Tiga Sungai di DIY Tercemar, Ini Indikasinya

Aktivitas penambangan pasir dan batu di Sungai Progo yang terletak disebelah Selatan Dusun Plataran, Minggu (18/8/2019). - Harian Jogja/Yogi Anugrah
26 Agustus 2019 22:57 WIB Kiki Luqman Hakim (ST 16) Jogja Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Tiga sungai di di DIY  tercemar. Ketiga sungai tersebut adalah Sungai Progo, Sungai Serang, dan Sungai Opak-Oya.

Kepala Bidang Personal dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak (BBWSSO) Sahril mengatakan mengakui ketiga aliran sungai itu kini sudah dalam kondisi tercemar. Kategori pencemarannya, kata dia, sejauh ini sudah mencapai kategori sedang.

Dia menjelaskan pencemaran sungai bisa dideteksi dengan berbagai cara, salah satunya dari reaksi tubuh setelah bermandi di sungai terasa gatal atau tidak. “Jika gatal berarti bisa diduga tercemar, lalu kalau biota di sungai tersebut sudah tidak ada berarti tercemar juga,” kata Sahril ketika ditemui di sela-sela acara seminar tentang sungai yang merupakan rangkaian gelaran Jambore Sungai #4 di Kawasan Laguna Depok, Desa Parangtritis, Kecamatan Bantul, Minggu (25/8).

Menurut dia, banyak ikan sapu-sapu yang sejatinya bukan fauna endemik sungai yang ada di DIY. Itulah sebabnya, dia menyimpulkan daerah aliran sungai di DIY dalam kondisi tidak normal.

“Itu baru yang di DIY, kalau di Indonesia sendiri setidaknya ada 450 daerah aliran sungai. Sekitar 108 di antaranya sudah tercemar dan masuk dalam kategori kritis,” katanya.

Terkait dengan penyebabnya, kata dia, bisa berasal dari berbagai sumber, salah satunya dari wilayah hulu, yakni di Jawa Tengah. “Di sana ada sejumlah pabrik kulit dan tekstil yang tidak mengolah limbahnya dengan baik dan limbah tersebut dibuang ke sungai,” lantjunya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Komunitas Sungai Yogyakarta (AKSY), Endang Rodjiani mengatakan pencemaran kategori sedang berarti air sungai memang tidak layak untuk minum dan mandi.

“Dari hasil pemantauan kami di sungai yang berada di wilayah Paker, Desa Mulyodadi, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, memang lebih banyak ikan sapu-sapu ketimbang ikan lokal,” ucap dia.