Kepala Sekolah dan Profesor Dikerahkan untuk Mengajar Siswa

Kegiatan pembelajaran oleh fasilitator dari Tanoto Foundation di SMPN 1 Kota Jogja, Jumat (13/9/2019). - Ist/Tanoto Foundation.
14 September 2019 21:37 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sebanyak 180 fasilitator nasional Tanoto Foundation mengajar di sejumlah sekolah SD dan SMP di Kota Jogja pada Jumat (13/9/2019). Mereka terdiri atas, guru, kepala sekolah hingga dosen yang berkualifikasi profesor.

Fasilitator tersebut berasal dari sekolah dan dosen di Lembaga Pendidik Tenaga Kependidikan (LPTK) mitra, tergabung dalam Program Pintar (Pengembangan Inovasi untuk Kualitas Pembelajaran) yang berfokus pada  kekhasan karakter mata pelajaran dan bertujuan untuk menghasilkan generasi penulis dan penemu.

Wakil Direktur Program Pintar Tanoto Foundation, M. Ari Widowati menjelaskan, sebanyak 180 fasilitator mengembangkan pembelajaran berfokus pada generasi penulis dan penemu melalui modul kedua. Pada modul pertama pihaknya fokus pada kemampuan metodologi dalam pembelajaran. “Melalui program ini kami mendorong supaya banyak produk pembelajaran yang mengarah pada karya tulis dan penemu sesuai dengan karakter mata pelajarannya,” terangnya dalam rilisnya, Jumat (14/9/2019).

Ari menambahkan, para peserta sebelumnya telah diberikan sejumlah materi melalui pelatihan. Kemudian pada Jumat (13/9/2019) mengajar di SMPN 1 Kota Jogja, SDN Giwangan, SDN Golo dan SDN Pujokusuman. Dari 180 fasilitator berasal dari kalangan guru, kepala sekolah, pengawas hingga dosen yang berkualifikasi profesor. Setiap rombongan belajar di sekolah sasaran diampu antara empat hingga lima fasilitator.

“Melalui mengajar secara tim ini bisa saling mendapatkan pengalaman, seperti dosen bisa merasakan langsung bagaimana mengajar siswa. Mereka akan menemukan hal yang berbeda dengan ketika menghadapi mahasiswa. Di sini fasilitatornya mulai dari guru, kepala sekolah, pengawas sampai dosen berkualifikasi profesor,” ucapnya.

Ari mengatakan pihaknya sengaja merekrut fasilitator dari semua kalangan karena merupakan satu rantai yang bisa bekerja sama untuk meningkatkan kualitas pendidikan. “Kenapa ada fasilitator kepala sekolah? Agar kepala sekolah juga tahu ketika guru akan berkreasi dalam pembelajaran itu butuh dukungan dia. Begitu juga dengan dosen, bagaimana bisa menghasilkan calon-calon guru yang berkualitas,” katanya.

Kepala Pelatihan Sekolah dan Guru Program Pintar Tanoto Foundation Ujang Sukandi menambahkan saat ini pihaknya telah menjangkau 1.465 sekolah dan madrasah, 9.647 kepala sekolah, guru, pengawas, dan komite sekolah dan telah memberi manfaat untuk 398.000 siswa. Melalui modul kedua ini akan dilatihkan kepada 448 fasilitator daerah yang tersebar di lima provinsi, yaitu Sumatera Utara, Riau, Jambi, Jawa Tengah dan Kalimantan Timur. 

Dalam modul kedua tersebut, guru dilatih mengajar yang sesuai kekhasan karakter mata pelajaran. Ujang mencontohkan, dalam pembelajaran matematika yang berciri melatihkan siswa keterampilan matematika seperti penalaran, pembuktian, representasi, koneksi, komunikasi dan proses mulai dari penyelidikan, penemuan, dan pemecahan masalah.

"Jadi dalam belajar matematika misalnya, siswa  tidak hanya diberikan rumus, tetapi kami mendorong dan memfasilitasi untuk menemukan rumus. Harapan kami tercipta pembelajaran yang mengembangkan karakter mapel, bisa mengembangkan potensi anak, rasa ingin tahunya tinggi, mereka jadi kreatif,” ucapnya.

Dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Woro Sri Hastuti menyatakan, ketika siswa belajar tentang nateri perpindahan panas, guru tidak cukup hanya menjelaskan secara teori dan menghitung rumus. Namun harus memfasilitasi Siswa untuk membuat alat sederhana penahan panas. Siswa bisa diberi tugas membuat botol yang bisa membuat air panas lebih terjaga panasnya.

Sehingga mereka bereksprimen membuat wadah penahan panas dari berbagai bahan seperti alumunium foil, koran bekas, kain bekas, atau kardus bekas, untuk menemukan bahan yang paling bagus menjaga air tetap panas. “Mereka akan belajar penerapan konsep perpindahan panas dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya dosen yang juga tim penyusun modul kedua ini.