Berada di Lingkungan Kraton Ngayogyakarta, Kelurahan Panembahan Terus Bersolek

Warga melintasi salah satu jalan di kawasan kelurahan Panembahan yang terlihat asri, Selasa (25/6/2019). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
26 Juni 2019 08:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Kegiatan fisik kembali dilakukan oleh kelurahan. Langkah ini dilakukan setelah sebelumnya, selama Ramadan, tidak ada kegiatan fisik yang laksanakan.

Salah satunya, di Kelurahan Panembahan, Kecamatan Kraton. Tahun ini, selain pembangunan sumur-sumur resapan kegiatan fisik seperti pembangunan paving blok.

"Pengerjaannya dilakukan di beberapa lokasi. Fungsinya untuk memperlancar fasilitas umum. Sebagian paving blok juga ada yang rusak, terutama di jalan kampung," kata Lurah Panembahan, Purnama, Selasa (25/6/2019).

Selain di perbatasan antara RW 15 dan RW 16, pemasangan paving blok dilakukan di sepanjang museum Sonobudoyo Unit 2 ke Selatan hingga tembus jalan Kemitbumen, Panembahan. "Lainnya kami pasang paving blok di RW 10," katanya.

Sebagai kelurahaan yang berada di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, karakteristik kelurahaan tersebut berbeda dengan kebanyakan kelurahan. Selain keterbatasan lahan, rumah-rumah penduduk dikelilingi oleh kokohnya benteng keraton.

Selama kemarau ini, proyek pengerjaan sumur-sumur resapan juga dilakukan di beberapa titik. Hal itu untuk mengantisipasi adanya genangan jika musim penghujan tiba. Pasalnya, jika curah hujan tinggi, maka air hujan dari ruas Jalan Gamelan masuk ke barat ke wilayah Suryoputran.

Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian kelurahaan. Sebab berdasarkan topografi, Kampung Suryoputran bagian selatan ini lebih rendah dibanding wilayah lainnya. Meskipun banyak terdapat saluran drainase dan saluran air hujan, namun kondisinya tidak optimal. Ini disebabkan air dari sisi Utara banyak yang mengalir ke sisi Selatan.

Sebenarnya, kata Purnama, ada saluran air hujan (SAH) di bawah Benteng. Hanya saja, volume SAH yang tersedia cukup sempit. Tidak sebanding dengan volume air yang masuk. Muncul ide untuk melebarkan SAH tersebut, namun karena bisa merusak benteng sebagai bangunan cagar budaya (BCB), ide tersebut urung dilakukan.

"Sebagai solusinya, dibuatkan sumur-sumur resapan baik di sekitar benteng maupun halaman rumah-rumah warga. Karena program-program saat ini lebih fokus ke kampung-kampung, maka penempatan sumur-sumur resapan juga dilakukan di halaman rumah warga," katanya.

Dia mengatakan, pembangunan sumur-sumur resapan tersebut sudah dimulai sejak tahun lalu. Tahun lalu, ada sekitar 40 sumur resapan baru yang dibangun dan sudah diserahkan terimakan tahun ini. Itu belum termasuk sumur resapan yang diperbaiki (lumpur diambil) sebanyak 20 unit.

Tahun 2019, katanya, berdasarkan hasil Musrenbang kelurahan akan ditambah sekitar 44 sumur resapan baru. "Dananya diambil dari dana kelurahaan," katanya.

Bersoleknya kawasan kelurahan Panembahan dilakukan untuk mempercantik wilayah tersebut. Apalagi, Pemda DIY juga akan memiliki proyek besar di wilayah ini. Yakni, revitalisasi pojok benteng yang berada di sisi timur Utara.

Saat ini proses pengembalian fasad benteng yang rusak dalam proses pembebasan lahan. Warga yang tinggal di dalam benteng sudah menerima kompensasi karena tinggal di lahan Magersari.

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY Aris Eko Nugroho mengatakan pemugaran pojok benteng tersebut bagian dari amanat undang-undang dan Perda Keistimewaan di mana Pemerintah berkewajiban untuk menyelamatkan tradisi dan warisan leluhur.

"Untuk desain pemugaran, pada prinsipnya seperti tiga Jogteng yang lainnya. Hanya saja untuk desain sampai saat ini desain yang disiapkan belum disetujui," katanya.