Alm Muhammad Hadiwiyono yang Makamnya Dibongkar Ternyata Pernah Berpesan Ingin Dimakamkan di Sleman

Pengajar majelis taklim Al Khowas Muhammad Hafiun (kanan) berfoto bersama dengan salah satu anaknya di depan rumahnya yang ada di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Selasa (10/9/2019). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
11 September 2019 19:37 WIB Bhekti Suryani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Makam almarhum Muhammad Hadiwiyono di kompleks Majelis Taklim Al Khowas Dusun Sambisari, Purwomartani, Kalasan, Sleman terpaksa dibongkar atas desakan ormas Front Jihad Islam (FJI) pada Minggu (8/9/2019) lalu.

Pembongkaran makam dan pemindahan jasad dari liang lahat itu menuai kontroversi, karena otoritas Majelis Taklim Al Khowas mengklaim tempat pemakaman almarhum sudah seizin keluarganya yakni ibu dan istrinya.

Pengajar di Majelis Taklim Al Khowas, Muhammad Hafiun mengungkapkan sebelum pihaknya memakamkan Hadiwiyono di kompleks majelis taklim, pihaknya sudah mendapat izin dari ibu almarhum.

"Keponakan almarhum bernama Mas Nur menghubungi Ibunda dari almarhum, dan berdasarkan wasiat almarhum yang disampaikan ke ibunya bahwasanya jika Yono meninggal dunia ia ingin dimakamkan di kompleks majelis taklim Al Khowas, akhirnya ibu, istri, dan anaknya yang ada di Jember berangkat ke Jogja," kata Muhammad Hafiun kepada Harianjogja.com, Selasa (10/9/2019).

Namun pada Minggu (8/9/2019) atau baru 16 hari jenasah dimakamkan, anak almarhum yang disebut bernama Ades yang tinggal di Jogja datang bersama rombongan ormas FJI, mendesak agar makam dibongkar dan jasad dipindahkan dari kompleks tersebut.

Muhammad Hadiwiyono belakangan diketahui dekat dengan budayawan Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Menurut sumber dari kalangan Majelis Taklim Al Khowas, almarhum bahkan disebut sebagai pionir pengajian kondang Kiai Kanjeng yang dimotori Cak Nun.

Budayawan kondang itu bahkan menuliskan kenangannya tentang almarhum di situs Caknun.com berjudul Anakku Yono, Sarang Angin Burdah.

Dalam tulisannya yang terbit 22 Agustus lalu atau sebelum ormas FJI datang ke Al Khowas, Cak Nun membenarkan keinginan almarhum yang ingin dimakamkan di kompleks majelis taklim tersebut di Sleman.

"Sudah sejak dulu memang Yono rasan-rasan ia ingin dimakamkan di tanah kecil sebelah imaman Masjid itu. Ternyata bukan hanya keinginan, tapi suatu rancangan yang seksama. Detik nyawanya diserahkan ke genggaman Malaikat Izroil pada momentum yang sangat indah namun terlalu mengejutkan. Yono ternyata menguasai Ilmu Maqamat," kata Cak Nun seperti dikutip Harianjogja.com, dari tulisannya, Rabu (11/9/2019).

"Di tengah bulatan dunia, di tengah hamparan Nusantara, ia memilih satu koordinat, di tengah lingkungan kecil yang penuh kebersahajaan, penuh pepohonan dan kembang-kembang – suatu petak tanah yang sangat teduh dan nyaman, yang seakan-akan di situlah dulu firman Allah itu ditanazzulkan: “Ya ayyatuhan-nafsul muthmainnah, irji’i ila Robbiki radliyatan mardliyah, wadkhuli fi ‘ibadi wadkhuli jannati….” kata dia.