Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Komunitas Legendaris Alumni Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) DIY saat memberikan bantuan air bersih bagi warga Dusun Gatak I, Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Rabu (11/9/2019)./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kekeringan sebagai dampak musim kemarau benar-benar dirasakan oleh warga Gatak I, Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari. Meski ada instalasi PDAM, keberadannya tidak bisa diandalkan karena alirannya sering macet. Guna memenuhi kebutuhan air, warga terpaksa membeli air dari pedagang swasta seharga Rp130.000 per tangki.
Kepala Dusun Gatak I, Edi Rusmanto, mengatakan di musim kemarau warga di wilayahnya benar-benar krisis air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan, warga terpaksa membeli dari truk tangki pengangkut air. “Terpaksa beli karena air dari PDAM tidak bisa mencukupi,” kata Edi kepada wartawan, Rabu (11/9/2019).
Dia mencontohkan, selama musim kemarau keluarganya sudah membeli air sebanyak 18 tangki dengan harga Rp130.000 per tangki. “Satu tangki paling hanya bertahan dua pekan dan setelah habis harus beli lagi,” katanya.
Dijelaskan Edi, di wilayahnya sudah ada instalasi PDAM. Meski demikian, instalasi tidak tersambung ke rumah-rumah karena di Dusun Gatak I hanya ada empat sambungan rumah yang digunakan untuk 101 kepala keluarga. “Sambungannya tidak satu rumah ke rumah lain, tapi hanya ada empat titik dan dari sambungan itu disalurkan ke rumah warga secara bergantian. Untuk pemakaian per satu kubiknya warga dikenakan biaya Rp8.000,” tuturnya.
Hanya, kata Edi, pasokan air dari PDAM sering macet sehingga warga terpaksa membeli. “Kalau mengadalkan aliran PDAM jelas tidak bisa karena alirannya sering macet,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan oleh Kasino, warga Dusun Gatak I. Menurut dia, aliran air PDAM mengalir hanya menggunakan sistem gravitasi dari bak penampungan yang berada di Dusun Mendang, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari. Hal inilah yang membuat aliran jadi kurang lancar karena sangat bergantung dengan tingkat isian air di bak penampungan. “Kalau bak penuh air bisa mengalir, tapi kalau sudah berkurang, maka aliran tidak sampai ke Dusun Gatak I,” katanya.
Pembina Komunitas Legendaris Alumni Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) DIY, KGPH Hadiwinoto, mengatakan jajarannya berinisiatif memberikan bantuan air bersih kepada warga Gunungkidul yang mengalami krisis. Total bantuan yang diberikan sebanyak 30 tangki, salah satunya disalurkan ke Dusun Gatak I, Desa Ngestirejo. “Selain di Ngestirejo, bantuan juga diberikan di Kecamatan Gedangsari, Paliyan dan Saptosari. Bantuan ini tidak ada muatan politis karena murni untuk berbagi dengan sesama,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Kilang Jazan Saudi Aramco diserang Houthi menggunakan drone. Fasilitas ini berkapasitas 400.000 barel per hari dan berada di pesisir Laut Merah.
Kopi Sapuangin Klaten kembali menggeliat. Permintaan mencapai 10 ton, tetapi petani baru mampu memenuhi kurang dari 10 persen.
Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% pada triwulan II 2026. Pemerintah menyebut pertumbuhan makin berkualitas karena kemiskinan dan pengangguran turun.
Polres Wonogiri menangkap pemuda 18 tahun yang diduga melakukan kekerasan seksual dan memeras korban dengan ancaman penyebaran rekaman.
Sekolah Rakyat dinilai tetap dibutuhkan meski jumlah anak menyusut. Pemerintah perlu menyesuaikan kebijakan pendidikan dengan perubahan demografi.