Sejarah Lokal di 14 Kecamatan Se-Jogja Dipentaskan

Warga Kecamatan Wirobrajan, Kota Jogja saat tampil dalam Lomba Fragmen Sejarah di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta, Rabu (18/9/2019). - Dyah Febriyani
19 September 2019 14:47 WIB Dyah Febriyani Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sejarah lokal yang berkembang di 14 kecamatan se-Kota Jogja ditampilkan dalam bentuk pergelaran teater. Dalam pergelaran bertajuk Lomba Fragmen Sejarah yang digelar di Auditorium IFI-LIP Yogyakarta selama tiga hari, sejak Rabu (18/9/2019) hingga Jumat (20/9/2019) tersebut, setiap kecamatan di Jogja menampilkan fragmen sejarah yang ada di wilayah mereka masing-masing.

Kepala Seksi Sejarah Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Fitria Dyah Anggraeni mengatakan Lomba Fragmen Sejarah diselenggarakan dalam rangka melestarikan serta mengembangkan sejarah, khususnya sejarah lokal yang ada di Kota Jogja. Tidak jarang warga malah tidak tahu sejarah tempat yang mereka tinggali sendiri. Makanya perlu adanya dorongan untuk warga agar dapat mengetahui sejarah, salah satunya lewat teater ini,” ucap dia saat ditemui di sela-sela acara, Rabu.

Pementasan teater dipilih sebagai media untuk mengenal sejarah, imbuh dia, karena teater dinilai paling mudah diterima oleh masyarakat, terlebih anak muda. Melalui media seni dan menulis, sejarah dapat dipelajari dengan cara yang tidak membosankan.

Lewat fragmen teater, imbuh Anggi, sapaan akrab Fitria Dyah Anggraeni, peserta mau tidak mau harus mengeksplorasi sejarah yang ada di tempat tinggalnya. Dengan begitu, referensi dan daya literasi mereka pun baka ikut digembleng. “Dalam Lomba Fragmen Sejarah, warga membuat sebuah naskah skenario, kemudian mereka tampilkan dalam bentuk teater,” ucap Anggi.

Proses pembuatan naskah itu, kata dia, dilakukan warga secara bergotong royong melalui riset kecil-kecilan. Sebagai pancingan awal, Disbud Kota Jogja memberikan topik awal kepada warga untuk dikembangkan. “Contohnya, Kecamatan Tegalrejo identik dengan Diponegoro makanya mereka bikin cerita tentang Diponegoro,” kata Anggi.

Selain itu, Disbud Kota Jogja sebelumnya telah menggelar lokakarya tentang pementasan dan keaktoran. “Dari lokakarya itu, warga bisa membuat naskah sekaligus mementaskannya,” ucap dia.