Kisah Ruhaeni Intan, Penulis Jogja yang Tembus Kusala Sastra 2026
Kisah Ruhaeni Intan di Jogja, mengolah kegelisahan perantau jadi strategi menulis hingga tembus Kusala Sastra 2026.
Suasana FGD Strategi Pengembangan Kawasan Kotagede sebagai Destinasi Wisata Budaya, Kamis (1/8/2019)./Harian Jogja-Abdul Hamid Razak
Harianjogja.com, JOGJA—Kawasan Kotagede, Jogja, terus didorong untuk menjadi heritage city, atau kawasan budaya yang berbasis heritage. Untuk itu diperlukan sebuah badan khusus yang mengelola kawasan itu.
Kabid Area III Regional II Destinasi Pariwisata Kemenpar Ida Widayanti Bandiah mengatakan Kotagede bisa dijadikan destinasi heritage city atau sebutan lainnya minimal mengenalkan satu kawasan yang bisa menjadi tujuan wisatawan.
Ida mengatakan tidak ada pengelola yang berbentuk badan atau instansi lainnya yang khusus mengelola suatu kawasan wisata di Kotagede. Di Kotagede, kata dia, memang ada wadah berbentuk forum, hanya forum tersebut bertugas untuk menjaga kelestarian kawasan heritage.
Badan atau lembaga ini, lanjut Ida, bisa mengelola dan mengembangkan hingga meningkatkan pelayanan destinasi wisata di Kotagede. "Tidak ada badan pengelola di Kotagede. Hanya ada forum yang fokus untuk menjaga pelestarian heritage. Harus ada badan atau lembaga khusus, ini tugas pemerintah daerah," katanya katanya di sela-sela focus group discussion (FGD) Strategi Pengembangan Kawasan Kotagede sebagai Destinasi Wisata Budaya di Hotel Herper Jogja, Kamis (1/8/2019).
Padahal, lanjut Ida, sudah ada masterplan untuk pengembangan kawasan tersebut sejak 2009 namun belum ada kajian kawasan Kotagede mau dikembangkan ke arah mana? Oleh karenanya, lanjut Ida, Kemenpar mendorong agar pengelolaan kawasan wisata Kotagede bisa segera diwujudkan.
Kabid Pengembangan Destinasi Wisata Dinas Pariwisata (Dispar) DIY, Arya Nugrahadi mengatakan organisasi pengelola Kotagede sejatinya sudah terbentuk sejak 2018 melalui SK Gubernur mengenai pembentukan Pokjanis (Kelompok Kerja Teknis) Pengelola Kawasan Budaya Kotagede. Forum ini berada di bawah Dinas Kebudayaan. "Padahal selain kelestarian kawasan budaya Kotagede, perlu juga aspek perkembangan dan pemanfaatan potensi wisata budaya di kawasan itu," katanya.
Untuk menjadikan Kotagede sebagai destinasi wisata budaya dibutuhkan peran semua pihak. Mulai dari aspek penataan untuk memperkuat karakter fisik Kotagede tetapi juga membuat gambaran objek wisata di Kotagede dapat diangkat. Dengan begitu, nilai-nilai kebudayaan di kawasan ini bisa muncul. "Selain juga ada potensi kuliner dan sebagainya," katanya.
Dengan begitu, diharapkan Kotagede bisa menjadi destinasi wisata baru selain lima kawasan KCB lainnya di DIY. Menurut, saat ini sudah mulai banyak spot kunjungan wisata ke Kotagede. Hanya saja, Dispar masih membutuhkan dorongan agar tingkat kunjungan wisatawan ke Kotagede bisa lebih optimal lagi.
"Salah satu hal yang strategis untuk memulai penambangan ink paling tidak bagaimana unsur pendidikan mampu merespon perkembangan Kotagede. Misalnya, anak-anak sekolah bisa belajar kebudayaan di kawasan ini," kata Aria.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kisah Ruhaeni Intan di Jogja, mengolah kegelisahan perantau jadi strategi menulis hingga tembus Kusala Sastra 2026.
Harga bahan pokok di Sleman turun selama Juni 2026, diduga akibat liburnya program MBG saat libur sekolah.
B50 resmi berlaku, tekan impor BBM namun berisiko picu krisis minyak goreng dan beban subsidi akibat harga CPO.
Prediksi Spanyol vs Austria di Piala Dunia 2026. La Roja difavoritkan menang 2-0 atau 2-1 berkat lini belakang solid.
TNI buka suara soal dugaan keterlibatan Kolonel BU dalam kasus korupsi MBG Rp1,03 triliun, siap koordinasi dengan Kejagung.
Kemenpar dorong paket wisata K-Pop untuk tarik wisatawan asing dan dongkrak ekonomi dari konser internasional di Indonesia.