Puluhan Mahasiswa UNJ Kunjungi Harian Jogja
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Founder Bunda Cinta Parenting Care, Shinta memaparkan materinya saat bedah buku berjudul Metode Bermain Peran Inklusif Gender Pasa Anak Usia Dini, karya Rina Roudhotul Jannah, di Auditorium Grhatama Pustaka DPAD DIY, Selasa (6/8/2019)./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, BANTUL—Banyak orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK) supaya cepat bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Tidak sedikit guru PAUD dan TK juga menekankan calistung. Padahal calistung tidak dianjurkan bagi anak usia di bawah lima tahun.
Psikolog Anak dari Universitas gadjah Mada (UGM), Shinta atau yang akrab disapa Bunda Cinta mengatakan anak usia PAUD dan TK belum masanya untuk diajarkan apalagi dipakasa mampu calistung dengan cara cepat.
Anak-anak di usia tersebut, menurut dia belum saatnya mengalami masa pengembangan kognitif atau intelektual. “Yang harus dimaksimalkan pada usia itu adalah soal karakter dan sikap,” kata Shinta dalam bedah buku berjudul Metode Bermain Peran Inklusf Gender pada Anak Usia Dini karya Rina Roudhotul Jannah dan Sukirman yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY di Ruang Auditorium Grhatama Pustaka, Banguntapan, Bantul, Selasa (6/8).
Shinta khawatir jika pemaksaan calistung diterapkan pada anak usia TK dan Paud maka masa anak untuk bermain bisa hilang. Padahal cara belajar anak adalah dengan bermain melalui apa yang dilihat, yang didengar dan dirasakan. “Anak usia enam tahun belum bisa calistung tidak apa-apa, harusnya khawatir anak usia lima tahun belum bisa cara berterima kasih dan cara meminta maaf. Jadi biarkanlah anak tumbuh kembang sesuai usianya,” kata Shinta.
Dia juga mengkritisi para ibu yang lebih senang anaknya anteng alias diam dengan cara memberikan gadget padahal efeknya tidak bagus. Ia meminta orangtua membiarkan anak bermain apapun selama tidak membayakan.
Menurut salah satu penulis buku Metode Bermain Peran Inklusf Gender pada Anak Usia Dini Rina Roudhotul Jannah hal-hal semacam itu dapat berdampak pada anak salah memilih jurusan ketika dewasa dan tidak bisa menentukan kemampuan dan kecenderungannya. Menurut dia dengan membiarkan anak bermain apapun malah lebih baik. “Anak laki-laki bisa menjadi ahli memasak tidak masalah atau desainer pakaian kan sebenarnya tidak masalah,” kata Rina.
Senada, Kepala Bidang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan DP3AP2 DIY, Nelly Tristiana juga menyatakan pemahaman keadilan dan kesetaraan gender harus melalui proses untuk bisa diterapkan secara maksimal dalam kehidupan bermasyarakat. “Harus dibiasakan. Tidak bisa begitu saja diterapkan,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 63 mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) bersama tiga dosen pendamping mengunjungi kantor Harian Jogja di Jalan AM Sangaji, Jogja, Kamis (21/5)
Ferran Torres dikabarkan pindah dari Barcelona ke PSG dengan nilai transfer 48,5 juta euro. Simak profil dan perjalanan kariernya.
Jadwal KRL Solo-Jogja Jumat 14 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja. Tarif Commuter Line tetap Rp8.000.
DPRD Kota Jogja meminta penyaluran bansos beras tak hanya terpaku DTSEN agar warga yang baru jatuh miskin tidak terlewat.
Sekjen Gerindra Sugiono mengumpulkan sekjen parpol KIM di Jakarta untuk memperkuat komunikasi politik dan refleksi pemerintahan Prabowo.
Baznas Kulonprogo telah menyalurkan 40 tangki air bersih ke 11 titik kekeringan. Sebanyak 200 tangki disiapkan selama musim kemarau.