Diperkirakan Butuh 3 Tahun untuk Ciptakan Budaya Keamanan di YIA

Suasana terminal keberangkatan dan kedatangan di Yogyakarta International Airport, Kecamatan Temon, Jumat (7/6/2019).-Harian Jogja - Hafit Yudi Suprobo
31 Agustus 2019 10:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, WATES--Budaya keamanan di lingkungan Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) perlu dibangun, walaupun membutuhkan waktu lama. Diperkirakan butuh waktu dua sampai tiga tahun membangun budaya keamanan dan melibatkan semua pihak.

Sebagai persiapan langkah-langkah antisipasi gangguan keamanan di Bandara YIA, Angkasa Pura I menggelar Airport Security Commitee (ASC) Meeting pada Jumat (30/8/2019). Pihak komite bahkan menggandeng Airport Council International (ACI) untuk terapkan sistem keamanan berstandar internasional.

Vice President Airport Security PT Angkasa Pura I, Dony Subardono menyampaikan, dalam menerapkan sistem keamanan berstandar internasional, dibutuhkan komitmen dan waktu yang lama. Pihaknya mencoba menerapkan budaya keamanan tidak hanya dari jajaran pengelola bandara saja, tapi juga bekerja sama dengan semua pihak termasuk masyarakat sekitar bandara.

Menurutnya, dibutuhkan waktu bahkan dua sampai tiga tahun untuk menerapkan budaya keamanan. "Makanya persiapan kita mulai dari sekarang," ungkap Dony pada Jumat (30/8/2019).

Ia mengatakan, ke depan berbagai pelatihan dan pertemuan akan terus digencarkan untuk membangun sistem keamanan di YIA. "Harus dibangun jadi kebiasaan, itu yang dimaksud budaya keamanan. Seperti misal cleaning service menemukan tas yang ditinggalkan. Dia harus sudah tahu mesti lapor ke mana. Begitu juga kalau ada aktivitas mencurigakan. Biasanya Kita apatis. Kita coba bangun budaya agar peduli dan mau melapor," terang Dony.

Sebelumnya, pihak ASC Bandara YIA memetakan potensi keamanan di Bandara YIA. ASC berisi sejumlah pihak terdiri dari TNI, Polri, BIN, BNN sampai ke petugas imigrasi, karantina, kesehatan, pemerintah dan maskapai. Dari hasil assessment terakhir ASC, tingkat keamanan di Kulonprogo dengan adanya bandara baru itu masih tergolong normal.

"Gangguan yang kemungkinan terjadi saat ini paling dari drone dan balon udara. Itu terjadi karena kurang pemahaman bahwa kegiatan itu memberikan gangguan secara langsung saat take off dan landing," ujar Dony.

Untuk ancaman serius, sampai saat ini belum ada catatan yang masuk ke ASC. Ancaman yang masuk catatan kepolisian hanya pada kasus penembakan yang terjadi di dealer motor dan pos polisi, namun menurut Dony, kejadian tersebut tidak memengaruhi kondisi bandara. Kemungkinan ancaman lainnya yaitu dari adanya migrasi dan aktivitas burung, namun Dony mengatakan, belum ada laporan yang masuk.

Menurutnya, pihaknya pun akan bekerjasama dengan masyarakat termasuk warga yang terkena dampak bandara sampai petambak udang yang saat ini masih beroperasi sekitaran bandara. Ia mengatakan, meskipun petambak bukan lagi tanggung jawab Angkasa Pura I karena tidak masuk dalam wilayah YIA, namun untuk membangun budaya keamanan, pihaknya dirasa perlu bekerja sama dengan semua pihak.

Team Leader ACI sekaligus Head of Security and Emergency Planning Brisbane Airport Corporation, Brisbane Australia, Gary Bowden menyarankan agar komite di Bandara YIA perlu berkomitmen untuk menjamin keamanan. ASC juga dituntut untuk melakukan assessment secara rutin untuk memantau potensi setiap gangguan keamanan.

Ia mendorong, agar semua pihak bisa bersinergi, bahkan memberi masukan pada setiap langkah penjagaan keamanan. "Dari militer, kepolisian, intelejen, kalau ada ancaman di area regional boleh diangkat ke komite. Nanti kemudian diambil atau digabungkan informasi dari dalam airport dan dari struktur organisasi," jelas Gery pada Jumat.