Sungai Dikuras, Ribuan Ha Sawah Terganggu

Seorang warga menunjukkan dampak proyek pembangunan talut Sungai Serang yang berdampak pada kerusakan rumah di Dusun VI, Desa Karangwuni, Kecamatan Wates, Kamis (29/11/2018). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
12 Juli 2019 05:57 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Kantor Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman Kulonprogo mencatat ada sekitar 1.087 hektare (ha) lahan pertanian yang terganggu aktivitas pengurasan Kali Serang yang mesti menutup Bendung Pekik Jamal sejak 15 Juni 2019.

Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPKP Kulonprogo Hadipriyanto menuturkan penutupan Pekik Jamal membuat ketersediaan air bagi petani terganggu. Ada dua desa yang lahan sawahnya terganggu, yakni Karangwuni, Kecamatan Wates dan Pleret, Kecamatan Panjatan.

“Petani yang terdampak sebelumnya sudah diberi sosialisasi tetapi tetap saja ada petani yang terlambat tanam. Sawah yang semestinya tinggal menunggu panen malah mulai ditanami,” ungkapnya, Kamis (11/7/2019).

DPUPKP mengira semua petani tinggal masuk musim tanam ketiga dengan menanam palawija yang tidak terlalu membutuhkan ketersediaan air dari irigasi. Untuk mengatasi permasalahan dampak ketersediaan air di dua desa tersebut, akan ada koordinasi lebih lanjut dengan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo.

Kepala DPUPKP Kulonprogo Gusdi Hartono mengungkapkan pengurasan aliran Sungai Serang dan penutupan Pekik Jamal dilakukan untuk memperbaiki tanggul yang jebol saat banjir pada Maret lalu.
Perbaikan tanggul sempat dilakukan setelah banjir surut namun hanya perbaikan sementara saja.

“Rencananya penutupan [Pekik Jamal] sampai akhir tahun. Sudah disosialisasikan kepada warga dan petani pengguna air. Mereka sudah setuju proyek ini,” tuturnya.