Sempat Tertunda, Bendung Klontongan Segera Diperbaiki dengan Anggaran Rp4,5 Miliar

Bendungan - Harian Jogja/Desi Suryanto
21 Agustus 2019 01:17 WIB Yogi Anugrah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Proyek pengerjaan Bendung Klontongan di Desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, yang ambrol sejak beberapa bulan lalu dan berdampak pada lahan pertanian dan kolam milik warga, tengah dilaksanakan. Anggaran proyek tersebut sekitar 4,5 miliar.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) Kabupaten Sleman, Sapto Winarno, mengatakan proyek pengerjaan bendung tersebut sempat mengalami gagal lelang beberapa bulan yang lalu.

“Jadi kami lakukan lelang ulang, dan beberapa waktu lalu sudah ada pemenangnya,” kata Sapto kepada Harianjogja.com, Selasa (20/8/2019).

Ia mengatakan, setelah ada pemenang, pihaknya pun langsung melakukan penandatanganan kontrak, agar proyek pengerjaan bisa segera dilakukan.

“Saat ini sudah dalam proses pengerjaaan. Anggaran yang digunakan menggunakan APBD Kabupaten Sleman sekitar Rp4,5 miliar,” ujar Sapto

Pantauan Harianjogja.com di lpse.slemankab.go.id, pelaksana proyek tersebut adalah CV. Erlian SW yang beralamat di Hargobinangunan, Pakem, Sleman.

Diberitakan sebelumnya, ambrolnya Bendung Klontongan sejak beberapa bulan lalu berimbas ke sawah dan kolam milik warga. Bendung berusia puluhan tahun yang berlokasi di selatan landasan pacu bandara Adisucipto ini mengalami kerusakan cukup parah dan hampir tidak berfungsi.

Tembok di sisi barat Bendung hancur, yang membuat aliran sungai berbelok ke kanan dan menerjang beberapa kolam dan sawah warga. Akibat kerusakan tersebut, saluran irigasi di bagian timur Bendung yang biasanya dimanfaatkan oleh warga tidak dialiri air.

Salah seorang warga Karangtengah, Noyokerten, Sendangtirto, Sutarno, 41, mengatakan kerusakan bendung tersebut dimulai sejak September 2018 lalu.

"Awalnya bendung rusak karena air menggerus bagian dasar. Yang mengakibatkan air semakin liar mencari jalan lewat sela-sela lubang," kata dia.

Ia melanjutkan, karena hal tersebut, warga dibantu Pemkab Sleman membuat bronjong kawat disekitar Bendung. Namun saat musim hujan, kondisi bendung semakin parah. “Yang paling parah adalah dinding barat,” ujar dia.

Ia mengatakan, karena air tidak mengalir ke aliran irigasi sisi timur, maka warga pedukuhan Noyokerten, Kadipolo, Karanganyar, Tampungan, Maredan dan Gambiran terkena dampaknya.

"Dampaknya bukan hanya di persawahan tapi kolam-kolam ikan juga banyak yang kering, sumur juga surut,” ucap dia.