Yang Terjadi Ketika Anak-Anak di Wilayah Rawan Tsunami Mendapatkan Pemahaman Mitigasi Bencana

Sukarelawan Ekspedisi Destana Tsunami memberikan sosialisasi kebencanaan di SDN Songbanyu 1, Gunungkidul, Kamis (25/7/2019). - Harian Jogja/Sunartono
28 Juli 2019 19:57 WIB Sunartono Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Tim Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami yang dilepas dari Banyuwangi memasuki wilayah Gunungkidul. Apa saja yang dilakukan untuk mengedukasi masyarakat dari bencana tsunami. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Sunartono.

“Kalau ada gempa lindungi kepala,

Kalau ada gempa masuk ke kolong meja

Kalau ada gempa, hindari kaca

Kalau ada gempa lari ke tanah lapang.”

Lagu itu terdengar dari halaman SDN Songbanyu, Girisubo, Gunungkidul, tersebut dibawakan dengan penuh kegembiraan oleh siswa-siswi di sekolah yang berada di Dusun Songbanyu I, di sisi timur Bengawan Solo purba.

Pada Kamis (25/7/2019) seluruh siswa kelas I hingga kelas VI dikumpulkan di lapangan sekolah untuk mendapatkan pengetahuan sederhana tentang mitigasi bencana dari Tim Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) Tsunami.

Lagu itu dipilih oleh sukarelawan agar penyampaian materi mudah diterima. Lagu itu bercerita tentang tsunami yang selalu diawali dengan gempa. Sementara, gempa merupakan kejadian alam yang harus direspons dengan kesiapsiagaan. Sejumlah siswa sebenarnya sudah memahami seluk beluk tsunami, tetapi informasi itu mereka dapatkan dari berita di televisi maupun medsos.

Meski tinggal di pelosok, bocah-bocah itu tetap bisa menikmati jaringan Internet yang lancar, dan bisa mengakses informasi lewat ponsel milik orang tua mereka.

"Saya tahu tsunami dari berita," ucap Ridho Arupandika siswa Kelas III SDN Songbanyu 1 saat berbincang dengan Harian Jogja.

"Biasanya sering main hape, pernah lihat di hape," ujar siswa-siswa lainnya yang berada di samping Ridho.

Kepala SDN Songbanyu, Girisubo, Gunungkidul Marwati mengatakan sekolahnya terakhir kali mendapatkan sosialisasi serupa sekitar lebih dari delapan tahun lalu dari salah satu lembaga swadaya masyarakat (LSM). Kedatangan sukarelawan ekspedisi destana tsunami tentu bisa me-refresh pemahaman siswa dan guru tentang bencana gempa dan tsunami.

"Karena ini diberikan langsung oleh ahlinya, selain itu kalau ada narasumber baru akan lebih mengena pada anak-anak dan mereka [siswa] juga merespons baik," kata dia.

Ia menyadari sekolahnya termasuk paling rawan tsunami karena paling dekat dengan pantai. Dengan kemampuan seadanya, para guru sudah diminta untuk mengintegrasikan pendidikan kebencanaan ke dalam mata pelajaran. Mulai dari memberikan pemahaman kepada siswa tentang jenis bencana yang disebabkan akibat manusia dan tidak disebabkan manusia.

"Kami menyisipkan di pelajaran, ketika ada gempa apa yang harus kami lakukan, ada tsunami bagaimana, bisa enggak dicegah," ujarnya.

Dia mengharapkan ada pelatihan untuk guru atau bantuan baik berupa alat atau instrumen lain maupun dana untuk melatih para siswa. "Semoga  tidak berhenti di sosialisasi," ucapnya.

Selain sekolah, sukarelawan juga menyasar pasar, puskesmas, tempat ibadah hingga permukiman penduduk. Kemudian pada sore hari digelar olahraga bersama masyarakat. Pada malam hari, film kebencanaan diputar dan kesenian rakyat dipentaskan. Seluruh peserta wajib mengikuti briefing evaluasi dan perencanaan pada malam hari.

Para sukarelawan sudah diberi pembekalan untuk dapat menyesuaikan dengan objek sosialisasi. Sosialisasi kepada masyarakat itu diharapkan bisa lebih meningkatkan ketangguhan dalam menghadapi bencana terutama tsunami.

"Tentu saja bahasa penyampaian dengan bahasa lokal yang dimengerti oleh masyarakat desa. Tidak mungkin kami dari BNPB jauh-jauh dari Jakarta misalnya bicara dengan bahasa Jakarta, akan lebih tepat jika kemudian bicara sesuai dengan kearifan lokal," ujar Direktur Pemberdayaan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana Lilik Kurniawan.

Ekspedisi destana tsunami direncanakan menyasar 584 desa dari Banyuwangi sejak 12 Juli 2019 dan akan berakhir di Serang, Banten pada 17 Agustus 2019. Ekspedisi ini terbagi dalam empat segmen, wilayah DIY masuk segmen kedua pada lima titik pantai selatan yang akan menyasar sekitar 39 desa rawan tsunami.

Pembekalan

Ratusan sukarelawan dari Pusat maupun daerah yang menjadi peserta Ekspedisi Destana Tsunami tiba di Pantai Sadeng, Gunungkidul pada Rabu (24/7/2019) dan langsung mendapatkan pembekalan materi dari tim ahli Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Mereka berasal dari banyak lembaga, mulai dari pemerintah dan swasta. Akademisi dari sejumlah perguruan tinggi pun terlibat hingga kementerian lembaga. Di Dermaga Sadeng, para sukarelawan dari berbagai latar belakang ini tidur dalam tenda. Panitia menyediakan tiga tenda berukuran besar sebagai tempat istirahat. 

Kamis menjadi hari pertama terjun ke masyarakat. Berkejaran dengan terik Matahari, puluhan sukarelawan mulai bergerak menyasar pemukiman penduduk, sekolah, pasar hingga puskesmas yang berlokasi di kawasan rawan terdampak tsunami untuk memberikan sosialisasi secara langsung tentang tsunami dan cara mengevakuasi diri.

Sukarelawan dibagi menjadi 13 kelompok. Mereka naik kendaraan menuju titik yang disasar. Setiap kelompok terdiri atas lima hingga 10 orang. Tak sedikit di antara mereka yang membawa kendaraan roda empat milik instansi masing-masing. Adapun jarak titik sosialisasi dengan tenda markas sukarelawan berkisar antara empat kilometer hingga 15 kilometer. Sejumlah sekolah rawan tsunami yang menjadi sasaran sosialisasi mitigasi antara lain, SDN Songbanyu 1, SDN Gabugan, SMK Taman Dewasa, SDN Balong, SDN Belik, SD Muhammadiyah Purwodadi, SDN Pucung, SMP 3 Girisubo dan SDN Purwodadi. Selain itu puskesmas dan pasar di kawasan Girisubo juga turut disasar sukarelawan.

Sebagian dari sukarelawan yang terdiri atas akademisi dan tim dari BNPB berada di markas untuk memberikan sosialisasi dan dialog tentang bencana tsunami kepada para pejabat desa dan tokoh masyarakat di wilayah pesisir Girisubo dan Tepus di Aula Pelabuhan Sadeng.