Yogyakarta International Airport Dinilai Belum Ramah Bagi Penyandang Disabilitas

Komunitas difabel meninjau fasilitas Yogyakarta International Airport pada Jumat (11/10/2019). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
12 Oktober 2019 04:17 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Bandara Internasional Yogyakarta atau YIA menjadi perhatian komunitas disabilitas. Sebagai fasilitas publik bertaraf internasional, YIA diharapkan mampu memiliki fasilitas yang baik dalam memberdayakan difabel.

Dalam kesempatan YIA Caring Day pada Jumat (11/10/2019) pagi, Indonesia Caring meninjau beberapa fasilitas bandara untuk disesuaikan dengan kebutuhan difabel. Adapun Indonesia Caring terdiri dari UCP (United Cerebral Palsy) Roda untuk Kemanusiaan, Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia), Pusat Rehabilitasi YAKKUM, serta Sigab (Sasana Inklusi & Gerakan Advokasi Difabel).

Setelah ditinjau, ada beberapa hal yang menjadi sorotan komunitas difabel yang belum sesuai dengan kebutuhan mereka. Peninjauan pertama dari lokasi parkir kendaraan saja sudah menghasilkan beberapa catatan untuk pihak bandara. "Bagi kami yang sering menggunakan motor roda tiga, parkiran motor itu belum bisa memenuhi kebutuhan kami," kata Sri Lestari dari UCP Roda untuk Kemanusiaan.

Sri merupakan difabel cerebral palsy, namun ia sudah terbiasa mengendarai kendaraan bermotor roda tiga seorang diri. "Satu motor roda saya itu bisa memakan tempat dua sampai tiga motor biasa. Jadi ke depannya mungkin perlu disediakan area tersendiri yang diberi tanda atau gambar bagi difabel," kata dia.

Jarak dari area parkir motor hingga pintu masuk pun dianggap terlalu jauh. "Untuk teman-teman difabel yang menggunakan tongkat, itu akan melelahkan. Mereka perlu rehat kira-kira setiap 15 meter sekali, jadi mungkin bisa dipasangi tempat duduk untuk istirahat," kata Bahrul Fuad, aktivis difabel lain.

Ram yang sudah ada di YIA juga tergolong belum ramah disabilitas. Jalur ini dirasa Sri memiliki kemiringan terlalu curam dan keramiknya licin. "Perlu dipasang pegangan juga untuk teman-teman yang pakai tongkat," ujar dia. Terlebih, jalur ram saat ini juga belum dilengkapi dengan guiding block bagi difabel tunanetra.

Difabel yang pernah mencalonkan diri dalam pemilihan legislatif, Anggiasari Puji Aryati menekankan bahwa rekomendasi yang komunitasnya berikan sudah sesuai dengan Permen PUPR No. 14/PRT/M/2017 tentang Persyaratan Kemudahan Bangunan Gedung. Ia juga mengapresiasi kesempatan ini sehingga suara komunitas difabel bisa lebih didengar.

Rekomendasi lain yang dirinya berikan berkaitan dengan sensor pintu masuk, fasilitas ATM, loket check-in, dan toilet difabel yang dirasanya masih terlalu tinggi untuk dirinya yang memiliki disabilitas fisik. "Fasilitas difabel harus dipahami semua orang. Jangan sampai ada pelanggaran hak," kata Anggia.

Senada dengan Anggia, Bahrul Fuad menambahkan ke depannya jika fasilitas fisik sudah ditata, perlu edukasi lebih lanjut ke publik dan pengguna. "Jangan sampe ada priority seat, tapi sudah dipakai yang bukan prioritas," kata dia.

Menerima kunjungan ini, General Manager YIA, A. Pandu Purnama menganggap saran yang disampaikan bisa menjadi bahan pembelajaran ke depannya.

"Kami terima saran-saran yang ada, karena kami memang belum memahami kebutuhan disabilitas. Tapi, kami juga mengimbau destinasi wisata di Jogja juga punya amenity yang sama dengan kami terkait kebutuhan disabilitas," kata Pandu. Maskapai penerbangan juga sudah diajaknya untuk lebih ramah difabel.

Koordinator Indonesia Caring, Meyra Marianti mengungkapkan kesempatan ini ia apresiasi dengan baik. "Dengan adanya YIA Caring Day ini kami berharap pihak bandara bisa memahami bahwa ragam disabilitas itu sangat banyak dan kami bisa ajukan rekomendasi-rekomendasi untuk membuat teman-teman difabel bisa mandiri. Kami akan kawal terus pembangunan YIA sampai selesai," kata Meyra.