa, siapa, di mana, siapa, mengapa dan bagaimana.

Kemudian disambung dengan materi layout dan praktik yang diisi oleh pendamping BKM, meliputi menentukan rubrik, menentukan konsep layout dan mengisi konten setiap rubrik. “Selain itu untuk membangun relasi dengan media juga, dalam hal ini Harian Jogja,” katanya, Sabtu.

Hana menjelaskan BKM merupakan lembaga nirlaba di luar organisasi kepemerintahan, dengan kegiatan fokus pada pembangunan dan penataan lingkungan. Kegiatan yang sedang dilakukan sekarang meliuti penataan kawasan kumuh pinggir sungai seperti Code dan Gajahwong.

Team Leader OSP 2 DIY, Muhammad Imam Santosa, mengatakan dengan media, BKM akan memiliki branding lebih besar. Karena sifatnya nirlaba dan anggotanya berstatus relawan, ia mengimbau BKM membuat unit usaha sendiri. “Kalau bisa lepas dari dana program pemerintah,” ungkapnya.

Dia mencontohkan di desanya, Tegaldowo, Bantul, BKM membangun jembatan gantung yang bisa membuka peluang ekonomi bagi masyarakat. Contoh lain di giwangan, yang warganya selain bisa menata sungi juga membuat wisata alternatif berupa trip dengan kapal.

Selain fisik, potensi yang ada di masyarakst juga harus dimaksimalkan. Ia mencontohkan seperti di Muja Muju ada kuliner sate, di Gowongan ada kerajinan. “Kalau cuma fisik, setahun-dua tahun sudah gak seger lagi,” ucapnya.

Imam menambahkan basis BKM adalah desa dan kelurahan, di Kota Jogja semua kelurahan ada, di Sleman ada di 75 desa, Bantul 51 desa. Kulonprogo cuma yang di kota sedangkan di Gunungkidul dilepas sejak PNPM Mandiri tidak diteruskan pada 2014.