Limbah Batik di Kulonprogo Kini Bisa Diolah Agar Tak Cemari Lingkungan

Pengrajin batik di Sanggar Sembung Batik, Desa Galurejo, Lendah sedang membatik pada Jumat (28/3/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
06 Agustus 2019 03:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Persoalan limbah batik di Kecamatan Lendah, Kabupaten Kulonprogo, mendapat perhatian dari berbagai pihak. Salah satunya, datang dari Bank BNI 46 dan Tim Desa Batik Sehat, Fakultas Kedokteran, Kesehatan, Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM.

Bank pelat merah tersebut mengucurkan dana sebesar Rp35,8 juta kepada para pengrajin batik di kecamatan Lendah guna membantu pembuatan alat pengolahan limbah batik portabel. Alat yang dibuat oleh Tim Desa Batik Sehat, FKKMK UGM ini diklaim mampu menyulap cairan limbah batik menjadi ramah lingkungan sehingga layak untuk dimanfaatkan kembali.

"Dari hasil uji laboratorium yang sudah kami lakukan, kandungan air limbah batik setelah diolah lewat alat ini, bisa bersih kembali sesuai kadar mutu yang ditetapkan pemerintah, di samping itu, bahan malam [bahan baku penting untuk membuat batik, khususnya batik tulis dan batik cap], juga dapat digunakan lagi," kata anggota Tim Desa Batik Sehat FKKMK UGM, Fean Sarian, usai penyerahan bantuan bina lingkungan pengembangan teknologi limbah cair batik di Ruang Menoreh, Kompleks Pemkab Kulonprogo, Senin (5/8/2019).

Dia menerangkan dalam pengoperasian alat ini menggunakan gabungan antara energi listrik dan bahan kimiawi. Setelah limbah dimasukkan ke dalam alat tersebut, bahan cair yang keluar bisa langsung dibuang ke sungai atau dimanfaatkan kembali oleh para pengrajin.

Alat ini lanjutnya dipasang ke sepeda motor roda tiga, tujuannya untuk memudahkan mobilitas, sehingga bisa digunakan oleh pengrajin batik di seluruh Kecamatan Lendah. Itulah kenapa terdapat embel-embel portabel di alat pengolahan ini.

"Nanti, pembatik mana yang akan menggunakan diantarkan ke sana oleh paguyuban [Paguyuban Pengrajin Batik Lendah], kami yang akan membantu bagiamana cara pengoperasiannya dan memonitor penggunaan alat," ujarnya.

Tim Desa Batik Sehat FKKMK UGM sejak 2018 memang telah meneliti kandungan limbah air batik di sentra pembuatan batik, Kecamatan Lendah. Dari penelitian tersebut, diketahui jika sistem pengolahan batik di sana masih dilakukan secara tradisional.

Kebayakan para pengrajin batik di sana membuang limbah industrinya di saluran air yang mengarah ke Sungai Progo, sebagian lagi ditampung ke dalam penampungan tanpa alas, sehingga kandungan limbah berpotensi menyerap ke dalam tanah.

Kondisi ini jika dibiarkan, akan menimbulkan pencemaran yang berdampak pada terganggunya kesehatan masyarakat setempat, terutama penyakit yang menyerang kulit, mata dan hidung.

"Limbah batik juga mengandung logam yang tidak terdeteksi. Apabila itu tidak ditangani dengan baik sangat disayangkan untuk masa depan generasi mendatang," kata Ketua Tim Desa Batik Sehat, FKKMK UGM, Sri Awalia Febriana.

Ketua Paguyuban Batik Lendah, Umbuk Haryanto, saat ditemui awak media usai penyerahan bantuan mengakui jika pengolahan limbah batik di Kecamatan Lendah masih belum optimal. Sejauh ini, dari total 25 industri batik yang tersebar di Desa Gulurejo, Ngentakrejo dan Sidorejo, seluruhnya masih melakukan pengolahan limbah secara tradisional, sehingga riskan menimbulkan pencemaran lingkungan.

Dia berharap lewat pemberian bantuan ini, pengolahan limbah bisa lebih tertata dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar, terutama pengrajin batik. "Semoga inovasi ini sedikit banyak bisa memantu pengurangan limbah dan hasilnya bisa memenuhi baku mutu air di Kecamatan Lendah," ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kulonprogo, Arif Prastawa mengatakan masalah limbah batik di Kecamatan Lendah memang menjadi perhatian pihaknya. Dibandingkan Industri batik di wilayah lain di Kulonprogo, seperti di Kecamatan Galur dan Samigaluh, limbah batik di Lendah memang cukup mengkhawatirkan mengingat banyaknya rumah Industri di sana.

"Dibandingkan Galut dan Samigaluh yang masih kecil, di Lendah memang jadi fokus kami karena di sana limbahnya lebih banyak yang timbul juga karena banyakny rumah industri batik," kata Arif.

Dia menjelaskan, kadar baku mutu air di Kecamatan Lendah dengan adanya limbah batik telah melebihi ketentuan sesuai Peraturan Daerah DIY No 7/2016 tentang Baku Mutu Air Limbah. Dalam aturan tersebut, di jelaskan baku mutu air limbah untuk kegiatan industri batik di DIY maksimal 60 meter kubik per ton untuk proses basah dan 15 meter kubik per ton untuk proses kering. "Sementara di Lendah sudah melebihi ambang batas tersebut," ujarnya.

Arif berharap dengan adanya bantuan ini, bisa mendorong pengusaha batik lain di Kulonprogo untuk mengikuti jejak industri batik Lendah. Menurutnya nominal pembuatan alat pengolahan limbah tak jauh lebih murah dibandingkan dampak pencemaran lingkungan terhadap limbah-limbah tersebut.

"Saya pikir ini bisa menjadi stimulan ya kepada para pembatik di Kulonprogo, kuncinya di sini bagaimana mengelola limbah dengan baik dan benar agar tidak mencemari lingkungan," ujarnya.