Bantul Akan Bikin Aturan Pembatasan Kantong Plastik

Ilustrasi sampah plastik - Picture/Alliance/Photoshot
29 Agustus 2019 11:37 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bantul tengah mengkaji untuk menerapkan aturan pembatasan penggunaan kantong plastik di pusat perbelanjaan. Namun, sebelum sampai aturan, DLH akan mensosialisasikan penggunaan kantong belanja yang ramah lingkungan dan dapat didaur ulang.

“Kami soaisliasikan dulu bahwa kalau belanja harus membawa kantong dari rumah yang bisa digunakan berkali-kali atau membawa kantong yang mudah didaur ulang,” kata Kepala DLH Bantul, Ari Budi Nugraha, saat ditemui di kantornya Rabu (28/8/2019).

Dalam sosialisasi tersebut, pihaknya juga akan menyediakan kantong belanja yang akan dibagikan kepada masyarakat secara gratis. Kantong yang terbuat dari bahan ramah lingkungan itu nantinya diharapkan terus digunakan oleh masyarakat setiap kali belanja ke pasar.

Ari belum bisa menentukan kantong belanja yang akan dibuatnya melalui APBD perubahan tersebut. Namun kantong itu nantinya akan dibagikan kepada para pembeli di sejumlah pasar tradisional di Bantul. Setelah sosialisasi penggunaan kantong plastik ramah lingkungan, sasaran selanjutnya adalah mengedukasi para penjual untuk tidak menyediakan kantong plastik.

“Setelah masyarakat terbiasa membawa kantong sendiri dari rumah dan penjual tidak sudah memahami untuk tidak menyediakan kantong pelastik baru nanti melangkah baru nanti regulasi. Kami sudah ada gambaran untuk ke sana [membuat regulasi pembatasan kantong plastik],” ujar Ari.

Ia mengatakan pembatasan penggunaan kantong plastik sudah menjadi wacana dan sudah dibahas dalam beberapa kesempatan dengan sejumlah stakeholder. Menurut dia pembatasan kantong plastik perlu dituangkan dalam peraturan baik peraturan daerah (Perda) atau peraturan bupati (Perbub). Aturan tersebut diakuinya perlu diterapkan secara bertahap dalam mengubah perilaku masyarakat terkait penggunaan kantong plastik.

Lebih lanjut Ari mengatakan selain pembagian kantong belanja, pihaknya juga gencar sosialisasi pengurangan penggunaan kantong pelastik, melalui berbagai media. Bahkan dalam momen Iduladha, beberapa waktu lalu, kata dia, sudah banyak masyarakat yang mulai mengurangi kantong plastik untuk wadah daging, kemudian menggantinya dengan besek yang terbuat dari bambu, saun kepala, daun jati, dan daun pisang, serta ada juga yang memanfaatkan wadah yang digunakan berkali-kali.

Mantan kepala Bagian Layanan Pengadaan Barang dan Jasa ULP Bantul ini menyatakan kampanye pengurangan sampah plastik harus terus digaungkan karena sampah plastik merupakan sampah yang sulit terurai. Bahkan di kantor DLH sendiri sudah tidak lagi menggunakan air minum botol kemasan dan saat rapatpun suguhannya menggunakan piring, bukan plastik ataupun dos.

DLH Bantul mencatat potensi sampah di Bantul yang dihasilkan dari rumah tangga sebanyak 450 ton per hari. Jumlah tersebut merupakan potensi dengan asumsi setiap warga menghasilkan 0,6 kilogram dalam sehari dikalikan jumlah penduduk Bantul. Sementara sampah yang dibuang DLH Bantul ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan dalam sehari mencapai 80 ton.

Jumlah sampah yang diambil dari sejumlah tempat pembuangan sementara ke TPST Piyungan tersebut belum termasuk yang dibuang langsung oleh masyarakat ke TPST Piyungan.

Wakil Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, sebelumnya mengungkapkan bahwa penyadaran masyarakat untuk membudayakan bersih lingkungan harus terus digaungkan disamping membangun infrastruktur pendukung. Penanganan sampah juga tidak bisa hanya diserahkan pada Pemkab namun butuh kalaborasi semua pihak, terlebih Bantul merupakan daerah hilir aliran sungai dan sampah yang ada di Bantul bukan hanya dihasilkan oleh warga Bantul.