Kendalikan Harga Ayam, Jumlah DOC Akan Dikurangi

Ilustrasi ternak ayam. - Bisnis/Rachman
27 Juni 2019 03:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Terkait gejolak harga komoditi ayam, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman mengaku tidak bisa mengambil langkah intervensi. Hal itu disebabkan, kewenangan Disperindag sebatas menyangkut distribusi, sedangkan persoalan harga, sepenuhnya diserahkan mekanisme pasar.

Kepala Disperindag Sleman Tri Endah Yitnani, mengatakan jika pihaknya sudah berkoordinasi dengan Disperindag provinsi, dan ada kesepakatan dengan peternak untuk mengurangi DOC (daily old chicken/bibit ayam).

"Dalam waktu dekat, Kemendag akan menerbitkan surat edaran tapi sifatnya hanya edaran," kata Tri Endah, Rabu (26/6/2019).

Tri Endah mengatakan, anjloknya harga ayam di level peternak dipengaruhi oleh suplai yang berlebih. Sementara itu, permintaan dari konsumen turun. Hal ini turut dipengaruhi berkurangnya selera konsumen mengkonsumsi ayam broiler, kecuali di sektor industri kuliner.

Menyikapi masalah over suplai, Tri Endah memandang perlu adanya penyesuaian antara produsen dan importir. Pihaknya memprediksi merosotnya harga ayam hanya terjadi sementara waktu, lantaran sudah ada tindak lanjut pengurangan DOC, bahkan sebagian telah dimusnahkan.

Selama ini, lanjut Tri Endah, stok daging ayam di pasar wilayah Sleman banyak yang berasal dari luar daerah seperti Magelang. Kebutuhan daging ayam untuk konsumsi hotel, restoran, dan katering tercatat sekitar 300 kuintal per hari. Di tingkat pedagang, harga daging ayam relatif normal yakni di kisaran Rp29.000-Rp33.000 per kilogram.

Keuntungan ekonomi itu nyatanya tidak dinikmati oleh peternak. Di kandang, ayam hanya dihargai Rp 7.000-Rp 8.000/kg. Itu pun peternak kesulitan mencari pasar lantaran stok yang berlebih.

Ketua Asosiasi Peternak Ayam Yogyakarta (Apayo) Hari Wibowo mengungkapkan, anjloknya harga ayam sudah berlangsung sejak September 2018.

Hari mengatakan, penyebabnya sendiri ditengarai karena stok ayam yang melimpah sehingga para peternak bersaing dengan menurunkan hingga nominal yang tidak wajar.

Standarnya, lanjut Hari, harga pokok penjualan ayam rata-rata Rp18.500. Dengan harga yang ada sekarang, peternak rugi hingga Rp20.000 per ekor.

"Jumlah anggota kami dulu ada sekitar 400 peternak tapi sekarang banyak yang gulung tikar karena merugi," tutupnya.