Ada Ancaman Gempa dan Tsunami, Warga Pesisir Selatan Tingkatkan Mitigasi Bencana

Seorang petugas SRI Wilayah V Kulonprogo tengah menengok kondisi perahu yang rusak akibat diterjang ombak tinggi di Pantai Congot, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Kamis (18/4/2019). - Ist/ Dok Satlinma
10 Agustus 2019 07:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Masyarakat Pesisir Selatan Kulonprogo mengaku sempat dibuat resah dengan informasi potensi gempa yang bisa menimbulkan tsunami. Namun, dengan adanya potensi bencana, tingkat waspada harus ditingkatkan dan langkah mitigasi terus dilakukan.

Salah satu nelayan yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Bogowonto Pantai Congot, Iwanto Nugroho mengatakan, di bulan Juli pihaknya sempat akan melaut, namun sampai sekarang hal tersebut urung dilakukan mengingat kondisi gelombang yang tidak mendukung.

"Dulu sempat mau melaut, tapi gelombang tinggi, ada informasi juga soal tsunami, sempat resah," ungkap Iwan pada Jumat (9/8/2019).

Namun, ia menuturkan, dengan informasi tsunami seperti itu, langkah mitigasi masyarakat perlu ditingkatkan.

Praktis ia tidak melaut sejak akhir bulan puasa lalu sampai sekarang. Ia menuturkan, di musim kemarau seperti sekarang, tinggi gelombang memang menjadi kendala nelayan di Pantai Selatan.

Biasanya, saat gelombang sedang tinggi, nelayan mencari pekerjaan sampingan. "Saya bertani, biasanya ada juga yang narik perahu buat wisatawan," jelasnya. Saat pertengahan tahun seperti ini, ikan yang biasa didapatkan yaitu ikan bawal dan layur.

Informasi sempat beredar di masyarakat terkait adanya potensi gempa bumi dan tsunami. Dalam rilisnya, BMKG menjelaskan, berdasarkan kajian ahli, zona megathrust di Selatan Jawa berpotensi terjadi gempa sampai magnitudo 8,8. Dari gempa tersebut bisa menyebabkan terjadinya tsunami setinggi 20 meter. Tetapi, itu merupakan potensi dan bukan prediksi, jadi tidak bisa diketahui kapan terjadi. Lebih lanjut, masyarakat diimbau melakukam upaya mitigasi struktural dan non struktural.

Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) Wilayah V Kulonprogo, Aris Widiatmoko mengatakan kabar adanya potensi gempa dan tsunami membuat masyarakat pesisir Kulonprogo sempat resah. Pihaknya berupaya memberikan pengertian kepada masyarakat pesisir agar tetap tenang dan berupaya meningkatkan kewaspadaan.

"Kami selalu mengikuti informasi dari BMKG [Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika]. Ke masyarakat pesisir kami berikan penjelasan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh nelayan dan warga, karena mereka sempat resah, cuma membaca berita di media masa dan informasi yang macam-macam," ujar Aris.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo, Ariadi menjelaskan, sebagai langkah mitigasi terhadap potensi tsunami di Kulonprogo, sudah ada tujuh Early Warning System (EWS) yang saat ini terpasang dengan baik.

Selain itu, ada 13 Desa Tangguh Bencana (Destana) di Pesisir Selatan Kulonprogo yang menjadi pendorong mitigasi bencana masyarakat. "Melalui Destana itu masyarakat bisa lebih meningkatkan langkah mitigasinya sesuai potensi bencana," ujar Ariadi.