Air Tinggal Menetes, Warga Tepus Endapkan Air Keruh untuk Mandi
Warga Padukuhan Duwet di Tepus mengandalkan air keruh dari Kali Wonosari akibat kemarau. Air harus diendapkan sebelum digunakan.
Warga melihat sumur bor yang mengeluarkan air secara alami di Dusun Widoro Lor, Bendung, Semin, Rabu (21/8/2019). /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Fenomena air naik ke atas permukaan tanah di Desa Bendung bukan yang pertama kali. Pasalnya, di tahun lalu peristiwa hampir sama juga pernah terjadi di Dusun Dringo. Khusus untuk wilayah Dusun Widoro Lor, pihak desa masih melakukan pemantauan terkait dengan potensi sumber sumur tersebut.
Kepala Desa Bendung, Didik Rubiyanto mengatakan, pihaknya mencatat dalam setahun ada fenomena air naik ke permukaan terjadi sebanyak dua kali. Selain di Dusun Widoro Lor yang masih terjadi saat ini, lokasi lain berada di lahan pertanian milik Darto, salah seorang warga Dusun Ngringgo.
“Jadi sudah dua kali ini. Bedanya yang di Dringo tidak sampai menyembur, tapi airnya hanya sampai di atas permukaan tanah,” kata Didik kepada Harianjogja.com, Rabu (21/8/2019).
Menurut dia, keberadaan air dari sumur yang mengalir secara alami bisa dimanfaatkan petani sekitar. Pasalanya, tujuan dari pembuatan juga untuk menyirami tanaman milik petani. Didik menuturkan, untuk saat ini pihaknya masih melakukan pemantauan. Rencananya dalam kurun tiga hari ke depan dan debit air tetap mengalir akan berkoordinasi dengan ESDM DIY untuk melakukan penelitian lanjutan.
“Kami harap ada tim geologi yang meneliti fenomena ini. Kalau memang debitnya besar maka potensi untuk dibuat embung sangat mungkin,” katanya.
Didik menuturkan, untuk mengetahui debit air, pihaknya sudah melakukan pengetasan secara manual. Adapun hasilnya debit mencapai 1,5 liter per detik. “Sudah kita ukur dan mudah-mudahan debit bisa stabil sehingga keberadaannya bisa dimanfaatkan secara maksimal,” ungkapnya.
Pemilik sumur bor, Suyadi mengaku tidak mengira air akan naik ke permukaan secara alami. Menurut dia, semburan air ini sudah berlangsung hampir selama tiga hari.
“Air yang mengalir dimanfaatkan untuk menggenangi lahan yang mengering, tapi ada juga yang disedot pompa sejauh 100 meter untuk digunakan menyiram tanaman rumput gajah,” katanya.
Meski telah mengalir tiga hari, semburan masih berlangsung. Menurut Yadi, fenomena ini mengagetkan warga sehingga banyak datang ke lokasi untuk melihat sumur. “Kedalamannya sekitar 60 meter. Niat membuat sumur untuk mengairi lahan pertanian, eh ini belum dipompa malah airnya keluar sendiri,” katanya.
Disinggung mengenai kondisi lahan, Yadi mengakui wilayahnya termasuk lahan pertanian tadah hujan sehingga mengalami kekeringan saat kemarau. Meski demikian, untuk kebutuhan sehari-hari kebutuhan air masyrakat masih bisa dicukupi melalui instalasi pam milik desa.
“Ya kalau untuk pertanian saat kemarau banyak yang nganggur. Oleh karenanya, saya biki sumur bor sehingga lahannya bisa tetap dimanfaatkan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Warga Padukuhan Duwet di Tepus mengandalkan air keruh dari Kali Wonosari akibat kemarau. Air harus diendapkan sebelum digunakan.
Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri sukses mempertahankan gelar China Open 2026 usai mengalahkan Kim Won Ho/Seo Seung Jae.
UGM mendorong penguatan blue food sebagai solusi ketahanan pangan nasional di tengah proyeksi kenaikan kebutuhan protein hingga 67% pada 2050.
Bea Cukai Kudus menerapkan ultimum remidium terhadap tujuh kasus rokok ilegal dengan total denda Rp582,71 juta sepanjang semester I/2026.
PDIP memperingati 30 tahun Kudatuli dengan aksi teatrikal, ritual adat, dan pembacaan puisi di Gedung DPP PDIP di Jakarta.
Sebanyak 11 SPPG di Sleman menghentikan operasional sementara akibat kendala renovasi, IPAL, dan administrasi.