Muncul Wacana Bus Besar Dilarang Masuk Kota Jogja Setiap Selasa Wage

Warga berekspresi dan berfoto saat Uji Coba Semi Pedestrian Jalan Malioboro di Jalan Malioboro, Jogja, Selasa (18/6). - Harian Jogja/ Gigih M. Hanafi
26 Juni 2019 07:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Pemerintah Daerah (Pemda) DIY dan Pemkot Jogja sudah melakukan evaluasi terkait pelaksanaan program semi pedestarian kawasan Malioboro. Salah satu isu yang muncul adalah larangan bus besar masuk ke dalam wilayah Kota setiap Selasa Wage.

Kelapa Dinas Perhubungan (Dishub) DIY Sigit Sapto Raharjo mengatakan wacana itu muncul selama evaluasi berlangsung pada Selasa (25/6/2019).

"Ini masih wacana. Belum disetujui. Nanti bus-bus wisata setiap Selasa Wage bisa parkir di luar kota, tidak boleh masuk ke dalam kota," katanya usai rapat.

Sejumlah tempat yang jauh dari kota, kata Sigit, seperti Eks STIEKers, JEC, Terminal Jombor maupun Terminal Giwangan bisa dijadikan tempat parkir bus wisatawan. Adapun kendaraan freeder untuk mengangkut para wisatawan bisa menggunakan Transjogja. Bisa juga menggunakan shuttle wisata 'Si Thole'.

Pelarangan bus-bus wisata untuk masuk ke area kota itu bertujuan agar pada uji coba semi pedestrian kawasan Malioboro pada Selasa Wage mendatang masalah parkir bisa diatasi. "Kalau ini dilakukan maka TKP Abubakar Ali, Ngabean, Senopati dan lainnya akan diisi dengan parkir sepeda motor dan mobil," katanya.

Selain itu, dalam evaluasi juga diusulkan adanya penambahan rambu-rambu petunjuk kepada masyarakat. Pemasangan rambu tambahan seperti penunjuk arah juga dilakukan tidak hanya di sekitar kawasan Malioboro tetapi juga di lokasi lainnya yang menuju Malioboro. Sepeti kawasan Kridosono. "Nanti akan dibuat pos-pos terpadu yang terpusat di UPT Malioboro," katanya.

Dishub juga mengevaluasi jumlah personel yang mengawasi jalannya uji coba. Secara jumlah, kata Sigit, sudah cukup hanya saja persebarannya akan diperluas. Dishub juga akan melibatkan Satpol PP untuk menertibkan gerobak-gerobak milik PKL yang ditaruh di sirip-sirip Malioboro.

"Jalan Perwakilan nantinya akan dibuat dua arah, tidak seperti kemarin yang satu arah. Ini sebagai akses untuk ke DPRD agar tidak mutar," katanya.

Sebelumnya, Walikota Jogja Haryadi Suyuti mengatakan semi pedestarian di Malioboro bukan untuk mematikan pedagang tapi justru menambah meramaikan pedagang. Yang penting, katanya, akses parkir bisa dipermudah. Seperti akses untuk parkir di Malioboro Mall.

"Kalau kapan diterapkan semi pedestarian ini? Kami harap tahun ini dilaksanakan Malioboro jadi semi pedestarian, setelah melalui beberapa kali uji coba," kata Haryadi.

Kekosongan Malioboro selama Selasa Wage akan diisi dengan berbagai kegiatan seni dan budaya. "Ada pantomim, musik akustik dan lainnya yang bisa menikmati masyarakat. Itu sore sampai malam. Sebab kalau pagi sesuai dengan komitmen awal, akan merawat [bersih-bersih] Malioboro," katanya.

Dia mengatakan, selama ini Malioboro lebih banyak dilewati oleh masyarakat bukan pengunjung. Oleh karenanya, Pemerintah akan lebih mempermudah akses parkir agar yang berkunjung ke Malioboro bisa memilih parkir sesuai kebutuhannya. "Ini yang akan kami lakukan ke depan. Supaya yang hanya lewat Malioboro, bisa mengakses parkir sesuai kebutuhannya," kata Haryadi.