Kekurangan Air Bersih, Siswa SD di Girimulyo Repot Saat Harus ke Kakus

Sejumlah siswa di SD Jatiroto sedang berwudhu menggunakan air bantuan, pada Kamis (8/8/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
09 Agustus 2019 04:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Sejumlah sekolah di Kecamatan Girimulyo sudah rutin diberi bantuan air bersih baik dari Polsek Girimulyo maupun Taruna Siaga Bencana (Tagana) selama musim kemarau. Kurangnya air bersih membuat kegiatan keseharian siswa dan guru terganggu.

Kepala Sekolah SD Jatiroto, Girimulyo, Sudaryati mengatakan, setiap musim kemarau SD Jatiroto sering meminta bantuan air bersih. "Tahun lalu dari Polsek Girimulyo, tahun ini pun mengulang tahun lalu, SD Jatiroto tetap kekurangan air. Kita sudah minta bantuan didrop empat tangki," ungkapnya pada Kamis (8/8/2019).

Menurutnya, di SD Jatiroto ketika musim kemarau, kalau tidak ada bantuan air, akan sangat kesulitan untuk menjalankan berbagai kegiatan kesehariannya. Di SD Jatiroto, ada 48 siswa dan 12 guru.

"Untuk sehari-hari, yang tidak bisa ditunda yaitu di MCK [mandi, cuci, kakus]. Kemudian karena anak itu pulang sore, jadi berjamaah dhuhur di sekolah. Kalau tidak ada air, tidak salat jamaah karena enggak bisa wudhu. Cuci tangan juga, karena anak bawa bekal nasi, cuci tangan jadinya kerepotan," jelas Sudaryati.

Ia mengatakan, bantuan sudah datang ke SD Jatiroto sebanyak empat tangki. Masing-masing tangki berisi sekitar 5.000 liter air.

Menurut Sudaryati, bantuan air bersih diperuntukkan bagi siswa dan guru saat kegiatan belajar mengajar saja. Satu pekannya, kegiatan belajar mengajar berlangsung lima hari.

Saat ini, bantuan air bersih di SD Jatiroto masih tersisa hanya satu penampungan kecil saja. "Kita ada tiga penampungan, yang ada saat ini hanya di penampungan kecil saja. Paling tahan sampai dua hari. Jadinya harus irit-irit," ungkap Sudaryati.

Anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kulonprogo, Sutikno mengatakan, sampai saat ini, di Kecamatan Girimulyo, penyaluran bantuan air sudah dilakukan pada enam sekolah. Keenam sekolah tersebut antara lain SD Jatiroto, SD Purwosari, SD Tegalsari, MI Nogosari, SD Muhammadiyah Purwosari, dan SMP Sanjaya Girimulyo.

Selain sekolah, di Kecamatan Girimulyo, bantuan juga sudah diberikan Tagana pada 12 pedukuhan di tiga desa, yaitu Desa Giripurwo, Desa Pendoworejo, dan Desa Purwosari. "Kemungkinan bantuan akan terus diberikan, mengingat musim kemarau yang masih berlangsung," ungkap Sutikno pada Kamis.

Kasi Perlindungan Sosial Korban Bencana Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kulonprogo, Sumiyati mengatakan, droping air diberikan melalui Tagana bersumber dari bantuan Corporate Social Responsibility (CSR).

"Pemkab tidak menyediakan bantuan dari APBD. Kami hanya salurkan bantuan dari pihak ketiga atau dari dana CSR," ungkapnya.

Ia mengatakan, selama Juli, bantuan dropping air bersih sudah diberikan sebanyak 42 tangki pada wilayah di Kulonprogo yang kekurangan air bersih. Bagi masyarakat maupun pihak sekolah yang kekurangan air bersih, bisa mengajukan bantuan dropping.

"Bisa mengajukan proposal, nanti diajukan ke Bupati. Ada tembusan dari pihak desa dan kalau bisa juga dari kecamatan agar mereka juga mengetahui masalah warga," kata Sumiyati.