Kabut Asap Ganggu Penerbangan di YIA

Sebuah pesawat take-off dari landasan pacu Bandara Polonia yang diselimuti kabut asap di Medan, Sumatra Utara, Selasa (15/02). Bandara tersebut terpaksa menyalakan lampu di sepanjang landasan pada siang hari karena kabut asap yang terjadi akibat kebakaran hutan di Riau. - Bisnis/Andi Rambe
18 September 2019 01:17 WIB Fahmi Ahmad Burhan Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Kabut asap di Kalimantan membuat dua rute penerbangan di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) terdampak. Ada yang dibatalkan, ada juga yang dialihkan.

Airport Duty Manager Bandara YIA, Budi Wiyono mengatakan, di YIA terdapat dua rute penerbangan baik menuju Kalimantan maupun dari Kalimantan. "Ada Palangkaraya dan Samarinda," ujarnya pada Selasa (17/9/2019).

Ia mengatakan, keduanya terdampak adanya kabut asap di Kalimantan dan membuat feasibility untuk landing di kedua rute itu berada di bawah minimal.
"Kalau di Samarinda feasibility sampai 500 meter, jadi tidak memungkinkan untuk landing. Sementara Palangkaraya 800 meter," kata Budi.

Sejak Minggu (15/9/2019) penerbangan baik dari Palangkaraya atau menuju Palangkaraya menggunakan Batik Air dibatalkan dan sudah mulai dibuka lagi Selasa (17/9/2019). Total, ada dua penerbangan pada Minggu, dan dua penerbangan lainnya sehari setelahnya yang dibatalkan.

Sementara untuk rute penerbangan dari maupun menuju Samarinda dialihkan ke Balikpapan. Ada dua penerbangan pada Senin (16/9/2019) yang dialihkan ke Balikpapan menggunakan Batik Air. Pemindahan ke Balikpapan masih berlangsung sampai saat ini.

"Penumpang sudah tahu itu kejadian alam, menerima saja karena bukan kesalahan dari maskapai atau Angkasa Pura, itu murni faktor alam. Jumlah penumpang yang dialihkan hari ini mencapai 80 orang," ungkap Budi.

Pelaksana Tugas Sementara (PTS) General Manager Bandara YIA, Agus Pandu Purnama mengatakan, tidak hanya Bandara YIA saja yang terkana dampak kabut asap di Kalimantan akibat kebakaran hutan dan lahan, tapi juga Bandara Adisutjipto dan hampir semua bandara di Indonesia.

"Dampaknya kerugian, pengguna jasa tidak bisa dilayani tepat waktu atau juga dipindah ke bandara lain," ungkapnya.