Pendaftaran Ketua KONI Gunungkidul Dibuka, Ini Syaratnya
KONI Gunungkidul membuka penjaringan ketua periode 2026-2030. Pendaftar harus berusia minimal 30 tahun dan mendapat dukungan sekitar 15 pengkab.
Warga melihat sumur bor yang mengeluarkan air secara alami di Dusun Widoro Lor, Bendung, Semin, Rabu (21/8/2019). /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Fenomena air naik ke atas permukaan tanah di Desa Bendung bukan yang pertama kali. Pasalnya, di tahun lalu peristiwa hampir sama juga pernah terjadi di Dusun Dringo. Khusus untuk wilayah Dusun Widoro Lor, pihak desa masih melakukan pemantauan terkait dengan potensi sumber sumur tersebut.
Kepala Desa Bendung, Didik Rubiyanto mengatakan, pihaknya mencatat dalam setahun ada fenomena air naik ke permukaan terjadi sebanyak dua kali. Selain di Dusun Widoro Lor yang masih terjadi saat ini, lokasi lain berada di lahan pertanian milik Darto, salah seorang warga Dusun Ngringgo.
“Jadi sudah dua kali ini. Bedanya yang di Dringo tidak sampai menyembur, tapi airnya hanya sampai di atas permukaan tanah,” kata Didik kepada Harianjogja.com, Rabu (21/8/2019).
Menurut dia, keberadaan air dari sumur yang mengalir secara alami bisa dimanfaatkan petani sekitar. Pasalanya, tujuan dari pembuatan juga untuk menyirami tanaman milik petani. Didik menuturkan, untuk saat ini pihaknya masih melakukan pemantauan. Rencananya dalam kurun tiga hari ke depan dan debit air tetap mengalir akan berkoordinasi dengan ESDM DIY untuk melakukan penelitian lanjutan.
“Kami harap ada tim geologi yang meneliti fenomena ini. Kalau memang debitnya besar maka potensi untuk dibuat embung sangat mungkin,” katanya.
Didik menuturkan, untuk mengetahui debit air, pihaknya sudah melakukan pengetasan secara manual. Adapun hasilnya debit mencapai 1,5 liter per detik. “Sudah kita ukur dan mudah-mudahan debit bisa stabil sehingga keberadaannya bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ungkapnya.
Pemilik sumur bor, Suyadi mengaku tidak mengira air akan naik ke permukaan secara alami. Menurut dia, semburan air ini sudah berlangsung hampir selama tiga hari.
“Air yang mengalir dimanfaatkan untuk menggenangi lahan yang mengering, tapi ada juga yang disedot pompa sejauh 100 meter untuk digunakan menyiram tanaman rumput gajah,” katanya.
Meski telah mengalir tiga hari, semburan masih berlangsung. Menurut Yadi, fenomena ini mengagetkan warga sehingga banyak datang ke lokasi untuk melihat sumur. “Kedalamannya sekitar 60 meter. Niat membuat sumur untuk mengairi lahan pertanian, eh ini belum dipompa malah airnya keluar sendiri,” katanya.
Disinggung mengenai kondisi lahan, Yadi mengakui wilayahnya termasuk lahan pertanian tadah hujan sehingga mengalami kekeringan saat kemarau. Meski demikian, untuk kebutuhan sehari-hari kebutuhan air masyrakat masih bisa dicukupi melalui instalasi pam milik desa.
“Ya kalau untuk pertanian saat kemarau banyak yang nganggur. Oleh karenanya, saya biki sumur bor sehingga lahannya bisa tetap dimanfaatkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KONI Gunungkidul membuka penjaringan ketua periode 2026-2030. Pendaftar harus berusia minimal 30 tahun dan mendapat dukungan sekitar 15 pengkab.
Sufmi Dasco Ahmad menyatakan DPR belum membahas wacana pemakzulan Gibran dan meminta publik menunggu masa sidang berikutnya.
Pegadaian meraih dua penghargaan nasional melalui Tring! by Pegadaian atas inovasi keuangan digital dan strategi pemasaran investasi emas.
Kebakaran melanda TPS3R Nitikan, Umbulharjo, Jogja, Jumat (6/11/2026). Tumpukan kasur dan sampah kering terbakar, tanpa korban jiwa.
Perhapi menilai pemangkasan kuota bijih nikel 2027 berisiko menaikkan harga bahan baku, biaya operasional smelter, dan menekan produksi.
Kemendikdasmen merevitalisasi 1.277 SMK pada 2026, terdiri atas 553 sekolah negeri dan 724 swasta untuk memperkuat pembelajaran vokasi.