Kasasi Ditolak MA, Lurah Bohol Margana Segera Bebas Akhir Oktober
Kasasi JPU dalam kasus korupsi Lurah Bohol Margana ditolak MA. Margana telah dieksekusi dan diperkirakan bebas setelah masa pidananya berakhir 27 Oktober 2026.
Warga melihat sumur bor yang mengeluarkan air secara alami di Dusun Widoro Lor, Bendung, Semin, Rabu (21/8/2019). /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Fenomena air naik ke atas permukaan tanah di Desa Bendung bukan yang pertama kali. Pasalnya, di tahun lalu peristiwa hampir sama juga pernah terjadi di Dusun Dringo. Khusus untuk wilayah Dusun Widoro Lor, pihak desa masih melakukan pemantauan terkait dengan potensi sumber sumur tersebut.
Kepala Desa Bendung, Didik Rubiyanto mengatakan, pihaknya mencatat dalam setahun ada fenomena air naik ke permukaan terjadi sebanyak dua kali. Selain di Dusun Widoro Lor yang masih terjadi saat ini, lokasi lain berada di lahan pertanian milik Darto, salah seorang warga Dusun Ngringgo.
“Jadi sudah dua kali ini. Bedanya yang di Dringo tidak sampai menyembur, tapi airnya hanya sampai di atas permukaan tanah,” kata Didik kepada Harianjogja.com, Rabu (21/8/2019).
Menurut dia, keberadaan air dari sumur yang mengalir secara alami bisa dimanfaatkan petani sekitar. Pasalanya, tujuan dari pembuatan juga untuk menyirami tanaman milik petani. Didik menuturkan, untuk saat ini pihaknya masih melakukan pemantauan. Rencananya dalam kurun tiga hari ke depan dan debit air tetap mengalir akan berkoordinasi dengan ESDM DIY untuk melakukan penelitian lanjutan.
“Kami harap ada tim geologi yang meneliti fenomena ini. Kalau memang debitnya besar maka potensi untuk dibuat embung sangat mungkin,” katanya.
Didik menuturkan, untuk mengetahui debit air, pihaknya sudah melakukan pengetasan secara manual. Adapun hasilnya debit mencapai 1,5 liter per detik. “Sudah kita ukur dan mudah-mudahan debit bisa stabil sehingga keberadaannya bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ungkapnya.
Pemilik sumur bor, Suyadi mengaku tidak mengira air akan naik ke permukaan secara alami. Menurut dia, semburan air ini sudah berlangsung hampir selama tiga hari.
“Air yang mengalir dimanfaatkan untuk menggenangi lahan yang mengering, tapi ada juga yang disedot pompa sejauh 100 meter untuk digunakan menyiram tanaman rumput gajah,” katanya.
Meski telah mengalir tiga hari, semburan masih berlangsung. Menurut Yadi, fenomena ini mengagetkan warga sehingga banyak datang ke lokasi untuk melihat sumur. “Kedalamannya sekitar 60 meter. Niat membuat sumur untuk mengairi lahan pertanian, eh ini belum dipompa malah airnya keluar sendiri,” katanya.
Disinggung mengenai kondisi lahan, Yadi mengakui wilayahnya termasuk lahan pertanian tadah hujan sehingga mengalami kekeringan saat kemarau. Meski demikian, untuk kebutuhan sehari-hari kebutuhan air masyrakat masih bisa dicukupi melalui instalasi pam milik desa.
“Ya kalau untuk pertanian saat kemarau banyak yang nganggur. Oleh karenanya, saya biki sumur bor sehingga lahannya bisa tetap dimanfaatkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasasi JPU dalam kasus korupsi Lurah Bohol Margana ditolak MA. Margana telah dieksekusi dan diperkirakan bebas setelah masa pidananya berakhir 27 Oktober 2026.
Alex Rins meminta maaf setelah mengacungkan jari tengah kepada marshal di MotoGP Mandalika 2026. Insiden terjadi saat sesi Practice menyisakan dua menit.
Astra membangun amphitheater di Desa Sejahtera Astra Kemiren, Banyuwangi, untuk melestarikan budaya Osing sekaligus mendorong pengembangan wisata dan ekonomi ma
DPRD Kota Jogja mendorong promosi dan event rutin di berbagai destinasi, termasuk kampung wisata, agar pengunjung tertarik tinggal lebih lama.
Michael Smith dipenjara 18 bulan setelah menggunakan lagu AI dan ribuan akun bot untuk memanipulasi pemutaran musik serta meraup jutaan dolar royalti.
Pew Research Center mencatat sejumlah negara dengan proporsi penduduk tanpa afiliasi agama tinggi. Vietnam masuk daftar bersama Jepang dan China.