Anak Usia PAUD dan TK Jangan Dipaksa Bisa Calistung

Founder Bunda Cinta Parenting Care, Shinta memaparkan materinya saat bedah buku berjudul Metode Bermain Peran Inklusif Gender Pasa Anak Usia Dini, karya Rina Roudhotul Jannah, di Auditorium Grhatama Pustaka DPAD DIY, Selasa (6/8/2019). - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
06 Agustus 2019 17:32 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Banyak orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan taman kanak-kanak (TK) supaya cepat bisa membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Tidak sedikit guru PAUD dan TK juga menekankan calistung. Padahal calistung tidak dianjurkan bagi anak usia di bawah lima tahun.

Psikolog Anak dari Universitas gadjah Mada (UGM), Shinta atau yang akrab disapa Bunda Cinta mengatakan anak usia PAUD dan TK belum masanya untuk diajarkan apalagi dipakasa mampu calistung dengan cara cepat.

Anak-anak di usia tersebut, menurut dia belum saatnya mengalami masa pengembangan kognitif atau intelektual. “Yang harus dimaksimalkan pada usia itu adalah soal karakter dan sikap,” kata Shinta dalam bedah buku berjudul Metode Bermain Peran Inklusf Gender pada Anak Usia Dini karya Rina Roudhotul Jannah dan Sukirman yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY di Ruang Auditorium Grhatama Pustaka, Banguntapan, Bantul, Selasa (6/8).

Shinta khawatir jika pemaksaan calistung diterapkan pada anak usia TK dan Paud maka masa anak untuk bermain bisa hilang. Padahal cara belajar anak adalah dengan bermain melalui apa yang dilihat, yang didengar dan dirasakan. “Anak usia enam tahun belum bisa calistung tidak apa-apa, harusnya khawatir anak usia lima tahun belum bisa cara berterima kasih dan cara meminta maaf. Jadi biarkanlah anak tumbuh kembang sesuai usianya,” kata Shinta.

Dia juga mengkritisi para ibu yang lebih senang anaknya anteng alias diam dengan cara memberikan gadget padahal efeknya tidak bagus. Ia meminta orangtua membiarkan anak bermain apapun selama tidak membayakan.

Menurut salah satu penulis buku Metode Bermain Peran Inklusf Gender pada Anak Usia Dini Rina Roudhotul Jannah hal-hal semacam itu dapat berdampak pada anak salah memilih jurusan ketika dewasa dan tidak bisa menentukan kemampuan dan kecenderungannya. Menurut dia dengan membiarkan anak bermain apapun malah lebih baik. “Anak laki-laki bisa menjadi ahli memasak tidak masalah atau desainer pakaian kan sebenarnya tidak masalah,” kata Rina.

Senada, Kepala Bidang Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan DP3AP2 DIY, Nelly Tristiana juga menyatakan pemahaman keadilan dan kesetaraan gender harus melalui proses untuk bisa diterapkan secara maksimal dalam kehidupan bermasyarakat. “Harus dibiasakan. Tidak bisa begitu saja diterapkan,” kata dia.