Gojek Beri Edukasi Antikekerasan

Senior Manager Corporate Affairs Gojek Alvita Chen (dua kiri), Co-Director Hollaback! Jakarta Anindya Restuviani (tiga kiri), Training Officer Rifka Annisa Women's Crisis Center Khoirun Nimah (dua kanan), Yohana Santi Roestriyani perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi DIY (paling kanan) dalam jumpa pers di restoran Kenes, Sleman, Kamis (11/7/2019). - Harian Jogja/Kusnul Isti Qomah
11 Juli 2019 21:32 WIB Kusnul Isti Qomah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Sebagai penyedia layanan on-demand terbesar di Indonesia, Gojek berkomitmen untuk menghadirkan ruang yang aman bagi seluruh pengguna. Bagi Gojek, mengusahakan keamanan pengguna bukan hanya melulu mengenai pengembangan fitur. Ruang yang aman itu hanya bisa diwujudkan dan dipertahankan melalui edukasi yang bersifat preventif.

Alvita Chen, Senior Manager Corporate Affairs Gojek mengatakan rasa aman adalah kebutuhan mendasar bagi mitra dan pengguna. Ia mengungkapkan memang betul pengembangan fitur dapat menopang rasa aman pengguna ketika sedang dalam perjalanan, tetapi edukasi mitra tidak boleh dilupakan.

"Edukasi mitra membekali dengan pengetahuan yang tepat sehingga tahu bagaimana caranya mencegah hal-hal yang dapat menyebabkan gangguan keamanan. Dengan demikian, terbentuk budaya peduli aman di lingkungan mereka masing-masing,” ujar dia dala jumpa pers di restoran Kenes, Sleman, Kamis (11/7).

Berangkat dari kepedulian Gojek akan mengupayakan edukasi mitra. Gojek menjadi pelopor di industri ride-hailing dalam meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat mengenai kekerasan di ruang publik, termasuk kekerasan seksual. Untuk itu, Gojek berinisiatif menggandeng Hollaback! Jakarta, organisasi nirlaba yang berfokus mencegah dan menghentikan kekerasan seksual di ruang publik.

Melalui kerja sama tersebut, mitra Gojek diberikan pelatihan tatap muka. Khusus di DIY, Gojek juga menggandeng Rifka Annisa Woman Crisis Center yang mewakili organisasi masyarakat di tingkat lokal sehingga materi pelatihan menjadi semakin komprehensif.

Ia memaparkam kegiatan edukasi tatap muka seperti ini, telah menjangkau lebih dari 4.000 mitra di lebih dari 30 kota di Indonesia. Selain Mitra Go-ride dan Go-Car, edukasi serupa diberikan pula kepada Mitra Go-Massage-layanan on-demand pijat profesional yang merupakan bagian dari Go-Life.

"Dalam waktu dekat, modul pelatihan hasil kerja sama kami dengan pakar-pakar terkait juga akan segera diluncurkan sehingga semakin banyak masyarakat yang mengambil bagian dalam menciptakan budaya peduli aman,” jelas Alvita.

Selain memberikan edukasi yang bersifat preventif, Gojek juga menurunkan risiko keamanan melalui pengembangan fitur keamanan yakni Bagikan Perjalanan (Share Trip) dan Tombol Darurat (Emergency Hotline). Gojek juga menyediakan unit darurat khusus yang aktif 24 jam sehingga sigap merespons laporan atas kasus-kasus khusus. Unit darurat khusus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menawarkan bantuan yang menyeluruh mulai dari penelusuran laporan, tindakan medis, pemeriksaan fisik, pemulihan psikis dan trauma, dan pendampingan hukum.

Anindya Restuviani, Co-Director Hollaback! Jakarta mengatakan pihaknya mengapresiasi langkah yang telah dilakukan Gojek. Sebagai perusahaan penyedia layanan on-demand yang bermitra dengan jutaan masyarakat, kerja sama ini tentu membawa angin segar bagi gerakan melawan kekerasan di ruang publik.

Melalui pelatihan ini, keamanan layanan Gojek semakin diperkuat karena mitra yang sudah mendapatkan pelatihan didorong untuk membagikan pengetahuan yang mereka terima kepada rekan-rekannya dan pengguna. Selain itu, peserta pelatihan juga mampu mengambil tindakan intervensi untuk kekerasan seksual di ruang publik.

Training Officer Rifka Annisa Women's Crisis Center  Khoirun Ni’mah mengatakan di DIY layanan Gojek terbukti memudahkan mobilitas masyarakat. Keberadaan pelatihan seperti ini, memperkuat kepercayaan masyarakat atas layanan Gojek.

"Kegiatan edukasi, menjadi langkah pencegahan yang mampu meminimalisir gangguan keamanan dan rasa khawatir masyarakat saat menggunakan transportasi umum," kata dia.

 Yohana Santi Roestriyani, yang mewakili Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk Provinsi DIY, mengatakan dengan adanya kegiatan edukasi ini, ia pribadi merasa aman dan nyaman ketika memesan layanan Gojek.