Gelombang Tinggi, Nelayan Kulonprogo Terpaksa Tinggalkan Alat Tangkap Ikan di Tengah Laut

Nelayan di Pantai Congot, Kecamatan Temon sedang menyiapkan alat tangkap berupa jaring pada Senin (16/9/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
17 September 2019 03:37 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Nelayan di Pantai Congot, Kecamatan Temon, Kulonprogo akhirnya bisa melaut setelah hampir tiga bulan tidak bisa bekerja sama sekali. Namun, setelah sepekan bisa kembali melaut, gelombang tinggi muncul lagi. Alat tangkap pun tidak bisa diambil dan ditinggalkan saja di laut.

Salah satu nelayan yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Bogowonto Pantai Congot, Suroto mengaku sempat senang, sudah sepekan ia bisa menangkap kembali ikan di laut. "Kemarin itu dapat ikan tenggiri, bawal, udang bahkan lobster," ujar pria berusia 44 tahun itu pada wartawan, Senin (16/9/2019).

Harga ikan pun menguntungkan. Meskipun tidak banyak didapatkan, namun menurut Suroto, dari tenggiri yang ditangkapnya, per kilogram dihargai Rp80.000. Satu ekor tenggiri saja beratnya bisa sampai 12 kilogram.

"Satu kali melaut bisa dapat sampai Rp3 juta," ujar Suroto. Selama sepekan kemarin, Suroto sempat lima kali melaut.

Namun, karena sejak kemarin Minggu (15/9/2019), gelombang tinggi lagi, ia terpaksa menghentikan aktivitas melautnya. Tinggi gelombang sampai sekitar enam meter. Bahkan, alat tangkap yang sedianya akan diambil kemarin Minggu, tidak jadi ia ambil dan ditinggalkan saja di laut.

"Sabtu (14/9/2019) alat tangkap dipasang, tadinya mau ngambil kemarin (Minggu), tapi tidak berani, gelombang tinggi. Jelas rugi, alat tidak bisa diambil. Hanyut terbawa gelombang, jauh, syukur kalau masih ada," ungkapnya. Ia memperkirakan, kalaupun alat tangkapnya masih ada, ikan yang didapatkannya pasti busuk.

Menurutnya, saat ini nelayan selalu memantau potensi gelombang berdasarkan informasi dari berbagai pihak termasuk Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Diperkirakan, gelombang akan kembali rendah di Kamis (19/9/2019). Setelah kembali rendah, ia langsung mulai melaut kembali.

Nelayan lainnya, Teguh Winardi mengaku ia pun terpaksa meninggalkan alat tangkapnya di laut karena gelombang tinggi. Setelah alat tangkap ditinggal, kini ia dan nelayan lainnya menyiapkan alat tangkap baru. "Buat jaga-jaga, kalau nanti (alat tangkap) tidak ketemu," ujarnya pada Senin.

Satu perangkat perlengkapan tangkapnya bisa membutuhkan modal sampai Rp2 juta. Alat tangkap yang ia dan nelayan lainnya pasang pada Sabtu lalu ada enam jumlahnya. Dari enam yang dipasang, ia menuturkan, bisa sampai dapat kuintalan ikan. Sementara modal bensin dan akomodasi lainnya sekali jalan bisa sampai Rp150.000.

Gelombang tinggi Pantai Selatan sudah terjadi sejak Mei lalu. Nelayan bahkan terpaksa tidak melaut sampai sekitar tiga bulan. Ketika tidak melaut, nelayan di Pantai Congot biasa mencari sampingan. Ada yang bertani, menjadi buruh, sampai mengandalkan jasa perahu wisata.