Usung Tagar #KitaAdalahPapua, Mahasiswa Jogja Desak Presiden Selesaikan Persoalan HAM di Papua

Ratusan peserta aksi solidaritas mengusung tagar KitaAdalahPapua, berlangsung di Bundaran UGM, Bulaksumur, Jumat (23/8/2019) petang. - Harian Jogja/Uli Febriarni
23 Agustus 2019 18:27 WIB Uli Febriarni Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Aksi solidaritas menolak tindakan rasis kepada masyarakat Papua berlangsung di Bundaran Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (23/8/2019) petang. Demonstran mengusung tagar #KitaAdalahPapua dan membagi-bagikan pisang.

“Kami berangkat dari adanya penghinaan dan perendahan manusia dengan kata-kata monyet. Kami sampaikan KitaAdalahPapua. Ketika ada yang menyebut monyet, maka kita semua monyet. Itu kenapa kami bagi-bagi pisang,” ujar Koordinator Lapangan Aliansi Mahasiswa UGM, Zafitra Emirald.

Zafitra mengatakan diskusi telah digelar sebelum demonstrasi.  Mahasiswa menilai ada persoalan hak asasi manusia (HAM) serius yang harus diselesaikan di Papua.

“Itu bukan kasus baru. Konflik Papua adalah spiral kekerasan yang harus segera diputus mata rantainya,” ujar dia.

Pendekatan represif dan militeristik dalam kasus Papua terbukti tidak mampu menyelesaikan dan bahkan melanggengkan konflik.

“Sudah saatnya pemerintah mencari pendekatan baru yang lebih humanis,” tuturnya.

Mahasiswa mendesak Presiden Joko Widodo menuntaskan segala bentuk rasisme dan tindakan yang tidak berperikemanusiaan terhadap mahasiswa Papua, mencabut pendekatan militeristik dalam menyelesaikan kasus Papua, dan memberi jaminan kebebasan pers untuk meliput masyarakat Papua.

Demonstran juga mendesak aparat kepolisian proaktif memberikan perlindungan kepada mahasiswa Papua dari segala ancaman kekerasan dan persekusi, serta menindak tegas ormas maupun aparat yang represif dan rasis kepada mahasiswa Papua.

Massa aksi juga mendorong institusi pendidikan untuk aktif menanamkan sikap toleransi.

Biro Organisasi Aliansi Mahasiswa Papua, Regi Yigibalam menyatakan rasisme lahir dari masa kolonial.

“Sama seperti ketika Belanda menjajah Indonesia. Aksi solidaritas ini bukan hanya untuk mahasiswa Papua, melainkan juga membela rakyat yang terpinggirkan. Mari bersatu melawan rasisme,” ujar Regi.